Showing posts with label #Puisi #PengembaraMalam. Show all posts
Showing posts with label #Puisi #PengembaraMalam. Show all posts

Wednesday, March 6, 2019

Kata Rahwana

Sudahkah engkau menyeruput kopi hitam siang ini?
Mari kembali kepada waktu yang telah berlalu
Mengenai sebait puisi yang aku ciptakan kala senja
Untuk mengenang rindu
Untuk mengabadikan segala pilu

Seperti biasa, aku duduk termangu
Sambil menyeruput kopi hitam
juga mendengarkan lagu-lagu indie
Diluar hujan
Basah luruh bersamaan dengan kenangan yang kian lapuk

Aku ingat, kau dan aku pernah menerjang hujan bersama
Bertengkar kecil mengenai siapa yang seharusnya memakai mantel
akhirnya tidak ada satupun dari kau maupun aku yang memakainya
Kau kebasahan, pun aku

Hal-hal kecil seperti itu, tumbuh menjadi kenangan yang manis
Sangat manis
Sampai-sampai membuat candu
Segala yang pilu luruh
Segala yang hancur lebur

Kata Rahwana, tidak ada yang salah dari cinta
yang salah ialah status sosial,
yang salah ialah tatanan dan silsilah kehidupan
Sedang mencintai Sinta tidaklah salah

Begitupun mencintaimu
Bagiku, mencintaimu ialah hal terhebat
Mengapa pula harus ku sembunyikan?
Mengapa pula harus ku abaikan?
Mengapa pula harus ku diam-diamkan?
Tidak ada yang pilu dari mencintaimu
Selain engkau mencintai selain aku
Ya.. itu hakikatmu
Semesta hanya mengijinkan aku pada batas mencintaimu saja

Bagiku tak mengapa
Sebab
Benar pertanyaan Rahwana, "Tuhan, jika cintaku kepada Sinta terlarang, mengapa Kau bangun megah perasaanku dalam sukma?"
Telah begitu megah rasanya
Telah begitu indah rasanya

Tuesday, November 13, 2018

Mengenai Waktu

Pertemuanku kini bermuara pada perpisahaan. Perpisahan yang membuat rindu sering kali datang menggelitik sekaligus terdengar begitu lirih. Merindukanmu menjadi suatu kebiasaan baru yang akan ku jalani pada hari-hari berikutnya. Hari-hari dimana tidak ada lagi senyuman hangat pada setiap pertemuan. Setelah puas memandangi mata cokelatmu yang terus berbinar tiap kali melihatku, setelah lelah menggenggam erat tangan higga diri kepayahan. 

Musim dingin telah datang, sedang kau perlahan menjauh. Langkah kaki kita tidak lagi beriringan seperti musim panas lalu. Melangkah dengan santainya, sesekali diselipi candaan yang kadang tidak memiliki makna. Hanya memiliki artinya sendiri. Aku selalu menganggap itu lucu namun kau tak lupa untuk menertawakan aku yang menertawakanmu. Kita berdua tertawa, menertawakan diri kita masing-masing. Kau dengan ketidaklucuanmu, dan aku dengan menertawakan ketidaklucuanmu. Kau pasti ingat kalau aku sering kali tertipu dengan trik-trik jahilmu. Tapi kau juga pasti ingat kalau aku tidak pernah bosan untuk menertawakannya. Hal-hal sederhana itu begitu mahal. Aku baru menyadarinya setelah kau melangkah pergi.

Kini tidak lagi ku gantung tiap rindu yang datang menggerayangi malamku. Ku biarkan menguap bersama dengan doa-doa baik agar menyertai tiap langkah yang kau ambil. Langkah yang menguatkan kakimu dan juga dirimu sendiri. Setiap malam disepertiga malam atau setiap pagi tiap kali fajar datang. Cinta dan rinduku kan melebur bersamanya. Semoga kau tenang disana, semoga sampai segala harap, doa dan keinginan pada hati yang kau sembunyikan itu. Meskipun kau berlari, meskipun suatu hari nanti kau tersesat. Semoga setitik cahaya pengharapanku selalu sampai menuntunmu ke jalan yang membawamu pada kebahagiaan, ketenangan juga kedamaian. 

Meski kau mengatakan bahwa aku sama seperti kota kelahiranmu. Sama-sama membuatmu rindu. Aku bukanlah rumahmu. Panggil aku hanya sesekali setiap kau merasa rindu saja. Pundakku selalu siap menjadi sandaran, telingaku selalu sedia mendegarkan kalimat-kalimatmu mengenai hari-hari berlalu atau sekedar mendengarkan detak jantungmu dan tanganku tak pernah lekang untuk merengkuh hangatnya tubuhmu. Menularkan ketenangan yang selalu kau rindukan. Bukan lagi sekedar pengembara malam. Kau dan aku akan menjadi pengembara rindu. Mendamba-damba setiap pertemuan yang mungkin setiap ratusan purnama sekali atau bahkan ribuan purnama sekali. 

"Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja.". 
Sepenggal kalimat itu selalu mampu menjadi penenang tiap kali gundah datang. Melebihi narkotika-narkotika yang Jamal tawarkan. Melebihi obat tidur yang Mawar suguhkan. Dan aku percaya bahwa kalimat tersebut mampu membawa kita pada doa terbaik. Doa yang mampu menyegerakan diri untuk menjadi lebih baik, membawamu pada binar mata sejernih lautan. 

