Friday, March 22, 2019
Purnama
Friday, December 21, 2018
Cerita Senja
'Ah, dasar jalang. Baru segitu kau sudah merengek! Dasar brengsek!'. Sahut seorang tua keladi dibalik pintu bar. Ditangan kanannya sebatang rokok kretek, ditangan kirinya dipegang whisky bekas ia pungut dari tong sampah.
Benar katanya. Baru segini saja aku sudah sekarat ingin mati saja. Lupa kalau dibawah naungan cahaya Semesta kejinggan itu ada gang-gang kehidupan penuh dengan kepolosan hidup. Hidup yang tidak hanya berwarna jingga. Sejauh waktu berlalu, aku terus saja bersimpuh tanpa menoleh ke atas juga ke bawah. Aku berada pada pusaraku saja. Lupa kalau aku bukan hidup pada diriku saja. Kalau-kalau, manusia dibumi tak hanya aku.
Jejak-jejak dalam sisa perjalanan panjang terus bergeming, dan senja menjadi persinggahan paling syahdu. Kedamaian muskil untuk didapat tanpa menenggelamkan diri pada diri. Membiarkannya menguap saja ke angakasa luas. Sakit yang bertubi-tubi mungkin hanya sejengkal cara Tuhan menyiapkan diri pada bingkisan indah, diberikan pada waktu yang tepat. Kata si Pak Tua itu aku jalang, yang brengsek pula sebab mudah mengeluh dengan sayatan yang Tuhan gariskan. Jalang yang tak tahu arah jalan pulang selain bersimpuh pada kaki bumi pertiwi, mengais-ais meminta belas kasihan. Pantas atau tidak bukanlah manusia bumi yang sepatutnya menentukan. Barangkali jalang juga mendapatkan tempat yang rindang meski bukan di Sorga. Barangkali duka hanya sebatas duka saja. Dan bahagia akan seluas jagat raya."
Thursday, September 20, 2018
Manusia Bumi
Tangerang, 20 September 2018
Kau dan aku hanya manusia-manusia bumi, yang dengannya ingin menikmati satu rasa yang utuh; bahagia namanya
Entah berwujud dan berwajah seperti apa
Dalam hidup kita diberikan pilihan-pilihan, termasuk dengan bahagia itu sendiri
Kau lebih bahagia mana, terjatuh atau bangkit, atau keduanya
Pilih saja satu jalan dimana kau tidak akan menemui sesal
Sebab, air mata lebih mudah jatuh karenanya
Jadi.. pejamkan mata dulu, renungkan
Apa diri menjadi manusia seutuhnya, dengan pilihan-pilihan yang Semesta berikan.
Monday, July 9, 2018
Temu
Aku hanya manusia bumi,
Baiknya, masuklah dulu sebentar
Sebab bumi hanya
Aku tidak ingin kau merasakan penderitaan ini
Sebab bumi akan kemarau.
Tuesday, June 12, 2018
Secuil Mimpi
Diantara mimpi mimpi itu, ada mimpi dimana aku bisa bersandar dibahumu sambil bercerita tentang gaduhnya pasar yang kudatangi sebelum setibanya kau dirumah. Sambil menggenggam tangan juga mendengarkan detak jantungmu.
Diantara mimpi mimpi itu, ada mimpi dimana aku bisa bernyanyi setiap waktu untuk sekedar menghiburmu dari hari yang sulit. Sambil mengajakmu bernyanyi dan berdansa bersama.
Sambil menyesap teh hangat, ku siap mendengarkan celotehmu, melihat kedalam bola matamu tentang sejuta perasaanmu saat itu.
Aku sudah tidak lagi menjadi warga kahyangan. Telah diusirnya aku dari sana. Maka dari itu begitu banyak mimpi yang tiba-tiba muncul ketika memikirkanmu.
Ironi, kataku.
Tiap kali memikirkan mimpi kecil yang diam-diam mulai memenuhi pikiran. Tidak bisa ku bilang tidak, sebab hati mudah terluka.
Sembari bermipi aku berdoa pada semesta, mengabulkan segala harap, mengabulkan segala doa, agar bisa terus bersamamu dalam suka dan dukaku.
Saturday, May 19, 2018
Semesta
Biarkan rindu kutitipkan pada hujan
Biarkan syahdu kasihku, kutitipkan pada nada-nada lagu ditiap musik yang kau alunkan
Agar sampai padamu segala rasa yang membuncah di dada
Agar dapat kau dengar bisikanku disana
Berharap semesta memberikan kesempatan pada dua anak manusia yang sedang jatuh cinta pun menrindu, untuk saling mencintai lagi dan lagi
Bahwasanya yang aku tahu,
Semesta hanya mengabulkan doa dari hati yang tulus, maka dari itu, sudah tuluskah engkau dalam memintaku?
