Aku tau, kau ialah sesuatu yang hanya dapat dibayangkan dalam benak, cenderung mustahil, bahkan. Tidak akan ada yang mengucapkan selamat karena jatuh hati padamu.
Hanya bencana, katanya.
Tapi ijinkan aku mencintaimu dengan caraku, yang dengan heningnya mendoakan hal-hal baik terjadi dalam hidupmu, mengisyaratkan pagi sebagai awal mula rindu itu berasal. Sebab karenanya usaha yang kau jalani jadi terasa menyenangkan.
Ijinkan aku mencintaimu dengan caraku, yang dengan bisingnya deru kendaraan juga debu yang berterbangan ke sana kemari, menjadi pertandaku bahwa siang memulai usahaku tuk memenuhi kata temu yang hampir semu.
yang di tengah teriknya siang menyengat, dengan bisingnya orang-orang silih berganti berdatangan dengan macam-macam permintaan sebagai pertanda usahamu dalam mensejahterakan hidup yang fana.
Ijinkan aku mencintaimu dengan caraku, yang dengan datangnya purnama aku berdoa menitipkan salam kerinduan dari lubuk hati terdalam, membisikan segala doa, segala mantra berharap malam menentramkan hati yang gundah gulana. Sebab hidup selalu mengejar sampai ke gorong-gorong tergelap hati. Mantra yang dapat menenangkan hati dari pahitnya kenyataan, segala yang indah fana, segala yang indah nyata.
Tuesday, November 5, 2019
Ijinkan
Friday, December 14, 2018
Jeda
Monday, November 19, 2018
Sepenggal Cerita
Aku ingin bercerita sedikit. Dengan harap tidak akan melupakannya suaru hari nanti. Sebab dengan ini aku bisa membacanya berartus-ratus kali dan kau pun bisa mengingatnya suatu hari nanti. Entah sebagai kenangan baik, atau kenangan pahit. Buatku ini adalah kenangan baik. Karenanya aku merasa begitu dicintai..
Jadi ceritanya pada suatu hari, aku sedang merindukan seseorang. Lantaran tidak bisa bertemu dan juga sulit berkomunikasi, aku pun merajuk. Bertingkah kekanak-kanankan. Lalu ketika aku sedang ngambek-ngambeknya, rindu-rindunya, chat malah tidak dibaca, tidak dibalas, kemudian tidak ada kabar sama sekali. Kesalnya bukan main. Akhirnya setelah berkeluh kesah dichat yang tak kunjung dibaca juga, aku memutuskan untuk tidur. Pukul 01:08, aku terbangun hanya sekedar mengecek apakah sudah ada kabar setidaknya pesanku dibaca olehnya. Namun masih tidak ada tanggapan. Kesal bukan main. Mungkin gawainya rusak. Mungkin kuotanya habis. Sabar saja. Batinku.
Pukul 05:30, aku terbangun untuk memulai aktivitas. Ku buka gawaiku untuk sekedar mengecek kembali, namun nihil. Sama sekali tidak ada kabar. Aku masih berbaik sangka. Mungkin tidak ada kuota juga tidak ada pulsa untuk sekedar mengabari kalau tidak bisa menghubungi barang sedikit waktu.
Hal yang kulakukan setelahnya adalah membersihkan badan; mandi. Ketika sedang mandi, tiba-tiba ada telpon masuk. Dia rupanya. Kesalku memuncak. Ternyata dia punya cukup pulsa untuk menelfon tapi tidak punya cukup pulsa atau kuota hanya sekedar memberi kabar. Tidak niat untuk menjawab. Hhh, penasaranku memuncak dan kuangkat lah dering itu.
"Aku didepan." Katanya. "Hah? Didepan?" Kataku. Auto panik. Langsung ku basuhlah seluruh badanku kemudian berpakaian. Setelahnya lari ke depan rumahku. Tahunya betul! Jam masih menunjukkan pukul 6:30 pagi dan dia sudah berdiri depan rumahku dengan tatapan nanar. Wah. Aku kehabisan kata-kata.
Ku buka pintu rumah sambil berkata, "Kok bisa sampai sini? Kenapa?"
