Wednesday, March 6, 2019
Kata Rahwana
Mari kembali kepada waktu yang telah berlalu
Mengenai sebait puisi yang aku ciptakan kala senja
Untuk mengenang rindu
Untuk mengabadikan segala pilu
Seperti biasa, aku duduk termangu
Sambil menyeruput kopi hitam
juga mendengarkan lagu-lagu indie
Diluar hujan
Basah luruh bersamaan dengan kenangan yang kian lapuk
Aku ingat, kau dan aku pernah menerjang hujan bersama
Bertengkar kecil mengenai siapa yang seharusnya memakai mantel
akhirnya tidak ada satupun dari kau maupun aku yang memakainya
Kau kebasahan, pun aku
Hal-hal kecil seperti itu, tumbuh menjadi kenangan yang manis
Sangat manis
Sampai-sampai membuat candu
Segala yang pilu luruh
Segala yang hancur lebur
Kata Rahwana, tidak ada yang salah dari cinta
yang salah ialah status sosial,
yang salah ialah tatanan dan silsilah kehidupan
Sedang mencintai Sinta tidaklah salah
Begitupun mencintaimu
Bagiku, mencintaimu ialah hal terhebat
Mengapa pula harus ku sembunyikan?
Mengapa pula harus ku abaikan?
Mengapa pula harus ku diam-diamkan?
Tidak ada yang pilu dari mencintaimu
Selain engkau mencintai selain aku
Ya.. itu hakikatmu
Semesta hanya mengijinkan aku pada batas mencintaimu saja
Bagiku tak mengapa
Sebab
Benar pertanyaan Rahwana, "Tuhan, jika cintaku kepada Sinta terlarang, mengapa Kau bangun megah perasaanku dalam sukma?"
Telah begitu megah rasanya
Telah begitu indah rasanya
Tuesday, November 13, 2018
Mengenai Waktu
Thursday, September 20, 2018
Manusia Bumi
Tangerang, 20 September 2018
Kau dan aku hanya manusia-manusia bumi, yang dengannya ingin menikmati satu rasa yang utuh; bahagia namanya
Entah berwujud dan berwajah seperti apa
Dalam hidup kita diberikan pilihan-pilihan, termasuk dengan bahagia itu sendiri
Kau lebih bahagia mana, terjatuh atau bangkit, atau keduanya
Pilih saja satu jalan dimana kau tidak akan menemui sesal
Sebab, air mata lebih mudah jatuh karenanya
Jadi.. pejamkan mata dulu, renungkan
Apa diri menjadi manusia seutuhnya, dengan pilihan-pilihan yang Semesta berikan.
Saturday, April 28, 2018
Pernah
Aku pernah menunggu
Sambil berharap-harap cemas
Sambil berucap-ucap doa
Semoga ia baik-baik saja disana
Kemudian pada suatu hari badai datang
Memporak-porandakan
Hatiku
Menjadi berkeping-keping
Nelangsa aku
Betapa kosong dan hampa rasanya hati
Dan aku membenci saat-saat itu
Saat-saat aku menunggu, begitu lama
Sampai hancur menjadi pecahan kenangan yang biasa disebut masa lalu
*
Setiap kali malam datang,
Ku panjatkan doa-doa
Agar semesta membiarkanku bahagia
Tanpa sesal
Tanpa menoleh kembali pada masa yang menjadikan aku bukan aku yang biasa
Setiap kali malam datang,
Ku panjatkan pula syair-syair
Untuk mengenang duka, menghapus lara
Bahwasanya semesta telah membiarkanku bahagia
Dengan keberadaan yang entah sampai kapan,
Entah sampai dipersimpangan, atau rumah ditepian
Sunday, August 6, 2017
Sebab Kau
Wangi aroma laut masih menjadi teman baikku
Berisikan segala kenangan akan jejak-jejak yang kian hilang dimakan waktuKamu..
Masih menjadi diksi terindah untuk tiap-tiap syair yang aku torehkan
Sayangnya, bagimu cinta ialah dusta paling nista. Sebab kau menghilang
Sebab kau kira cintaku bukan ku jatuhkan padamu
Aku tak akan lagi percaya jika suatu hari nanti kau datang sambil mengaku mencintaiku
Saturday, October 15, 2016
Apa Lagi?
Friday, September 16, 2016
Di Batas Waktu
Your Twinflame
Mungkin, pada saatnya nanti ketika kau mengetahui bahwa jalanku bukan lagi ke arahmu, kau akan menangis dengan kencang. Memaki jalan hidupmu...
-
Hujan rintik-rintik Deras kemudian Angin kencang di luar Aku gigil Lampu rumah mati Sembunyi aku dibalik selimut hangat Samar-samar ku deng...
-
Aku menulis ini setelah melewati hari dengan bertemu dengan sahabat-sahabatku. Kami berdiskusi -lebih tepatnya diberikan nasihat, dan konsul...
-
Mungkin, pada saatnya nanti ketika kau mengetahui bahwa jalanku bukan lagi ke arahmu, kau akan menangis dengan kencang. Memaki jalan hidupmu...