Yang aku juga tahu,
Semesta akan mengembalikan hati pada kepunyaan sesungguhnya, maka dari itu, benarkah aku kepunyaan sesungguhnya?
Sunday, May 6, 2018
Lara.
Katakan aku gila,
Katakan aku biadab
Jalang yang tak tahu arah pulang
Waktu terus menyiksa batin dikedalaman saat semua terasa salah
Bahkan teriak hanya membawaku pada kehampaan
Secarik kertas itu tak berisi apapun jua
Secangkir kopi terlalu sedikit untuk kuseruput pada dinginnya malam
Tuk sejenak menyingkirkan lara
Pun pada akhirnya,
Orang-orang kan meneriaki, mencaci, mendengki
Katakan aku gila,
Katakan aku biadab
Jalang yang tak tahu arah pulang
Aku akan pulang kehadapan Bunda, sambil menangis mengais-ais
Minta dikasihani
Minta diampuni
Agar jiwaku tenang di dunia
Agar kehampaan berisi kecintaan
Pada fana
Juga nyata
Saturday, April 28, 2018
Pernah
Aku pernah menunggu
Sambil berharap-harap cemas
Sambil berucap-ucap doa
Semoga ia baik-baik saja disana
Kemudian pada suatu hari badai datang
Memporak-porandakan
Hatiku
Menjadi berkeping-keping
Nelangsa aku
Betapa kosong dan hampa rasanya hati
Dan aku membenci saat-saat itu
Saat-saat aku menunggu, begitu lama
Sampai hancur menjadi pecahan kenangan yang biasa disebut masa lalu
*
Setiap kali malam datang,
Ku panjatkan doa-doa
Agar semesta membiarkanku bahagia
Tanpa sesal
Tanpa menoleh kembali pada masa yang menjadikan aku bukan aku yang biasa
Setiap kali malam datang,
Ku panjatkan pula syair-syair
Untuk mengenang duka, menghapus lara
Bahwasanya semesta telah membiarkanku bahagia
Dengan keberadaan yang entah sampai kapan,
Entah sampai dipersimpangan, atau rumah ditepian
Sunday, April 1, 2018
Aroma Malam
Tiba disuatu malam
Jiwaku melangkah menuju bintang-bintang bertaburan
Meresapi harum aroma malam yang begitu khas
Aroma kenangan
Ku pejamkan mata, dan mengenang kembali
Masa-masa dimana cinta begitu menggairahkan
Juga begitu menyakitkan
Ku buka kedua bola mataku, dan duduk diperaduan dekat dengan cahaya rembulan
Aku bernyanyi
Menyanyikan nada-nada sendu
Kembali menghirup aroma khas malam
Suka
Duka
Bahagia
Luka
Rindu
Melebur pada irama yang ku senandungkan
Kemudian ada seseorang datang menghampiriku sambil berkata,
"Jangan bersedih, aku ada disini."
Monday, December 25, 2017
Kisah di Malam Hari
Mengenang kembali detik tiap detik yang telah terlewat.
Ada sekelebat perasaan yang mengikis ruang sendu dalam dada.
Ia memintaku menyudahi saja acara yang kulakukan sendiri itu.
Melangkah tanpa pernah menoleh.
Melangkah tanpa pernah duduk lagi dibalik jendela sambil menyesap kopi beraroma masa lalu.
Aku terus berjalan.
Ia bersimbah darah,
penuh luka.
Membasuh dukanya hingga yang tersisa hanya senyum yang merekah di wajah.
Setahuku, itu bermula pada saat aku mendengar bisikan kecil dari hati yang menyuruhku menyudahi saja duka berkepanjangan itu.
Bahwa,
Kesepian adalah jalan pulang menuju rumah di tepian.
Sunday, August 6, 2017
Sebab Kau
Wangi aroma laut masih menjadi teman baikku
Berisikan segala kenangan akan jejak-jejak yang kian hilang dimakan waktuKamu..