"Kamu kan marah sama aku, kesel sama aku. Makanya aku ke sini." Katanya
"Aku bingung." Perasaanku saat itu campur aduk. Kesal. Marah. Bingung. Senang. Bercampur menjadi satu kesatuan. Ku persilahkan ia masuk dan duduk dibangku ruang tamu rumahku.
Ia masih melihatku nanar dengan tatapan tersedih dari yang pernah aku lihat sebelumnya. Kemudian ia melanjutkan.
"Iya kamu kesel kan sama aku? Kamu marah kan sama aku?" Masih melanjutkan pertanyaan yang sama. Dengan berat aku menggelengkan kepalaku, berusaha memberikan senyuman paling lirih. "Aku ngga kesel sama kamu. Aku cuma kangen." Kemudian kami berdua terdiam. Larut dalam keheningan masing-masing. Menyesapi segala perasaan yang kian menyembul satu persatu.
"Aku tahu kamu kesel. Udah dari hari sabtu aku merasa kamu kesel sama aku. Hari minggu aku coba Vcall kamu memastikan kamu baik-baik aja apa pura-pura baik-baik aja. Taunya, dari mata kamu aja keliatan. Ditambah kamu bales cuma singkat-singkat aja. Kemarin setelah chat terakhir karena aku ngga mau kesel sama kami, ngga mau marah sama kamu, akhirnya aku matiin handphone. Baru setelah jam 11 malam aku berusaha tidur ngga bisa tidur. Coba cek kamu ngechat tapi aku ngga mau bales. Ngga mau baca. Aku ngga mau lebih nyesek melanjutkan obrolan chat yang cuma kamu bales singkat-singkat dan sekenanya kamu aja. Rasanya ngga enak banget kalau kamu kesel, kalau kamu marah. Nyesek banget. Makanya aku kesini pagi-pagi sebelum kamu berangkat kerja. Aku ngga mau ini berlarut-larut. Aku ngga mau jadi semakin lama kamu marah sama aku. Aku juga ngga mau kesel dan marah sama kamu kalau aku lanjutin balesin chat kamu semalam. Aku ngga mau kesel sama kamu atau marah sama kamu. Ngga enak.. bener-bener ngga enak." Suaranya lirih namun tenang. Aku tahu betul ia menekan segala emosinya. Yang ku dengar hanya perasaan sedih yang begitu dalam. Seketika itu juga aku meneteskan air mataku satu demi satu. Bahkan sebelum ia selesai melanjutkan apa yang diutarakan. Aku hanya mendengar sambil terisak-isak. Hatiku rasanya mencelos mendengarkan penjelasannya. Jarak antara rumahnya dengan rumahku ialah 40km yang apabila ditempuh dengan kendaraan roda dua memakan waktu 1 jam 30 menit untuk waktu paling cepat. Ia berangkat sehabis subuh meninggalkan rumahnya dengan perjalanan yang jauh udara yang dingin hanya untuk mengatakan, "Aku kangen sama kamu. Maaf kalau aku ngga punya banyak waktu untuk balesin chat kamu dengan cepat. Maaf kalau aku ngga bisa sering ketemu kamu. Sekarang aku ketemu karena aku kangen sama kamu. Aku ngga mau kamu marah lagi sama aku. Jangan marah lagi yaa. Sekarang nangis aja, lepasin semua yang kamu rasain." Ia mengatakan dengan berusaha untuk tenang, dengan menekan semua emosi juga ego dalam dirinya. Mengusap air mataku yang terus jatuh tak tertahankan. Aku merasa jadi orang paling jahat sedunia. Mengabaikan orang dengan hati selembut dia.. Sangat teriris.
Setengah jam hanya ku habiskan untuk menangis, menyesali apa yang ku lakukan sebelum hari itu aku bertemu dengannya.
"Maaf.. maafin aku. Aku cuma kangen sama kamu. Maaf kalau aku banyak tingkah. Aku kangen, saking kangennya aku jadi kesel sama kamu. Maaf. Maafin aku." Meskipun terbata-bata, hanya itu yang dapat aku katakan.
