Showing posts with label #PengembaraMalam. Show all posts
Showing posts with label #PengembaraMalam. Show all posts

Tuesday, November 5, 2019

Ijinkan

Aku tau, kau ialah sesuatu yang hanya dapat dibayangkan dalam benak, cenderung mustahil, bahkan. Tidak akan ada yang mengucapkan selamat karena jatuh hati padamu.
Hanya bencana, katanya.
Tapi ijinkan aku mencintaimu dengan caraku, yang dengan heningnya mendoakan hal-hal baik terjadi dalam hidupmu, mengisyaratkan pagi sebagai awal mula rindu itu berasal. Sebab karenanya usaha yang kau jalani jadi terasa menyenangkan.
Ijinkan aku mencintaimu dengan caraku, yang dengan bisingnya deru kendaraan juga debu yang berterbangan ke sana kemari, menjadi pertandaku bahwa siang memulai usahaku tuk memenuhi kata temu yang hampir semu.
yang di tengah teriknya siang menyengat, dengan bisingnya orang-orang silih berganti berdatangan dengan macam-macam permintaan sebagai pertanda usahamu dalam mensejahterakan hidup yang fana.
Ijinkan aku mencintaimu dengan caraku, yang dengan datangnya purnama aku berdoa menitipkan salam kerinduan dari lubuk hati terdalam, membisikan segala doa, segala mantra berharap malam menentramkan hati yang gundah gulana. Sebab hidup selalu mengejar sampai ke gorong-gorong tergelap hati. Mantra yang dapat menenangkan hati dari pahitnya kenyataan, segala yang indah fana, segala yang indah nyata.

Friday, December 14, 2018

Jeda

Kalau suatu hari kau tenggelam dalam tumpukkan rasa gundah yang melenyapkan kehidupanmu, baiknya berhenti dulu sejenak. Kau tidak perlu lari atau menghilang. Cukup berhenti dulu. Perjalanan ini begitu panjang dan melelahkan. Panas terik terus menyengat diri tiap kali melangkahkan kaki satu persatu. Hujan badai mampu memporak-porandakan ditengah kekalutan tiada akhir. Juga rintik-rintik sisa hujan membasahi langkah kecil pun besar yang kan kau ambil. 

Hidup penuh dengan pilihan. Baik buruk benar salah. Jatuh bangun. 

Tidak ada satu hal pun yang tidak membuat hati menjadi goyah. Kemudian sesekali patah menjadi teman baik disetiap perjalan. Menjadikannya pelajaran-pelajaran berharga. Pelajaran yang mampu mendewasakan segala pikir juga tindakan. Tidak perlu lari. Diam saja dulu sejenak. Kalau persimpangan jalan itu masih ada, aku akan datang untuk sekedar mendekapmu hangat. Memberikan ketenangan yang katanya selalu kau rindukan. Menimang-nimang gundah, menjadikannya lebur bersamaan dengan jingga kemerah-merahan diujung senja. 

Jiwa terus saja tumbuh seiring dengan perjalanan waktu. Kalau kau terjerambab, kau akan tumbuh menjadi hal-hal baik. Iya. Baik kalau kau berpegang pada hal-hal baik. Selain pilihan, Tuhan memberikan garisnya sendiri. Sebelum kau menjadi kau yang terlahir di Bumi. Teruslah menjadi baik. Teruslah bertumbuh menjadi kebaikan. Kalau suatu hari kau disalahkan sebab pilihan yang mungkin juga sudah digariskan Tuhan dalam kehidupanmu, tutuplah mata dan telingamu. Cukup diam resapi tiap jengkal kehidupan. Cukup berhenti sejenak. Mengambil nafas untuk menangkan segala pikir. Semua ini bukan salahmu. Teruslah berbuat baik. Menjadi terang diantara gelap jalanmu. Menjadi pelipur lara bagi hidupnu sendiri. Sebab.. tiada kalimat tanpa titik, tiada tujuan tanpa akhir. Sebab.. hidup tetaplah hidup.

Monday, November 19, 2018

Sepenggal Cerita

Aku ingin bercerita sedikit. Dengan harap tidak akan melupakannya suaru hari nanti. Sebab dengan ini aku bisa membacanya berartus-ratus kali dan kau pun bisa mengingatnya suatu hari nanti. Entah sebagai kenangan baik, atau kenangan pahit. Buatku ini adalah kenangan baik. Karenanya aku merasa begitu dicintai..