"Bukan kau yang salah. Bukan pula waktu. Ini adalah waktunya. Waktu yang tepat untuk membiarkan semua ini terjadi. Tidak ada kata terlambat dan juga tidak ada mengapa tidak dulu, mengapa baru sekarang. Garis ini yang seharusnya kita lewati. Waktu kita kan terus berpendar sampai detik ini dan juga detik selanjutnya."

Thursday, September 20, 2018

Manusia Bumi

Tangerang, 20 September 2018


Kau dan aku hanya manusia-manusia bumi, yang dengannya ingin menikmati satu rasa yang utuh; bahagia namanya

Entah berwujud dan berwajah seperti apa

Dalam hidup kita diberikan pilihan-pilihan, termasuk dengan bahagia itu sendiri

Kau lebih bahagia mana, terjatuh atau bangkit, atau keduanya

Pilih saja satu jalan dimana kau tidak akan menemui sesal

Sebab, air mata lebih mudah jatuh karenanya

Jadi.. pejamkan mata dulu, renungkan

Apa diri menjadi manusia seutuhnya, dengan pilihan-pilihan yang Semesta berikan.

Saturday, April 28, 2018

Pernah

Aku pernah menunggu
Sambil berharap-harap cemas
Sambil berucap-ucap doa
Semoga ia baik-baik saja disana

Kemudian pada suatu hari badai datang
Memporak-porandakan
Hatiku
Menjadi berkeping-keping

Nelangsa aku
Betapa kosong dan hampa rasanya hati
Dan aku membenci saat-saat itu
Saat-saat aku menunggu, begitu lama
Sampai hancur menjadi pecahan kenangan yang biasa disebut masa lalu

*

Setiap kali malam datang,
Ku panjatkan doa-doa
Agar semesta membiarkanku bahagia
Tanpa sesal
Tanpa menoleh kembali pada masa yang menjadikan aku bukan aku yang biasa

Setiap kali malam datang,
Ku panjatkan pula syair-syair
Untuk mengenang duka, menghapus lara
Bahwasanya semesta telah membiarkanku bahagia
Dengan keberadaan yang entah sampai kapan,
Entah sampai dipersimpangan, atau rumah ditepian

Sunday, August 6, 2017

Sebab Kau

Wangi aroma laut masih menjadi teman baikku

Berisikan segala kenangan akan jejak-jejak yang kian hilang dimakan waktu

Kamu..

Masih menjadi diksi terindah untuk tiap-tiap syair yang aku torehkan

Sayangnya, bagimu cinta ialah dusta paling nista. Sebab kau menghilang

Sebab kau kira cintaku bukan ku jatuhkan padamu

Aku tak akan lagi percaya jika suatu hari nanti kau datang sambil mengaku mencintaiku





Saturday, October 15, 2016

Apa Lagi?

Bermuara kemanakah jalanmu, Sayang?
Ke Sorgakah? 
Atau Neraka? 
Tak adakah jalan lain yang kan kau tempuh? 
Akan ku bantu sesuai dengan apa yang kau ingini 

Begitu pula dengan kejutan-kejutan yang kau lakukan 
Dengan menghantam 
Pun menghujam 

Bukan
Itu sama sekali bukan apa-apa 
Tidak terasa sakitnya 
Tidak terasa nyerinya 
Luka pun tidak 

Akulah wanita terkuat itu 
Tak sedikitpun melebur dengan luka 
Justru tumbuh dengan nelangsa 

Ha-ha-ha 

Akulah petunjuk jalan itu!
Ke Sorgakah? 
Atau ke Neraka?
Cepat katakan padaku, Sayang!

Katakan saja padaku
Apa lagi yang kau ingini? 
Selain jalan terjal tak berujung itu? 
Selama aku masih menyanggupinya 

Sebelum lukaku menyembur keluar 
Sebelum mata airku turun menjalar 
Sebelum langkahku semakin melebar 

Sebab jika itu terjadi 
Aku pun mati 
Mati 
Mati 
Mati

Friday, September 16, 2016

Di Batas Waktu



Diujung kemuning
tiada kata terucap
Hanya bening puing terserak
Sesudah sebelum
Binar bola mata menyendu
tiada bisa kau tanggalkan
Lalu setiap lirih deru angin
sepoi memanja air-air suci

Ya, aku akan pergi
Bersama anak-menganak kata rindu
Bersama buih-buih keping puzzle
milik kau dan aku
Bersama kepak-kepak genggam sendu

Lalu waktu kan menjarah antara
biru dan abu
Memenjara rasa
Memenjara asa
Memenjara kita dalam waktu
Entah pilu
Entah sendu
Entah mengabu

Kemudian tiada kata pula berayun manja 
Tanpa nada 
Irama
Pun senyum terakhirmu 

Dikemasnya segala ingatan, 
kau dan aku 


Your Twinflame

Mungkin, pada saatnya nanti ketika kau mengetahui bahwa jalanku bukan lagi ke arahmu, kau akan menangis dengan kencang. Memaki jalan hidupmu...