Ia hanya tersenyum sambil berkata lagi, "Ngga apa-apa, selama itu buat kamu tenang. Asal jangan berlarut-larut ya, aku ngga mau. Sekarang mungkin bisa. Kalau nanti aku udah pindah aku ngga akan bisa dateng nemuin kamu setiap kamu lagi kayak gini. Aku ngga apa-apa kamu mau merajuk kayak gini, asalkan cepet sembuhnya cepet baliknya lagi yaa. Kalau jauh nemuinnya kan susah."
Mendengarnya aku langsung tertawa. Benar katanya. Aku harus kuat. Aku harus bisa mengontrol semua perasaan termasuk rindu.
Kami berdua hanya sama-sama pejuang. Pejuang rindu. Dia yang dengan sabar menghadapi aku yang banyak tingkah. Dan aku yang dengan gusar menanti temu. Kami merindu namun dengan cara yang berbeda. Rindu diracik, ditumpuk dengan harap supaya cepat bertemu. Semoga, setelah hari ini, bisa tenang menghadapi rindu. Tidak gusar kemudian jadi bar-bar, sampai membuat pejuang menempuh ruang dan waktu yang panjang..
Begitulah.. beberapa bagian ada yang terlewati seperti percakapan setelah mencoba berhenti menangis, karena hidungku dan pundaknya penuh dengan ingus sebab tangisanku. Juga tentang apabila kejadian ini terulang saat ia sudah tidak lagi di kota ini ia tidak bisa mengatakan lagi "aku didepan, tapi 'aku udah dibandara nih'." Dan bagian-bagian lain yang mungkin hanya tersimpan dalam memori kau dan aku.
Sepenggal cerita ini semoga dapat mengingatkanmu, kalau kau dan aku pernah bahagia. Bahagia sebab pertengkaran dan kesalahpahaman kecil kita mampu membawa diri kita pada dekapan yang hangat. Pada pagi yang dingin itu terasa hangat dan haru, karena temu sebab rindu ialah yang paling candu.
Monday, November 5, 2018
Sebab Jarak
Lawan dari bertemu bukanlah berpisah, melainkan kehilangan. Langkahmu yang kian menjauh membuatku semakin hari semakin tersudut. Membesarkan segala khawatir yang tidak memiliki muaranya. Setiap kali datang, kalimat 'aku baik-baik saja' selalu berhasil menjadi penyelamatnya. Sebab, aku hanya perempuan yang mudah sekali rapuh.
Aku akan diam. Diam dan terus diam menunggu.. Sebab katamu, aku harus perlahan menunggu, bukan? Aku akan menunggu ditempatku. Sambil sesekali menengok ke dalam isi kepalaku. Apakah masih selalu ada kenangan antara kau dan aku?
Saturday, May 19, 2018
Semesta
Biarkan rindu kutitipkan pada hujan
Biarkan syahdu kasihku, kutitipkan pada nada-nada lagu ditiap musik yang kau alunkan
Agar sampai padamu segala rasa yang membuncah di dada
Agar dapat kau dengar bisikanku disana
Berharap semesta memberikan kesempatan pada dua anak manusia yang sedang jatuh cinta pun menrindu, untuk saling mencintai lagi dan lagi
Bahwasanya yang aku tahu,
Semesta hanya mengabulkan doa dari hati yang tulus, maka dari itu, sudah tuluskah engkau dalam memintaku?
Yang aku juga tahu,
Semesta akan mengembalikan hati pada kepunyaan sesungguhnya, maka dari itu, benarkah aku kepunyaan sesungguhnya?
Sunday, April 1, 2018
Aroma Malam
Tiba disuatu malam
Jiwaku melangkah menuju bintang-bintang bertaburan
Meresapi harum aroma malam yang begitu khas
Aroma kenangan
Ku pejamkan mata, dan mengenang kembali
Masa-masa dimana cinta begitu menggairahkan
Juga begitu menyakitkan
Ku buka kedua bola mataku, dan duduk diperaduan dekat dengan cahaya rembulan
Aku bernyanyi
Menyanyikan nada-nada sendu
Kembali menghirup aroma khas malam
Suka
Duka
Bahagia
Luka
Rindu
Melebur pada irama yang ku senandungkan
Kemudian ada seseorang datang menghampiriku sambil berkata,
"Jangan bersedih, aku ada disini."