Jadi ceritanya pada suatu hari, aku sedang  merindukan seseorang. Lantaran tidak bisa bertemu dan juga sulit berkomunikasi, aku pun merajuk. Bertingkah kekanak-kanankan. Lalu ketika aku sedang ngambek-ngambeknya, rindu-rindunya, chat malah tidak dibaca, tidak dibalas, kemudian tidak ada kabar sama sekali. Kesalnya bukan main. Akhirnya setelah berkeluh kesah dichat yang tak kunjung dibaca juga, aku memutuskan untuk tidur. Pukul 01:08, aku terbangun hanya sekedar mengecek apakah sudah ada kabar setidaknya pesanku dibaca olehnya. Namun masih tidak ada tanggapan. Kesal bukan main. Mungkin gawainya rusak. Mungkin kuotanya habis. Sabar saja. Batinku.
Pukul 05:30, aku terbangun untuk memulai aktivitas. Ku buka gawaiku untuk sekedar mengecek kembali, namun nihil. Sama sekali tidak ada kabar. Aku masih berbaik sangka. Mungkin tidak ada kuota juga tidak ada pulsa untuk sekedar mengabari kalau tidak bisa menghubungi barang sedikit waktu.
Hal yang kulakukan setelahnya adalah membersihkan badan; mandi. Ketika sedang mandi, tiba-tiba ada telpon masuk. Dia rupanya. Kesalku memuncak. Ternyata dia punya cukup pulsa untuk menelfon tapi tidak punya cukup pulsa atau kuota hanya sekedar memberi kabar. Tidak niat untuk menjawab. Hhh, penasaranku memuncak dan kuangkat lah dering itu.
"Aku didepan." Katanya. "Hah? Didepan?" Kataku. Auto panik. Langsung ku basuhlah seluruh badanku kemudian berpakaian. Setelahnya lari ke depan rumahku. Tahunya betul! Jam masih menunjukkan pukul 6:30 pagi dan dia sudah berdiri depan rumahku dengan tatapan nanar. Wah. Aku kehabisan kata-kata.
Ku buka pintu rumah sambil berkata, "Kok bisa sampai sini? Kenapa?"
"Kamu kan marah sama aku, kesel sama aku. Makanya aku ke sini." Katanya
"Aku bingung." Perasaanku saat itu campur aduk. Kesal. Marah. Bingung. Senang. Bercampur menjadi satu kesatuan. Ku persilahkan ia masuk dan duduk dibangku ruang tamu rumahku.
Ia masih melihatku nanar dengan tatapan tersedih dari yang pernah aku lihat sebelumnya. Kemudian ia melanjutkan.
"Iya kamu kesel kan sama aku? Kamu marah kan sama aku?" Masih melanjutkan pertanyaan yang sama. Dengan berat aku menggelengkan kepalaku, berusaha memberikan senyuman paling lirih. "Aku ngga kesel sama kamu. Aku cuma kangen." Kemudian kami berdua terdiam. Larut dalam keheningan masing-masing. Menyesapi segala perasaan yang kian menyembul satu persatu.
"Aku tahu kamu kesel. Udah dari hari sabtu aku merasa kamu kesel sama aku. Hari minggu aku coba Vcall kamu memastikan kamu baik-baik aja apa pura-pura baik-baik aja. Taunya, dari mata kamu aja keliatan. Ditambah kamu bales cuma singkat-singkat aja. Kemarin setelah chat terakhir karena aku ngga mau kesel sama kami, ngga mau marah sama kamu, akhirnya aku matiin handphone. Baru setelah jam 11 malam aku berusaha tidur ngga bisa tidur. Coba cek kamu ngechat tapi aku ngga mau bales. Ngga mau baca. Aku ngga mau lebih nyesek melanjutkan obrolan chat yang cuma kamu bales singkat-singkat dan sekenanya kamu aja. Rasanya ngga enak banget kalau kamu kesel, kalau kamu marah. Nyesek banget. Makanya aku kesini pagi-pagi sebelum kamu berangkat kerja. Aku ngga mau ini berlarut-larut. Aku ngga mau jadi semakin lama kamu marah sama aku. Aku juga ngga mau kesel dan marah sama kamu kalau aku lanjutin balesin chat kamu semalam. Aku ngga mau kesel sama kamu atau marah sama kamu. Ngga enak.. bener-bener ngga enak." Suaranya lirih namun tenang. Aku tahu betul ia menekan segala emosinya. Yang ku dengar hanya perasaan sedih yang begitu dalam. Seketika itu juga aku meneteskan air mataku satu demi satu. Bahkan sebelum ia selesai melanjutkan apa yang diutarakan. Aku hanya mendengar sambil terisak-isak. Hatiku rasanya mencelos mendengarkan penjelasannya. Jarak antara rumahnya dengan rumahku ialah 40km yang apabila ditempuh dengan kendaraan roda dua memakan waktu 1 jam 30 menit untuk waktu paling cepat. Ia berangkat sehabis subuh meninggalkan rumahnya dengan perjalanan yang jauh udara yang dingin hanya untuk mengatakan, "Aku kangen sama kamu. Maaf kalau aku ngga punya banyak waktu untuk balesin chat kamu dengan cepat. Maaf kalau aku ngga bisa sering ketemu kamu. Sekarang aku ketemu karena aku kangen sama kamu. Aku ngga mau kamu marah lagi sama aku. Jangan marah lagi yaa. Sekarang nangis aja, lepasin semua yang kamu rasain." Ia mengatakan dengan berusaha untuk tenang, dengan menekan semua emosi juga ego dalam dirinya. Mengusap air mataku yang terus jatuh tak tertahankan. Aku merasa jadi orang paling jahat sedunia. Mengabaikan orang dengan hati selembut dia.. Sangat teriris.
Setengah jam hanya ku habiskan untuk menangis, menyesali apa yang ku lakukan sebelum hari itu aku bertemu dengannya.
"Maaf.. maafin aku. Aku cuma kangen sama kamu. Maaf kalau aku banyak tingkah. Aku kangen, saking kangennya aku jadi kesel sama kamu. Maaf. Maafin aku." Meskipun terbata-bata, hanya itu yang dapat aku katakan.
Ia hanya tersenyum sambil berkata lagi, "Ngga apa-apa, selama itu buat kamu tenang. Asal jangan berlarut-larut ya, aku ngga mau. Sekarang mungkin bisa. Kalau nanti aku udah pindah aku ngga akan bisa dateng nemuin kamu setiap kamu lagi kayak gini. Aku ngga apa-apa kamu mau merajuk kayak gini, asalkan cepet sembuhnya cepet baliknya lagi yaa. Kalau jauh nemuinnya kan susah."
Mendengarnya aku langsung tertawa. Benar katanya. Aku harus kuat. Aku harus bisa mengontrol semua perasaan termasuk rindu.