Masih menjadi diksi terindah untuk tiap-tiap syair yang aku torehkan
Sayangnya, bagimu cinta ialah dusta paling nista. Sebab kau menghilang
Sebab kau kira cintaku bukan ku jatuhkan padamu
Aku tak akan lagi percaya jika suatu hari nanti kau datang sambil mengaku mencintaiku
Tuesday, August 1, 2017
Mimpi
tentang manisnya cinta
juga
tentang aku
Thursday, July 20, 2017
Pendar Waktu
Tuesday, July 11, 2017
Tiga Dekade
Bahwasanya ia tidak pernah lari kemana-mana
Terus saja berjelaga dengan duka yang ada
Di malam hari aku bertanya pada rembulan
Kemanakah pujangga cinta, bulan?
Ia mengatakan
Sabarlah. Kalau bukan di matamu, mungkin di hatimu.
Lalu dengan segenap rasa
aku terus berdiam diri
Memupuk segala kenangan agar ia kan bersemi, suatu hari nanti
Mengatakan pada diriku bahwa tidak apa begini
Sebab akan datang hari aku bertemu dengan diriku sendiri
Setelah sekian lama berserah pasrah
Kehilangan arah
Pada satu dekade
Dua dekade
Tiga dekade
Aku bertemu dengan tangan yang begitu hangat
Senyum yang begitu menyenangkan
Mata yang begitu berbinar
Dan yang terpenting, aku bertemu dengan diriku sendiri
Berhadapan dengan Hitam dan Putih, sisiku yang tak pernah terlihat
Oleh kasat mata
Padahal aku tahu, dia bukan milikku
Sebab cintanya pada Lebah begitu melekat
Aku memberanikan diri
Memberikan seluruhku
Perasaan yang tidak begitu asing di hadapan
Memberikan seluruh rinduku yang tak bersarang
Aku memberanikan diri
Membelai luka
Mengobati dengan tangan-tangan basah
mata airku
Kemudian
Pada akhirnya
Setelah seribu abad aku berjalan, tanpa mengharap
Aku menemukan
Diriku dirindukan
Saturday, June 24, 2017
Gugurnya Senja
Aku melewati senja
Pada jalan yang berguguran dedauanan
Dengan aroma musim gugur
Ada perasaan-perasaan ganjil menghampiri
Menggeletik ketenangan batin yang selama ini berucap baik-baik saja
Yang katanya menolak untuk merintih, sebab hati tidak ingin sedingin musim dingin di kutub utara
Bahwasanya semesta tidak mengharap cinta padaku
Sebab akulah pengemisnya
Mengayuhkan tangan setiap malam berharap didengarNya segala doa
Semusim,
Pada musim yang dingin
Ialah patah hati menjadi penyebabnya
Segala duka yang mengikis tiap-tiap bahagia yang ada
Kalau saja genggamku tak dilepasnya
Kalau saja air mata, mata airku tak dilepasnya
Maka hatiku masih tetap utuh tak bersisa
Ia baik-baik saja, selama mata tertutup rapat
Telinga pun sama
Juga mulut yang enggan berucap
Sebab cinta ialah segala permata, hati
Namun,
Jikalau tiada bisa berdiri tegak saat padang mahsyar menggampiri, lantas kepada siapa lagi aku bersandar?
Maka maafkanlah segala dosa hati juga sikap yang terpendar, padamu
Tuesday, June 6, 2017
Menunggu ?
Tanganku tak pernah lekang menghapus air matamu
Berbahagialah
Seolah kau kan menelusuri senja di padang mahsyar
Jatuh cintalah
Bersama dengan hembusan angin yang menerpa wajahmu
Sebab ku lihat kau di perasingan
Tanpa kata
Sebab ku lihat kau di perapian
Menunggu
Ketahuilah
Aku tidak akan pernah datang lagi
Sunday, May 28, 2017
Dimana
Sunday, April 16, 2017
Rentang Waktu
Terpaku pada seorang gadis cilik,
aku namanya
Jalan berliku-liku, dan kau tersenyum
Namun tak kutemukan benang itu
Aku tak mengapa,
sebab aku bicara juga pada dedaunan, kucing liar
Mencoba memahami setiap percakapan yang terlontar
Namun kau malah membawaku hanyut pada labirin yang tak terpecahkan
Kau pasti tidak tahu kalau aku mengamuk
Lalu pergi begitu saja
Patah hati ialah duka paling nestapa bagi seorang pecinta sepertiku
Kehilangan seperuh jiwa seperti dihujam begitu banyak tombak
tak tertahankan perihnya
Kemudian kau masuk kembali mencoba berbagai macam peruntungan
Kalau saja aku bisa menjadi bagian dari hidup panjangmu