Monday, December 25, 2017
Kisah di Malam Hari
Mengenang kembali detik tiap detik yang telah terlewat.
Ada sekelebat perasaan yang mengikis ruang sendu dalam dada.
Ia memintaku menyudahi saja acara yang kulakukan sendiri itu.
Melangkah tanpa pernah menoleh.
Melangkah tanpa pernah duduk lagi dibalik jendela sambil menyesap kopi beraroma masa lalu.
Aku terus berjalan.
Ia bersimbah darah,
penuh luka.
Membasuh dukanya hingga yang tersisa hanya senyum yang merekah di wajah.
Setahuku, itu bermula pada saat aku mendengar bisikan kecil dari hati yang menyuruhku menyudahi saja duka berkepanjangan itu.
Bahwa,
Kesepian adalah jalan pulang menuju rumah di tepian.
Sunday, October 8, 2017
Kerandoman Makan Seblak dan Inspeksi Bulan
Halo semua....
Waaa sudah lama sekali aku ndak ngisi blog ini. Sudah kering, lapuk dimakan waktu kayaknya ckck
Aku mau cerita sedikit ah, iseng-iseng ngisi waktu yang setengah malam ini. (looh?) Hahaha
Kali ini nulisnya agak beda yah, bukan tentang puisi atau sajak. Nope. Lagi ngga pengin nulis yang sedih-sedih, karena emang lagi ngga sedih. Hehe.
Jadi ceritanya aku tuh punya sahabat, temen, musuh, pacar yang komplit jadi satu yaitu Kang J (Inisial aja yah, biar ngga terlalu terekspos 😅). Malam ini tuh aku random banget ngajakin makan seblak karena kebetulan lagi pengin banget makan seblak dari dua hari yang lalu. Akhirnya oke kita langsung cuss menuju lokasi.
Lagi-lagi aku ngerasa aneh sama malam itu karena biasanya kalau aku keluar malam pasti ngeliat bulan. Dan saat berangkat, aku sama dia sama-sama ngga ngeliat bulan. Btw, kita sama-sama suka yang namanya liat keindahan alam yang gratis tis tis, macem liat bulan purnama, bulan sabit yang dikelilingin sama bintang-bintang.
"Kok ngga ada bulan yah? Padahal seminggu ini setiap aku pulang pasti liat bulan, lagi penuh-penuhnya, lagi terang-terangnya, kok ini tumben yah ngga ada? " -Aku
"Lagi mendung sih ini kayaknya." -Kang J
Lalu kita berdua kembali jalan sambil membicarakan hal-hal remeh lainnya yang menurut kami berdua menarik.
Awalnya sempat salah tempat karena pemikiran tempat yang kami tuju itu beda. Tapi untungnya tempatnya ketemu juga berkat papan namanya yang lumayan besar dan cukup terlihat.
Dengan percaya dirinya, aku pesan satu porsi seblak kwetiau plus telur dan es teh manis beserta makanan pelengkapnya pancong original. Sedangkan si kang J pesan seblak makaroni plus telur dengan minum yang sama, es teh manis. Levelnya sama-sama level 3 dengan harapan pedasnya sama seperti makan ayam Richeese Factory 😅.
Setelah makanan datang, kami coba cicipi masing-masing makanan yang kami pesan dan akhirnya.. Haft, pedasnya bikin perut perih. Ternyata emang aku tuh cemen banget makan seblak level 3 aja ngga kuat. Hiks..
Kang J sama kepedesannya kayak aku tapi, He was so cool.
Akhirnya aku ngga sanggup dan hanya sanggup makan setengah porsi. Selebihnya kami makan pancong yang kami pesan kembal pancong beserta es teh manisnya untuk meredakan kepedesan dan kepanasan perut ini..
Kami sama-sama ngobrol seperti biasa, membicarakan hal-hal yang memang terlintas dalam pikiran. Diskusi, debat dan lainnya.
Setelah merasa waktu sudah mulai malam, kami berdua memutuskan untuk pulang. Dalam perjalan, kami masih dengan aktivitas yang sama yaitu mengobrol, berbicara, berkomentar, dan biasanya aku yang lebih banyak mendengarkan.