Kami berdua hanya sama-sama pejuang. Pejuang rindu. Dia yang dengan sabar menghadapi aku yang banyak tingkah. Dan aku yang dengan gusar menanti temu. Kami merindu namun dengan cara yang berbeda. Rindu diracik, ditumpuk dengan harap supaya cepat bertemu. Semoga, setelah hari ini, bisa tenang menghadapi rindu. Tidak gusar kemudian jadi bar-bar, sampai membuat pejuang menempuh ruang dan waktu yang panjang..

Begitulah.. beberapa bagian ada yang terlewati seperti percakapan setelah mencoba berhenti menangis, karena hidungku dan pundaknya penuh dengan ingus sebab tangisanku. Juga tentang apabila kejadian ini terulang saat ia sudah tidak lagi di kota ini ia tidak bisa mengatakan lagi "aku didepan, tapi 'aku udah dibandara nih'." Dan bagian-bagian lain yang mungkin hanya tersimpan dalam memori kau dan aku.

Sepenggal cerita ini semoga dapat mengingatkanmu, kalau kau dan aku pernah bahagia. Bahagia sebab pertengkaran dan kesalahpahaman kecil kita mampu membawa diri kita pada dekapan yang hangat. Pada pagi yang dingin itu terasa hangat dan haru, karena temu sebab rindu ialah yang paling candu.

Monday, November 5, 2018

Sebab Jarak

Mencintaimu, berat sekali. 
Ada banyak sekali ekspektasi-ekspektasi muncul dalam kepalaku. Padahal jarak antara rindu dan dekapan ialah sejauh telapak kakiku dengan awan dilangit. Secuil harapan-harapan muncul menggelembung menjadi doa yang selalu ku panjatkan sehabis sujudku. Bahwasanya tidak ada yang bisa kulakukan selain berserah pasrah. 

Lawan dari bertemu bukanlah berpisah, melainkan kehilangan. Langkahmu yang kian menjauh membuatku semakin hari semakin tersudut. Membesarkan segala khawatir yang tidak memiliki muaranya. Setiap kali datang, kalimat 'aku baik-baik saja' selalu berhasil menjadi penyelamatnya. Sebab, aku hanya perempuan yang mudah sekali rapuh.
 
Maafkan aku yang mudah untuk mengeluh, sebab jauh darimu ialah hal paling menakutkan untukku. Mencintaimu sudah berat sekali, ditambah harus menanggung rindu yang kian bertumpuk ditiap-tiap waktu. Harus berkejar-kejaran dengan segenap perasahaan ikhlas untuk menghela tiap perasaan yang terus berkecamuk dalam dada.

Katamu, kau pencemburu. Lalu, bagaimana denganku yang harus berebut dirimu dengan jarak, waktu dan ruang yang fana? Bukan hanya itu pula. Aku juga harus berebut dengan segala apa yang kau punya, yang bukan termasuk aku didalamnya. Aku hanya perempuan yang mudah patah. Kehilangan arah karena terus merindu. Menimang-nimang denyut nadiku yang terus berdenyut mendetakkan namamu. Dikeheningan pun keramaian.

Aku akan diam. Diam dan terus diam menunggu.. Sebab katamu, aku harus perlahan menunggu, bukan? Aku akan menunggu ditempatku. Sambil sesekali menengok ke dalam isi kepalaku. Apakah masih selalu ada kenangan antara kau dan aku?