Kalau saja aku bisa menggenapkanmu
Kau pasti tidak tahu,
Racun hanya membutuhkan penawar
Aku bisa melihatnya hanya dari binar matamu
Bahwa tidak ada satupun penawar yang kau punya
Penawar itu ialah cinta
Ilmu Pengetahuan telah memenuhi dirimu
Aku bisa melihatnya
Lantas kau ceritakan misteri-misteri mengenai organisasi dunia yang begitu keren-menurutmu
Namun buatku hal itu bukan sesuatu yang patut dibanggakan
Karena teori tersebut, bisa menghancurkan kehidupan yang Tuhan Ciptakan
Akhirnya kita berselisih paham,
Untuk pertama kalinya aku bertengkar soal pandangan yang berbeda
Setelah kekacauan terakhir, aku tidak lagi mendapat kabar
Tidak juga berpikir mengenai kabar baik atau burukmu
Masih kutemukan pesan-pesan di salah satu akun sosial mediaku bahwa kau meminta maaf dan ingin memulai lagi pertemanan
Saking lelahnya, akhirnya kau hanya menawarkan untuk datang ke acara yang kau adakan bersama teman organisasimu
Lagi-lagi, aku tidak menggubris
Bunga yang mekar pada akhirnya akan layu juga
Begitu juga amarah
Muncul pesan lagi di salah satu akun sosal mediaku
Kau rupanya
Aku pun menyerah untuk marah
Untuk apa pula aku marah?
Awalnya kau hanya ingin kembali menyapa dan menyambung kembali pertemanan
Aku mendengarkan segala apa yang ingin kau ceritakan
Meski aku tahu pertemanan yang kau maksud bukan hanya sekedar pertemanan
Kau bilang aku berada dipuncak tertinggi di suatu gedung kosong. Tidak ada lift
Kau bilang aku berada pada level tertinggi dari suatu game, yang sama sekali tidak bisa kau taktulakan
Baik dulu maupun sekarang
Aku melihat luka
Jauh di lubuk hatimu, ada lubang yang mengaga begitu lebar
Aku bisa merasakannya
karena hidupku ditahun-tahun sebelumnya ialah hidup penuh luka, penuh dengan rasa bersalah, penuh dengan darah ditangan kanan maupun kiri
Aku tambah yakin ketika melihat kedua bola matamu secara langsung
Kau pasti tidak tahu
Aku merasa lega, pada akhirnya kau mengerti bagaimana rasanya mencintai kemudian patah hati
Ini waktu yang tepat untuk menyembuhkan luka, baik kau maupun aku
Dan kau menemukan penawarmu,
Ialah aku
Ialah kau
Tuesday, April 11, 2017
Musafir Durjana
selangkah lagi kau kan memasuki ruang penuh tahta
di sebagiannya ialah karangan, mawarmu
perlahan kau kan lihat taman perasingan paling durjana
dipenuhi rangkaian bunga penuh balutan duri berisi racun yang kan membunuhmu
katanya kau musafir yang berasal dari gurun Sahara
maka ku perkenalkan, aku
bola matamu sejernih lautan lepas
maka lantas ku tak percaya kau ialah musafir paling kejam seantero jagad raya
baiknya duduklah dahulu dan lihatlah ruang yang baru itu
adakah mungkin ingin kau rampas cantiknya
atau kau rawatlah dengan peluhmu
"Bunuhlah aku." Ucapmu dengan tenang sembari duduk di balik pintu
"Aku hanya pergi untuk berhenti mencintainya, Nona."
malam menjadi amat panjang
kemudian ku tatap lekat-lekat matanya, sekali lagi
lalu adakah lelaki durjana dengan tatapan mata sehangat sekaligus sesendu bidakara langit malam?
Friday, March 24, 2017
Sebait Kau
yang mencintaimu
Your Twinflame
Mungkin, pada saatnya nanti ketika kau mengetahui bahwa jalanku bukan lagi ke arahmu, kau akan menangis dengan kencang. Memaki jalan hidupmu...
-
Hujan rintik-rintik Deras kemudian Angin kencang di luar Aku gigil Lampu rumah mati Sembunyi aku dibalik selimut hangat Samar-samar ku deng...
-
Aku menulis ini setelah melewati hari dengan bertemu dengan sahabat-sahabatku. Kami berdiskusi -lebih tepatnya diberikan nasihat, dan konsul...
-
Mungkin, pada saatnya nanti ketika kau mengetahui bahwa jalanku bukan lagi ke arahmu, kau akan menangis dengan kencang. Memaki jalan hidupmu...