Sampai ketika kami melewati pertigaan jalan dekat rumahnya Kang J, dengan histeris dan ragu aku berteriak, "Eh itu bulan bukan sih? Iya kan? Ih bulet gitu, kok warnanya kayak orange kemerahan gitu yah?"
"Hayoo itu apa? Bulan bukan?" -Kang J
"Iya itu bulan tau! Waw, so beautiful!" -Aku
"Iya itu bulan. Tapi emang bagus sih." -Kang J
Tidak lama setelah percakapan itu, kami berbelok ke kiri menuju arah rumahku. Dan bulannya tiba-tiba menghilang. Aku panik, karena ketika aku melihat ke sekeliling ternyata ngga ada!
"Oh god, masa bulannya tiba-tiba hilang?" -Aku
"Hayo kemana, coba cari lagi." -Kang J
"Bener ngga ada. Kok bisa yah? Bukannya kalo kita jalan bulan tetep ngikutin dibelakang kita?" -Aku
"Yah engga, dia kan punya arahnya sendiri." -Kang J
"Kalo tadi dia ada di depan kita, berarti sekarang dia ada di samping kita atau engga di belakang kita." -Aku
Kemudian aku mencari-cari namun tetap saja ngga ketemu.
Kami berdua terdiam sampai kami melewati jembatan, dengan pelan-pelan mengendarai motorya dia berkata, "Coba cari lagi ada atau engga."
"Hmmm, oh.. Itu!" -Aku
"Mana? Dimana?" -Kang J
"Itu disana." Aku sambil menunjukkan ke arah bulan.
"Oh iya." -Kang J
"Bulan yang misterius." -Aku
"Ternyata kita mencari ke arah yang salah.. Ckck." -Kang J
Ternyara diketahui kalau bulannya tidak terlihat karena tertutup dengan bangunan-bangunan di sekitar.
Sesampainya di komplek perumahan tempat aku tinggal, kami berdua melewati gang-gang dimana setiap gang-gang yang terlewat kami intipi apakah bulannya terlihat atau tidak. Kami menamakannya dengan inspeksi bulan.
Ternyata untuk gang kedua dan setelahnya bulannya terlihat sangat menawan dengan warna yang sebelumnya belum pernah aku lihat. Ya.. Berwarna orange yang cenderung kemerahan.
Aku tidak tahu yang lain, mengenai sebab warnanya, atau hal lainnya. Yang kutahu, bulan yang terlihat malam ini begitu cantik. Dan lagi, aku tidak sendiri untuk melihatnya..
Semoga malam-malam berikutnya akan ada keindahan-keindahan dan ke freakan seperti malam ini.
Sunday, August 6, 2017
Sebab Kau
Wangi aroma laut masih menjadi teman baikku
Berisikan segala kenangan akan jejak-jejak yang kian hilang dimakan waktuKamu..
Masih menjadi diksi terindah untuk tiap-tiap syair yang aku torehkan
Sayangnya, bagimu cinta ialah dusta paling nista. Sebab kau menghilang
Sebab kau kira cintaku bukan ku jatuhkan padamu
Aku tak akan lagi percaya jika suatu hari nanti kau datang sambil mengaku mencintaiku
Tuesday, August 1, 2017
Mimpi
tentang manisnya cinta
juga
tentang aku
Saturday, June 24, 2017
Gugurnya Senja
Aku melewati senja
Pada jalan yang berguguran dedauanan
Dengan aroma musim gugur
Ada perasaan-perasaan ganjil menghampiri
Menggeletik ketenangan batin yang selama ini berucap baik-baik saja
Yang katanya menolak untuk merintih, sebab hati tidak ingin sedingin musim dingin di kutub utara
Bahwasanya semesta tidak mengharap cinta padaku
Sebab akulah pengemisnya
Mengayuhkan tangan setiap malam berharap didengarNya segala doa
Semusim,
Pada musim yang dingin
Ialah patah hati menjadi penyebabnya
Segala duka yang mengikis tiap-tiap bahagia yang ada
Kalau saja genggamku tak dilepasnya
Kalau saja air mata, mata airku tak dilepasnya
Maka hatiku masih tetap utuh tak bersisa
Ia baik-baik saja, selama mata tertutup rapat
Telinga pun sama
Juga mulut yang enggan berucap
Sebab cinta ialah segala permata, hati
Namun,
Jikalau tiada bisa berdiri tegak saat padang mahsyar menggampiri, lantas kepada siapa lagi aku bersandar?