Saturday, May 19, 2018

Semesta

Biarkan rindu kutitipkan pada hujan
Biarkan syahdu kasihku, kutitipkan pada nada-nada lagu ditiap musik yang kau alunkan

Agar sampai padamu segala rasa yang membuncah di dada
Agar dapat kau dengar bisikanku disana

Berharap semesta memberikan kesempatan pada dua anak manusia yang sedang jatuh cinta pun menrindu, untuk saling mencintai lagi dan lagi

Bahwasanya yang aku tahu,
Semesta hanya mengabulkan doa dari hati yang tulus, maka dari itu, sudah tuluskah engkau dalam memintaku?

Yang aku juga tahu,
Semesta akan mengembalikan hati pada kepunyaan sesungguhnya, maka dari itu, benarkah aku kepunyaan sesungguhnya?

Sunday, April 1, 2018

Aroma Malam

Tiba disuatu malam
Jiwaku melangkah menuju bintang-bintang bertaburan
Meresapi harum aroma malam yang begitu khas
Aroma kenangan

Ku pejamkan mata, dan mengenang kembali
Masa-masa dimana cinta begitu menggairahkan
Juga begitu menyakitkan

Ku buka kedua bola mataku, dan duduk diperaduan dekat dengan cahaya rembulan

Aku bernyanyi
Menyanyikan nada-nada sendu
Kembali menghirup aroma khas malam

Suka
Duka
Bahagia
Luka
Rindu

Melebur pada irama yang ku senandungkan

Kemudian ada seseorang datang menghampiriku sambil berkata,

"Jangan bersedih, aku ada disini."

Monday, December 25, 2017

Kisah di Malam Hari

Pernah pada suatu hari aku duduk termenung dibalik jendela.
Mengenang kembali detik tiap detik yang telah terlewat.
Ada sekelebat perasaan yang mengikis ruang sendu dalam dada.
Ia memintaku menyudahi saja acara yang kulakukan sendiri itu. 

Kemudian dari padanya aku melangkah.
Melangkah tanpa pernah menoleh.
Melangkah tanpa pernah duduk lagi dibalik jendela sambil menyesap kopi beraroma masa lalu.
Aku terus berjalan. 

Kemudian aku bertemu padanya dipersimpangan jalan.
Ia bersimbah darah,
penuh luka. 

Aku membiarkannya masuk ke rumahku, dengannya kubasuh lukanya satu persatu hingga kering.
Membasuh dukanya hingga yang tersisa hanya senyum yang merekah di wajah. 

Aku tidak ingat lagi bagaimana caraku melangkah pada mulanya.
Setahuku, itu bermula pada saat aku mendengar bisikan kecil dari hati yang menyuruhku menyudahi saja duka berkepanjangan itu.

Kemudian ku bagikan secuil kisahku padanya untuk menghapus segala lara. Bahwa yang telah pergi, tidak akan kembali lagi.
Bahwa,
Kesepian adalah jalan pulang menuju rumah di tepian. 

Maka sambutlah dekap tangan penuh harapan, semoga senyum itu terus merekah di wajah. Kelak akan ku setubuhi segala rindu dalam malam-malam syahdu, bermandikan aroma kisah duka lara pun bahagia yang telah terjalin, hingga kini..

Sunday, October 8, 2017

Kerandoman Makan Seblak dan Inspeksi Bulan

Halo semua....
Waaa sudah lama sekali aku ndak ngisi blog ini. Sudah kering, lapuk dimakan waktu kayaknya ckck

Aku mau cerita sedikit ah, iseng-iseng ngisi waktu yang setengah malam ini. (looh?) Hahaha

Kali ini nulisnya agak beda yah, bukan tentang puisi atau sajak. Nope. Lagi ngga pengin nulis yang sedih-sedih, karena emang lagi ngga sedih. Hehe.

Jadi ceritanya aku tuh punya sahabat, temen, musuh, pacar yang komplit jadi satu yaitu Kang J (Inisial aja yah, biar ngga terlalu terekspos 😅). Malam ini tuh aku random banget ngajakin makan seblak karena kebetulan lagi pengin banget makan seblak dari dua hari yang lalu. Akhirnya oke kita langsung cuss menuju lokasi.

Lagi-lagi aku ngerasa aneh sama malam itu karena biasanya kalau aku keluar malam pasti ngeliat bulan. Dan saat berangkat, aku sama dia sama-sama ngga ngeliat bulan. Btw, kita sama-sama suka yang namanya liat keindahan alam yang gratis tis tis, macem liat bulan purnama, bulan sabit yang dikelilingin sama bintang-bintang.

"Kok ngga ada bulan yah? Padahal seminggu ini setiap aku pulang pasti liat bulan, lagi penuh-penuhnya, lagi terang-terangnya, kok ini tumben yah ngga ada? " -Aku
"Lagi mendung sih ini kayaknya." -Kang J

Lalu kita berdua kembali jalan sambil membicarakan hal-hal remeh lainnya yang menurut kami berdua menarik.

