Monday, December 26, 2022
Kepada Seseorang Yang Ditakdirkan Untukku
Sunday, July 10, 2022
Kekasihku, Senja
Di jalan yang aku tahu bisa ku lalui meski tanpamu itu, aku berharap segala sesuatunya membaik. Luka yang terlanjur ada, sembuh dengan seiringnya waktu. Bukan hanya untukku. Tapi juga untukmu dan juga untuknya.
Wednesday, January 12, 2022
Ketika Kita Bertemu, Lagi
Ketika
Kita Bertemu, Lagi
Aku : “Setelah aku mengingat dan
mengetahui kalau ini bukan pertemuan pertama kita di kehidupan ini, aku jadi
berpikir, kok kamu ngga bosen sih ketemu aku lagi aku lagi?”
Kamu : “Ya kamu bosen? Ngga kan? Aku juga. Aku juga ngerasa aneh, waktu pertama
kali kita ketemu itu, aku udah ngerasa familiar banget sama kamu. Aku ngerasa
kayak udah pernah ketemu sama kamu, tapi aku ngga tahu dimana. Bahkan sebelum
ketemu kamu aja, waktu denger nama kamu dari si Bos, setelahnya aku nyari tahu
nama kamu di Facebook, di Google buat tahu kamu orangnya yang mana, entah
penasaran banget sama kamu. Malah pas ketemu kamu makin ngerasa familiar
banget, padahal aku yakin belum pernah ketemu sama kamu. Kamu tahu kan aku
sering merhatiin kamu, merhatiin anak-anak lain yang ngobrol sama kamu
merhatiin gimana kamu ngerespon mereka. Aku bahkan masih inget pertama kali
kita salaman buat kenalan, ada sepersekian detik kamu natap aku dalem dengan
ekspresi datar tapi penuh arti.”
Aku : “Aku ngga ngerasa bosen sama
kamu sih, sampe saat ini. Aku malah ngga inget yang kita salaman pertama kali
itu. Soalnya aku lagi buru-buru ngurusin kerjaan. Tapi emang pertama kali kita
ketemu aku ngerasa familiar juga sama kamu, bahkan ada semacam rasa kecewa padahal
biasanya untuk hal itu aku bodoamat. Yang aku inget malah sempet ngebatin ‘yah
ketemu lagi nih sama orang ini’, yang
aku malah ngga paham kenapa ngebatin itu. Seingetku kesannya tuh bukan kesan
yang baik.”
Kamu : “Iya emang ekspresi kamu itu datar waktu itu tapi tatapan mata kamu
dalem banget meskipun cuma sepersekian detik aja. Emang dari pertama yang
ngerasa familiar terus langsung tertarik bahkan ya, jatuh cinta sama kamu. Ada
semacam keyakinan kalau kamu itu mau sama aku. Dulu aku pernah cerita juga kan
kalau aku ngerasa ada hilang yang aku ngga tahu apa, sering ngerasa gitu bahkan
lebih sering ngerasa pas tahun 2014-2016 sebelum ketemu kamu, makanya aku
sering ke sawah atau ke pinggir sungai buat ngelamun mikirin itu perasaan apa
dan kenapa. Semenjak ada kamu, kenal kamu, dan semakin deket kamu, aku yakin
banget kalau kamu sesuatu yang hilang itu. Padahal dulu aku belum tahu ada
kamu. Semenjak ada kamu ya, perasaan itu udah ngga ada. Semakin yakin lagi pada
saat kejadian kemarin.”
Aku : “Tapi memang karena ini bukan pertama kalinya kita bertemu di suatu masa kehidupan, jadinya ya terasa familiar. Karena jiwa kita yang saling mengenali lebih dulu sedangkan tubuh fisik kita ngga, terbatas dengan ego, logika dan pengetahuan-pengetahuan yang ada. Kita saling jatuh cinta lagi, nyaman lagi, dan ketika terluka rasanya juga jadi lebih sakit. Jadi ada pertanyaan, 'oh gini lagi? ngulang lagi?', gitu sih."
*
Pertemuan kembali dengan koneksi kehidupan masa lalu, memang terasa aneh pada awalnya karena tidak terbiasa dan tidak mengetahui alasan kenapa bisa terjadi. Tapi setelah pengetahuan itu terbuka, dan mengetahui segala sesuatu yang terjadi sudah dirancang sedemikian rupa, bahkan sebelum turun ke bumi dan kembali bertemu lagi ditempat dan waktu yang sama. Perjalanan yang membawa banyak pelajaran sekaligus memutus suatu siklus karma, membayar hutang karma dan dharma. Cinta yang murni tidak terkontaminasi dengan ego, ambisi, kasih yang tak bersyarat. Cinta yang mengalir begitu saja. Ikhlas di dalamnya. Aku mencintainya dan diapun mencintaiku. Tapi jalan tidak melulu selalu bersama. Meskipun selalu ada doa terbersit untuk bisa kembali bersama, seperti pada masa kehidupan-kehidupan lalu yang sudah pernah kami jalani bersama. Biarkan berjalan dengan semestinya. Apapun keadannya ke depannya.