Maka maafkanlah segala dosa hati juga sikap yang terpendar, padamu
Sunday, May 28, 2017
Dimana
Tuesday, April 11, 2017
Musafir Durjana
selangkah lagi kau kan memasuki ruang penuh tahta
di sebagiannya ialah karangan, mawarmu
perlahan kau kan lihat taman perasingan paling durjana
dipenuhi rangkaian bunga penuh balutan duri berisi racun yang kan membunuhmu
katanya kau musafir yang berasal dari gurun Sahara
maka ku perkenalkan, aku
bola matamu sejernih lautan lepas
maka lantas ku tak percaya kau ialah musafir paling kejam seantero jagad raya
baiknya duduklah dahulu dan lihatlah ruang yang baru itu
adakah mungkin ingin kau rampas cantiknya
atau kau rawatlah dengan peluhmu
"Bunuhlah aku." Ucapmu dengan tenang sembari duduk di balik pintu
"Aku hanya pergi untuk berhenti mencintainya, Nona."
malam menjadi amat panjang
kemudian ku tatap lekat-lekat matanya, sekali lagi
lalu adakah lelaki durjana dengan tatapan mata sehangat sekaligus sesendu bidakara langit malam?
Sunday, February 19, 2017
Rindu
Sudah lama aku memenjarakanmu
Dalam puisi-puisiku
Dalam bahasa paling kalbu
Menyiratkan duka paling lara untukmu
Ah..
Rasanya kau dan aku tak pernah memiliki jalan yang searah
Kau selalu ke barat
Sedang aku selalu ke selatan
Berjalan, sambil menunggu
Ilalag hilang di pinggir jalan
Kau tak tau seberapa lama aku berdiam di persimpangan jalan
Dengan harap kalau saja ada pertemuan
Kalau saja benang merah itu masih tersisa
Tiap kali ku kembali
Pada keramaian
Pun kesepian
Harapku ialah temu, meski hanya bayangmu
Meski hanya punggungmu
Katakan padaku
Betapa kau rindu binar mata
Juga hangat peluk di tengah hiruk pikuk dunia
Dengan begitu aku akan berlari
Pergi mendekap
Tubuhmu
Maka kau akan tau betapa ku kekalkan rindu begitu dalam di relung hati
Menyemayamkan segala pedih
Maka janganlah kau sambut kicauan burung-burung pantai
Sebab cinta ialah tempatmu pulang
Saturday, February 4, 2017
Hilang-mu
Sunday, January 29, 2017
Tidak Ada
Duka
Saturday, January 14, 2017
Jendela Kesedihan-ku
Aku ingin memuisikanmu
Lewat semilir angin
Lewat jalan-jalan sunyi
Pun ramai di malam hari
Aku ingin memenjarakanmu
Dengan jeruji besi
Dengan baja yang begitu kuat
Aku ingin melipat segala sejarahmu
Membakar
Membuang
Menggantikannya dengan yang baru
Kau yang baru dengan puisi-puisiku
Melalui tinta yang ku teteskan di atas dedaunan kering
Basah
Menjadikannya cerita baru nan utuh
Kemudian aku berlari
Setelah mengintip dari balik jendela
Bahwa kau tlah berubah
Jendela yang menembus masa depan yang mulanya ku ciptakan sendiri
Dengan pena
Bait demi bait
Pagar dedaunan
Kau terdiam disitu
Menungguku di balik jendela kasat mata
Memohon kembaliku
Hanya aku memandangimu dari kejauhan masa depan
Tak dapat kau lihat
Pun menengok barang sepersekian detik
Kemudian,
aku pergi lagi menjalani pedih perih duka tiada ujung
Mendendangkan alunan kesepianku sendiri
Tanpa tanganmu yang jauh di balik jendela itu
Aku ingin kembali
Mencintaimu dengan utuh
Memeluk cintamu
Mendekap segala rindu
Lalu aku berlari lagi
Kembali pada jendela kasat mata
Pada tempat biasa melihatmu dari masa depan
Kau pun tak ada
Tidak di tempat biasa kau menungguku
Sambil menangis layaknya bayi baru keluar dari rahim ibu
Aku menangis sejadi-jadinya
Aku mengelu sepedih-pedihnya
Aku tak bisa kembali lagi
Wednesday, October 12, 2016
[Puisi] Bising
Saturday, September 10, 2016
Perpisahan dan Pertemuan
Aku ingin sedikit bercerita mengenai perpisahan.