Awalnya sempat salah tempat karena pemikiran tempat yang kami tuju itu beda. Tapi untungnya tempatnya ketemu juga berkat papan namanya yang lumayan besar dan cukup terlihat.
Dengan percaya dirinya, aku pesan satu porsi seblak kwetiau plus telur dan es teh manis beserta makanan pelengkapnya pancong original. Sedangkan si kang J pesan seblak makaroni plus telur dengan minum yang sama, es teh manis. Levelnya sama-sama level 3 dengan harapan pedasnya sama seperti makan ayam Richeese Factory 😅.
Setelah makanan datang, kami coba cicipi masing-masing makanan yang kami pesan dan akhirnya.. Haft, pedasnya bikin perut perih. Ternyata emang aku tuh cemen banget makan seblak level 3 aja ngga kuat. Hiks.. 
Kang J sama kepedesannya kayak aku tapi,  He was so cool.
Akhirnya aku ngga sanggup dan hanya sanggup makan setengah porsi. Selebihnya kami makan pancong yang kami pesan kembal pancong beserta es teh manisnya untuk meredakan kepedesan dan kepanasan perut ini..

Kami sama-sama ngobrol seperti biasa, membicarakan hal-hal yang memang terlintas dalam pikiran. Diskusi, debat dan lainnya. 

Setelah merasa waktu sudah mulai malam, kami berdua memutuskan untuk pulang. Dalam perjalan, kami masih dengan aktivitas yang sama yaitu mengobrol, berbicara, berkomentar, dan biasanya aku yang lebih banyak mendengarkan.
Sampai ketika kami melewati pertigaan jalan dekat rumahnya Kang J,  dengan histeris dan ragu aku berteriak, "Eh itu bulan bukan sih? Iya kan? Ih bulet gitu, kok warnanya kayak orange kemerahan gitu yah?"
"Hayoo itu apa? Bulan bukan?" -Kang J
"Iya itu bulan tau! Waw, so beautiful!" -Aku
"Iya itu bulan. Tapi emang bagus sih." -Kang J

Tidak lama setelah percakapan itu, kami berbelok ke kiri menuju arah rumahku. Dan bulannya tiba-tiba menghilang. Aku panik, karena ketika aku melihat ke sekeliling ternyata ngga ada! 
"Oh god, masa bulannya tiba-tiba hilang?" -Aku
"Hayo kemana, coba cari lagi." -Kang J
"Bener ngga ada. Kok bisa yah? Bukannya kalo kita jalan bulan tetep ngikutin dibelakang kita?" -Aku
"Yah engga, dia kan punya arahnya sendiri." -Kang J
"Kalo tadi dia ada di depan kita, berarti sekarang dia ada di samping kita atau engga di belakang kita." -Aku
Kemudian aku mencari-cari namun tetap saja ngga ketemu. 
Kami berdua terdiam sampai kami melewati jembatan, dengan pelan-pelan mengendarai motorya dia berkata, "Coba cari lagi ada atau engga."
"Hmmm, oh.. Itu!" -Aku
"Mana? Dimana?" -Kang J
"Itu disana." Aku sambil menunjukkan ke arah bulan.
"Oh iya." -Kang J
"Bulan yang misterius." -Aku
"Ternyata kita mencari ke arah yang salah.. Ckck." -Kang J

Ternyara diketahui kalau bulannya tidak terlihat karena tertutup dengan bangunan-bangunan di sekitar.
Sesampainya di komplek perumahan tempat aku tinggal, kami berdua melewati gang-gang dimana setiap gang-gang yang terlewat kami intipi apakah bulannya terlihat atau tidak. Kami menamakannya dengan inspeksi bulan.

Ternyata untuk gang kedua dan setelahnya bulannya terlihat sangat menawan dengan warna yang sebelumnya belum pernah aku lihat. Ya.. Berwarna orange yang cenderung kemerahan.

Aku tidak tahu yang lain, mengenai sebab warnanya, atau hal lainnya. Yang kutahu, bulan yang terlihat malam ini begitu cantik. Dan lagi, aku tidak sendiri untuk melihatnya..

Semoga malam-malam berikutnya akan ada keindahan-keindahan dan ke freakan seperti malam ini.

Sunday, August 6, 2017

Sebab Kau

Wangi aroma laut masih menjadi teman baikku

Berisikan segala kenangan akan jejak-jejak yang kian hilang dimakan waktu

Kamu..

Masih menjadi diksi terindah untuk tiap-tiap syair yang aku torehkan

Sayangnya, bagimu cinta ialah dusta paling nista. Sebab kau menghilang

Sebab kau kira cintaku bukan ku jatuhkan padamu

Aku tak akan lagi percaya jika suatu hari nanti kau datang sambil mengaku mencintaiku





Tuesday, August 1, 2017

Mimpi

Ada masa dimana, aku meninggalkan kenangan-kenangan yang telah berlalu 

Ada masa dimana, kemudian ku toleh kembali tiap-tiap jejak yang pernah ku singgahi 

Menjadi masalahnya ialah waktu 

Menunjukkan seberapa tepat, seberapa tidak tepatnya tiap puzzle itu tersusun dengan apiknya 

Barangkali masih ada yang koyak, seperti kursi yang biasa ku gunakan untuk menerima tamu di pojok kiri meja kerjaku

Barangkali sudah ada yang tersusun dengan tepat 

Barangkali.. 