Biarlah yang seharusnya datang untuk datang, biarlah yang seharusnya pergi untuk pergi. Karena pertemuan akan selalu berakhir dengan perpisahan. Pada akhirnya, kita hanyalah berakhir dengan diri kita sendiri.
Wednesday, January 5, 2022
Satu, Kau-Aku
Wednesday, February 3, 2021
Tudung Hitam
Hujan rintik-rintik
Deras kemudian
Angin kencang di luar
Aku gigil
Lampu rumah mati
Sembunyi aku dibalik selimut hangat
Samar-samar ku dengar petir sambar-menyambar
Duar!
Menggelegar memekakkan telinga
Aku melihat sosok jubah hitam datang mendekat
ahh, sudah waktunya
Ia berdiri di sudut ruangan kamar yang gelap
Sayup ku dengar ia berbisik
belum waktunya
Tuesday, November 5, 2019
Ijinkan
Aku tau, kau ialah sesuatu yang hanya dapat dibayangkan dalam benak, cenderung mustahil, bahkan. Tidak akan ada yang mengucapkan selamat karena jatuh hati padamu.
Hanya bencana, katanya.
Tapi ijinkan aku mencintaimu dengan caraku, yang dengan heningnya mendoakan hal-hal baik terjadi dalam hidupmu, mengisyaratkan pagi sebagai awal mula rindu itu berasal. Sebab karenanya usaha yang kau jalani jadi terasa menyenangkan.
Ijinkan aku mencintaimu dengan caraku, yang dengan bisingnya deru kendaraan juga debu yang berterbangan ke sana kemari, menjadi pertandaku bahwa siang memulai usahaku tuk memenuhi kata temu yang hampir semu.
yang di tengah teriknya siang menyengat, dengan bisingnya orang-orang silih berganti berdatangan dengan macam-macam permintaan sebagai pertanda usahamu dalam mensejahterakan hidup yang fana.
Ijinkan aku mencintaimu dengan caraku, yang dengan datangnya purnama aku berdoa menitipkan salam kerinduan dari lubuk hati terdalam, membisikan segala doa, segala mantra berharap malam menentramkan hati yang gundah gulana. Sebab hidup selalu mengejar sampai ke gorong-gorong tergelap hati. Mantra yang dapat menenangkan hati dari pahitnya kenyataan, segala yang indah fana, segala yang indah nyata.
Thursday, October 24, 2019
Pada Suatu Hari
Katanya pada suatu hari perasaan akan tumbuh begitu saja
Berkembang seperti adonan kue yang awalnya hanya seonggok adonan, namun lama-lama mengembang menjadi makanan manis, enak ketika dimakan
Katanya pada suatu hari rindu akan mekar setelah bunganya menguncup
Mekar indah seperti mawar mengeluarkan wangi dan warna sangat cantik, namun ketika disentuh terasa perih karena durinya menusuk jari jemari
Padahal rindu harusnya bertemu, padahal cinta harusnya berbalas
Lalu mengapa Laila-Majnun mati dengan perasaan begitu menyayat, mengapa Sinta harus mati ditelan bumi sedang Rahwana juga mati kalah dilawan oleh Rama, mengapa Tunggul Ametung harus ditusuk oleh pengawal pribadinya sendiri dan Ken Dedes beserta Tumapel direbut oleh titisan Dewa, mengapa Dewa saja begitu keji seperti Rama dan Arok, mengapa pula takdir membawa engkau dalam hidupku?
Tidak ada jawaban yang bisa diberikan selain mencarinya, bukan?
Your Twinflame
Mungkin, pada saatnya nanti ketika kau mengetahui bahwa jalanku bukan lagi ke arahmu, kau akan menangis dengan kencang. Memaki jalan hidupmu...
-
Hujan rintik-rintik Deras kemudian Angin kencang di luar Aku gigil Lampu rumah mati Sembunyi aku dibalik selimut hangat Samar-samar ku deng...
-
Aku menulis ini setelah melewati hari dengan bertemu dengan sahabat-sahabatku. Kami berdiskusi -lebih tepatnya diberikan nasihat, dan konsul...
-
Mungkin, pada saatnya nanti ketika kau mengetahui bahwa jalanku bukan lagi ke arahmu, kau akan menangis dengan kencang. Memaki jalan hidupmu...