Baru beberapa jam lalu ada sebuah pesan masuk di instagram, ku buka isi pesannya. Ternyata dari salah seorang sepupuku dari pihak Papa. Anisa namanya. Ia adalah sepupu yang memiliki umur tidak jauh berbeda denganku. Dulu kami sangat dekat. Selalu bermain, bercerita dan berbagi bersama. Kalau ada kesempatan, aku bersama mama dan papa berkunjung ke rumahnya untuk bermain bersama. Juga sebaliknya.
Lalu tadi, saat saling mengirim pesan, akhirnya kami bertukar kontak untuk saling berkomunikasi lagi. Sudah lama sekali sejak pertemuan terakhirku dengannya dan juga keluarga besar lainnya. Ingin sekali kembali ke masa lalu untuk bermain, menghabiskan waktu bersama.
Mengintip sedikit kehidupannya dengan sepupu-sepupuku yang lain, rasanya rindu itu kembali merasuk ke dalam dada. Menyeruak memintaku untuk membuka kenangan yang telah lama tersimpan. Mengenai masa kecil yang begitu memabukkan, bersama mereka.
Kemudian malam ini aku sadar, bahwa perpisahan antara kedua orang tua bisa memutuskan silaturahim di antara anggota keluarga besar. Tidak dapat berkontak lantaran saling menjaga perasaan, dan juga kecanggungan yang terjadi akibat konflik berkepanjangan yang melibatkan seluruh keluarga besar.
Malam ini aku sadar, bahwa benar adanya kalau waktu dapat menyembuhkan segala luka yang ada. Dengan seiringnya waktu, beberapa di antaranya lupa bahwa pernah ada peristiwa yang pada saat itu terasa tiada ujungnya.
Kami, yang pada saat itu hanya menjadi anak-anak terpaksa mengikuti alur kemana orang tua kami berjalan. Seperti anak ayam yang terus mengikuti induknya. Tanpa sempat saling menyapa atau pun bertukar kata.
Lalu ketika waktu berlalu kami telah tumbuh menjadi seseorang yang sedikit lebih dewasa. Memiliki jalan kehidupan sendiri, hasil dari keputusan-keputusan yang telah kami pilih dari masa lalu. Ketika waktu mempertemukan kami kembali, ingatan-ingatan kecil nan hangat muncul satu per satu. Kenangan yang masih sangat segar dalam ingatan.
Ya. Setiap perpisahan selalu memiliki dampak bagi setiap elemen yang terkait. Meski sempat ada cerita mengenai perpisahan, kalau Tuhan berkehandak lain maka akan ada saatnya pertemuan itu tercipta lagi. Pertemuan kesekian untuk cerita yang baru. Bukan lagi mengenai masa kecil yang begitu menggairahkan. Tetapi mengenai masa kini yang begitu kan dirindukan.
Your Twinflame
Mungkin, pada saatnya nanti ketika kau mengetahui bahwa jalanku bukan lagi ke arahmu, kau akan menangis dengan kencang. Memaki jalan hidupmu...
-
Hujan rintik-rintik Deras kemudian Angin kencang di luar Aku gigil Lampu rumah mati Sembunyi aku dibalik selimut hangat Samar-samar ku deng...
-
Aku menulis ini setelah melewati hari dengan bertemu dengan sahabat-sahabatku. Kami berdiskusi -lebih tepatnya diberikan nasihat, dan konsul...
-
Mungkin, pada saatnya nanti ketika kau mengetahui bahwa jalanku bukan lagi ke arahmu, kau akan menangis dengan kencang. Memaki jalan hidupmu...