Sudah tertinggal semua perasaan-perasaan yang pernah begitu bergelora kepada satu anak manusia, pun beberapanya 

Barangkali.. 

Sudah jatuhlah hati kepada anak manusia lainnya, membentuk kenangan-kenangan baru layaknya puzzle yang baru saja ingin dimainkan 

Jadi, 

Biarkanlah istirahatmu memunculkan begitu banyak mimpi yang berisi kenangan, 

tentang pahitnya hidup 
tentang manisnya cinta 
juga

tentang aku

Saturday, June 24, 2017

Gugurnya Senja

Aku melewati senja
Pada jalan yang berguguran dedauanan
Dengan aroma musim gugur

Ada perasaan-perasaan ganjil menghampiri
Menggeletik ketenangan batin yang selama ini berucap baik-baik saja
Yang katanya menolak untuk merintih, sebab hati tidak ingin sedingin musim dingin di kutub utara

Bahwasanya semesta tidak mengharap cinta padaku
Sebab akulah pengemisnya
Mengayuhkan tangan setiap malam berharap didengarNya segala doa
Semusim, 
Pada musim yang dingin

Ialah patah hati menjadi penyebabnya
Segala duka yang mengikis tiap-tiap bahagia yang ada
Kalau saja genggamku tak dilepasnya
Kalau saja air mata, mata airku tak dilepasnya
Maka hatiku masih tetap utuh tak bersisa

Ia baik-baik saja, selama mata tertutup rapat
Telinga pun sama
Juga mulut yang enggan berucap
Sebab cinta ialah segala permata, hati

Namun,
Jikalau tiada bisa berdiri tegak saat padang mahsyar menggampiri, lantas kepada siapa lagi aku bersandar?
Maka maafkanlah segala dosa hati juga sikap yang terpendar, padamu

Sunday, May 28, 2017

Dimana

Pernah pada suatu hari, hujan badai datang menghampiri sambil berbisik bahwa Pangeran sudah datang. Lantas aku langsung bergegas lari keluar rumah ingin melihat apakah benar binar mata hangat yang datang. Tepat di depanku, berdiri sesosok pria bertubuh tegap dengan mata cokelat sedang menatapku dingin. 
Bukan dia.. 
Bukan dia.. 
Air mataku turun tak tertahankan. Menahan rindu pada kehangatan binar mata juga rengkuhan tangannya.  

Tuesday, April 11, 2017

Musafir Durjana

selangkah lagi kau kan memasuki ruang penuh tahta
di sebagiannya ialah karangan, mawarmu
perlahan kau kan lihat taman perasingan paling durjana
dipenuhi rangkaian bunga penuh balutan duri berisi racun yang kan membunuhmu

katanya kau musafir yang berasal dari gurun Sahara
maka ku perkenalkan, aku

bola matamu sejernih lautan lepas
maka lantas ku tak percaya kau ialah musafir paling kejam seantero jagad raya
baiknya duduklah dahulu dan lihatlah ruang yang baru itu
adakah mungkin ingin kau rampas cantiknya
atau kau rawatlah dengan peluhmu

"Bunuhlah aku." Ucapmu dengan tenang sembari duduk di balik pintu
"Aku hanya pergi untuk berhenti mencintainya, Nona."

malam menjadi amat panjang
kemudian ku tatap lekat-lekat matanya, sekali lagi
lalu adakah lelaki durjana dengan tatapan mata sehangat sekaligus sesendu bidakara langit malam?

Sunday, February 19, 2017

Rindu

Sudah lama aku memenjarakanmu
Dalam puisi-puisiku
Dalam bahasa paling kalbu
Menyiratkan duka paling lara untukmu

Ah..
Rasanya kau dan aku tak pernah memiliki jalan yang searah
Kau selalu ke barat
Sedang aku selalu ke selatan
Berjalan, sambil menunggu
Ilalag hilang di pinggir jalan

Kau tak tau seberapa lama aku berdiam di persimpangan jalan
Dengan harap kalau saja ada pertemuan
Kalau saja benang merah itu masih tersisa

Tiap kali ku kembali
Pada keramaian
Pun kesepian
Harapku ialah temu, meski hanya bayangmu
Meski hanya punggungmu

Katakan padaku
Betapa kau rindu binar mata
Juga hangat peluk di tengah hiruk pikuk dunia
Dengan begitu aku akan berlari
Pergi mendekap
Tubuhmu

Maka kau akan tau betapa ku kekalkan rindu begitu dalam di relung hati
Menyemayamkan segala pedih
Maka janganlah kau sambut kicauan burung-burung pantai
Sebab cinta ialah tempatmu pulang

Saturday, February 4, 2017

Hilang-mu


1
Suara deburan ombak
Semilir angin
Aroma laut
Kamu
Menghilang di gulung ombak dan tak kembali
Dinginnya air laut yang menyentuh kakiku
Tak bisa membawaku padamu
yang hilang

2
Awan begitu gelap
Juga perasaan yang tak dapat ku bendung
Tetetsan mata air
Air mataku
Juga jatuh bersama dengan luka pedih perih
Genggammu tlah tiada 
Aku sendiri
Lagi

3
Kemana harus ku lari, kekasih?
Sedang jingga yang biasa kita lukis berganti jadi pekatnya gelap awan
Sedang tiada lagi burung-burung laut
yang kita lihat sore hari di bibir pantai
Menunggu jingga
Menunggu terbenamnya pencahayaan dunia

4
Sudah berminggu-minggu
Sudah berbulan-bulan
Aku masih menunggumu
Kembali
Dari balik ombak
Berharap kau hanya tersesat di dunia kahyangan
Lalu kembali lagi dengan cintamu yang selalu menghangatkan

5
Aku tak pernah bisa tidur
Kau terus saja muncul
Dengan senyum terbaik
Dengan suara termerdu
Ketika bangun aku selalu berlari
Ingin menenggelamkan diri untuk bertemu denganmu lagi
Lalu Bapak menamparku
Katanya kau tlah tiada

6
Dusta paling keji ialah kehilanganmu
Lukanya begitu menusuk sampai remuk
Tulang
Padahal ilusi
Padahal imaji
Yang di nyata-kan
Kemudian meronta-ronta
Meringis
Padahal sakitnya di hati-ku

7
Rindu pun terus membelai malamku
Siangku
Pagiku
Senjaku
Hingga ku balik lagi ke bibir pantai
Dengan payung untuk menutupi dukaku
Sebab
Kematianmu
Juga cintaku



Sunday, January 29, 2017

Tidak Ada


Pada daun berguguran di taman
Kelopaknya menghiaskan namamu
Satu
Dua
Tiga
Empat
Begitu ku hitung terus sampai senja tiba

Tetap namamu

Pada hujan yang begitu lebat di malam hari
Tetesannya mendengungkan kerinduanku
Lima
Enam
Tujuh
Delapan
Begitu ku hitung terus sampai fajar tiba

Tetap merindumu

Aku berjalan sampai pada sudut-sudut kota
Melihat gemuruh canda tawa bocah-bocah
Mendengar rintihan ibu-ibu tentang habisnya beras untuk makan malam
Merasa mencekam dengan preman-preman mabuk di bawah sinar lampu jalan malam  

Demi mencari cintaku

Kemudian aku menyadarinya
Kau tak ada di manapun

Tidak di mataku
Tidak di hatiku 

Duka

Hujan di bulan Januari
Bukanlah hujan tanpa kenangan
Justru tetesannya mengandung seribu kali kepedihan
Mengenai hancurnya mimpi-mimpi tiada akhir

Aku menunggu di gerbang
Ingin membawakan makan siang
Namun kau tak ada,
Katanya kau pergi membawa duka

Lantas aku mencarimu disekliling tempat biasa kau menaburkan duka
Kau tetap tak ada

Aku menunggumu di depan rumah
Kau tak kunjung pulang

Sudah berhari-hari
Sudah berminggu-minggu

Mei mei datang kerumahku, bilang ada seorang pemuda mengapung di Sungai Biru
Berbondong-bondong warga menuju ke sana
Termasuk aku di bawanya

Sampai di sana pemuda itu sudah berada di daratan
Bajunya penuh dengan lumuran darah
Kulitnya sudah memucat
Pun wajahnya yang hancur penuh lebam dengan tulangnya yang sudah banyak patah

Orang-orang tak ada kenali sedikit pun
Mei mei juga

Lalu aku hanya bisa terdiam
Terpaku

Meski begitu aku tetap tahu
Bahwa itu kau



Saturday, January 14, 2017

Jendela Kesedihan-ku

Aku ingin memuisikanmu
Lewat semilir angin
Lewat jalan-jalan sunyi
Pun ramai di malam hari

Aku ingin memenjarakanmu
Dengan jeruji besi
Dengan baja yang begitu kuat

Aku ingin melipat segala sejarahmu
Membakar
Membuang
Menggantikannya dengan yang baru

Kau yang baru dengan puisi-puisiku
Melalui tinta yang ku teteskan di atas dedaunan kering
Basah
Menjadikannya cerita baru nan utuh

Kemudian aku berlari
Setelah mengintip dari balik jendela
Bahwa kau tlah berubah

Jendela yang menembus masa depan yang mulanya ku ciptakan sendiri
Dengan pena
Bait demi bait
Pagar dedaunan

Kau terdiam disitu
Menungguku di balik jendela kasat mata
Memohon kembaliku

Hanya aku memandangimu dari kejauhan masa depan
Tak dapat kau lihat
Pun menengok barang sepersekian detik

Kemudian,
aku pergi lagi menjalani pedih perih duka tiada ujung
Mendendangkan alunan kesepianku sendiri
Tanpa tanganmu yang jauh di balik jendela itu

Aku ingin kembali
Mencintaimu dengan utuh
Memeluk cintamu
Mendekap segala rindu

Lalu aku berlari lagi
Kembali pada jendela kasat mata
Pada tempat biasa melihatmu dari masa depan

Kau pun tak ada
Tidak di tempat biasa kau menungguku
Sambil menangis layaknya bayi baru keluar dari rahim ibu

Aku menangis sejadi-jadinya
Aku mengelu sepedih-pedihnya

Aku tak bisa kembali lagi

Wednesday, October 12, 2016

[Puisi] Bising

Bisingnya 
Bisingmu 
Menyeruakkan kalimat yang tiada henti 
Mendobrak segala resah 
Sampai pada kata terakhir 

Kembalillah 
Medan perang 'tlah usai 
Usang dimakan waktu 
Perburuan pula tiada terbentang 
Sampai fajar menjulang 

Enyah saja 
Kau begitu tak berguna 
Di perang 
Di buaian 
Di pelataran 
Berleha-leha sepuasnya

Pikirmu bola duniamu hanya satu? 
Lalu bagaimana denganku? 
Pun mereka? 

Diam saja tak berkutik?
Atau 
Meronta seperti serigala kelaparan?

Katakan padaku dengan bisingmu itu 
Menafikkan segala pikir 
Menggoyahkan segala imaji 

Padahal jalanmu tak fana 
Padahal tendamu itu sungguh jelas 

Lantas 
Mengapa bisingmu masih saja dipertanyakan?

Saturday, September 10, 2016

Perpisahan dan Pertemuan

Aku ingin sedikit bercerita mengenai perpisahan.

Baru beberapa jam lalu ada sebuah pesan masuk di instagram, ku buka isi pesannya. Ternyata dari salah seorang sepupuku dari pihak Papa. Anisa namanya. Ia adalah sepupu yang memiliki umur tidak jauh berbeda denganku. Dulu kami sangat dekat. Selalu bermain, bercerita dan berbagi bersama. Kalau ada kesempatan, aku bersama mama dan papa berkunjung ke rumahnya untuk bermain bersama. Juga sebaliknya.

Lalu tadi, saat saling mengirim pesan, akhirnya kami bertukar kontak untuk saling berkomunikasi lagi. Sudah lama sekali sejak pertemuan terakhirku dengannya dan juga keluarga besar lainnya. Ingin sekali kembali ke masa lalu untuk bermain, menghabiskan waktu bersama.

Mengintip sedikit kehidupannya dengan sepupu-sepupuku yang lain, rasanya rindu itu kembali merasuk ke dalam dada. Menyeruak memintaku untuk membuka kenangan yang telah lama tersimpan. Mengenai masa kecil yang begitu memabukkan, bersama mereka.

Kemudian malam ini aku sadar, bahwa perpisahan antara kedua orang tua bisa memutuskan silaturahim di antara anggota keluarga besar. Tidak dapat berkontak lantaran saling menjaga perasaan, dan juga kecanggungan yang terjadi akibat konflik berkepanjangan yang melibatkan seluruh keluarga besar.

Malam ini aku sadar, bahwa benar adanya kalau waktu dapat menyembuhkan segala luka yang ada. Dengan seiringnya waktu, beberapa di antaranya lupa bahwa pernah ada peristiwa yang pada saat itu terasa tiada ujungnya.

Kami, yang pada saat itu hanya menjadi anak-anak terpaksa mengikuti alur kemana orang tua kami berjalan. Seperti anak ayam yang terus mengikuti induknya. Tanpa sempat saling menyapa atau pun bertukar kata.

Lalu ketika waktu berlalu kami telah tumbuh menjadi seseorang yang sedikit lebih dewasa. Memiliki jalan kehidupan sendiri, hasil dari keputusan-keputusan yang telah kami pilih dari masa lalu. Ketika waktu mempertemukan kami kembali, ingatan-ingatan kecil nan hangat muncul satu per satu. Kenangan yang masih sangat segar dalam ingatan.

Ya. Setiap perpisahan selalu memiliki dampak bagi setiap elemen yang terkait. Meski sempat ada cerita mengenai perpisahan, kalau Tuhan berkehandak lain maka akan ada saatnya pertemuan itu tercipta lagi. Pertemuan kesekian untuk cerita yang baru. Bukan lagi mengenai masa kecil yang begitu menggairahkan. Tetapi mengenai masa kini yang begitu kan dirindukan.

Your Twinflame

Mungkin, pada saatnya nanti ketika kau mengetahui bahwa jalanku bukan lagi ke arahmu, kau akan menangis dengan kencang. Memaki jalan hidupmu...