Showing posts with label #CumaCurhatanGakPenting. Show all posts
Showing posts with label #CumaCurhatanGakPenting. Show all posts

Thursday, July 18, 2019

Kangen

Jauh dari kamu itu ngga enak. Aku harus nahan kangen terus. Padahal aku mau langsung liat mata kamu yang berbinar kesenengan liat aku. Terus abis itu jadi senyum cerah banget. Atau senyum malu-malu kayak bocah yang lagi ketemu sama orang baru.
Aku kangen ngobrol sama kamu. Aku kangen ngebahas banyak hal sama kamu. Ngobrolin hal-hal yang sebenernya aku ngga paham tapi aku seneng denger kamu antusias banget ceritanya. 
Aku kangen makan bareng sama kamu. Karena setiap makan bareng pasti kamu selalu selesai duluan sedang aku masih harus berjuang ngunyah makanan. Kamu pasti ngeliatin cara aku makan sambil senyum-senyum. Aku bilang kalau aku capek ngunyah, terus kamu godain aku dengan bilang mau ngunyahin makanan aku. 
Aku kangen dengerin lagu sama kamu yang udah pasti dengerinnya lagu-lagu genre kesukaan kamu. Meskipun begitu aku pasti ikut nyanyi bareng kamu walaupun selalu berawal dari ngobrol dulu. Kamu pasti tau kan aku seneng nyanyi apapun genre lagunya. Eh tapi kita udah sepakat deng kalau genre dangdut dan koplo bukan selera kita berdua. 
Aku kangen bangun pagi karena udah repot banget mikirin masak menu apa buat bikin bekel makan siang kita berdua. Sibuk menimang-nimang rasa supaya rasa di makanan yang aku buat untuk makan siang kita bisa pas. Karena jelas selera lidah kita berdua beda. Aku lebih suka masakan asin gurih sedang kamu lebih suka makanan yang ada unsur rasa manisnya. Dan kamu pasti hapal deh, menu favorit yang sering aku masak itu tumis buncis pakai telur dadar atau tahu goreng atau ikan asin. Menu paling sederhana tapi yang paling mewah yang pernah aku buat, buat kamu. 
Beberapa di atas. Cuma menjadi beberapa hal yang aku kangenin dari kehadiran kamu. Kehadiran yang selalu aku bilang, sehangat cahaya matahari pagi atau cahaya matahari senja. Rasanya aku pengen menyandarakan kepalaku di bahumu itu. Sambil bersenandung atau bercerita mengenai cerita-cerita receh yang pasti cuma kamu tanggepin dengan bercandaan. Dan akhirnya kita berdua berakhir tertawa bersama. Menertawakan kebodohan masing-masing layaknya bocah berusia kanak-kanak. Masih ada banyak hal yang ngebuat aku jadi kangen banget sama kamu. Misal kayak aku lagi nyeduh kopi, liat langit dari lantai dua atau tiga tempatku bekerja, denger lagu Scorpion atau Mr. Big, dan masih banyak hal-hal remeh yang pada akhirnya ketika dilakuin malah ingetnya sama kamu. Bayangin, harus sekeras apa aku buat lupain kamu kalau ternyata hal-hal remeh pun penting semuanya ngingetin aku sama kamu?
Makanya, kalau ada orang yang nyuruh aku buat lupain kamu dan aku bilang iya tuh semuanya cuma Bullshit aja. Kenapa? Yaa gimana bisa ngelupain orang sebaik, seganteng dan sereceh kamu coba.
Hhhhh.. 
Kalau dipikir-pikir, kayaknya aku cuma mendramatisir keadaan aja deh. Padahal mungkin ngga semanis diatas. Padahal mungkin itu cuma pemikiran aku aja. Sedangkan kamu ngga berpikir sama kayak yang aku pikirin diatas. Yah.. kamu tau kan. Aku sayang sama kamu. Dan kayaknya sangat klise banget buat bilang sayang sama kamu. Ngga ada yang bisa aku lakuin selain berusaha ikut bahagia atas semua pilihan-pilihan kamu. Apapun pilihannya. Kamu harus tahu. Kalau melihat orang yang kita sayang bahagia, meskipun bukan dengan kita itu rasanya juga membahagiakan. Meskipun bukan dengan aku. Meskipun bukan dengan tangan-tangan aku air mata kamu terbasuh ketika malam-malam tiba. Bukan tangan-tangan aku yang menyeka keringet kamu ketika kamu lelah. Meskipun bukan aku.. Ngga apa-apa. Aku akan terus berdoa buat kebahagian kamu. Selalu. Selalu. Selalu. 

Titip rindu dari sini yah Blog. Salam dari Yusi. 
Tangerang, 18 Juli 2019  
 

Friday, March 8, 2019

Saat Jiwa Kita Bertemu

Kita bertemu saat malam
Saat gemintang terbentang luas diangkasa
Saat gemerlapnya lampu-lampu kota memancar 
Saat raga terlelap sedang jiwa berkelana 

Jejak kita menghilang 
Hanya desau bisikan kita terus terngiang-ngiang
Mengingatkan bahwa telah lama jarak menjauh 
telah lama terperangkap dalam rindu 

Seberapa jauh engkau melangkahkan kaki 
Kau terus hidup 
Terus hidup dalam memori, sanubari
Perasaan ini sudah begitu megahnya dalam sukmaku 
Hingga tak dapat ku bendung lagi

Semakin dalam ia.. 
Semakin dalam pula lukanya.. 

Kita bertemu saat malam 
Saat orang-orang sedang nyenyaknya 
Saat kau sedang memejamkan mata 

Jiwa kita bertemu di pelataran rumah kayu 
Kau mengenakan baju putih 
Begitu pun aku 
Kau berbisik padaku mengenai senja ditempatmu yang begitu syahdu 
Mengenai hujan yang terus luruh bersamaan dengan rasamu 
Sedang aku sibuk mendengarkan sambil menenggelamkan diri dalam matamu 
Aku merindukanmu 
Bisikku kala itu
Kau tersenyum, hangat seperti biasanya 
Tidak ada kalimat lain yang terlontar kecuali hembus nafas, angin, dan suara dedaunan kering 
Mata kita bertemu.. bibirmu yang ranum masih saja bungkam 
Sedang kau maupun aku masih saja terperangkap dalam tatapan yang saling meghujam 
Saling membahasakan kerinduan 
Saling membahasakan tentang cinta 

Wednesday, March 6, 2019

Kata Rahwana

Sudahkah engkau menyeruput kopi hitam siang ini?
Mari kembali kepada waktu yang telah berlalu
Mengenai sebait puisi yang aku ciptakan kala senja
Untuk mengenang rindu
Untuk mengabadikan segala pilu

Seperti biasa, aku duduk termangu
Sambil menyeruput kopi hitam
juga mendengarkan lagu-lagu indie
Diluar hujan
Basah luruh bersamaan dengan kenangan yang kian lapuk

Aku ingat, kau dan aku pernah menerjang hujan bersama
Bertengkar kecil mengenai siapa yang seharusnya memakai mantel
akhirnya tidak ada satupun dari kau maupun aku yang memakainya
Kau kebasahan, pun aku

Hal-hal kecil seperti itu, tumbuh menjadi kenangan yang manis
Sangat manis
Sampai-sampai membuat candu
Segala yang pilu luruh
Segala yang hancur lebur

Kata Rahwana, tidak ada yang salah dari cinta
yang salah ialah status sosial,
yang salah ialah tatanan dan silsilah kehidupan
Sedang mencintai Sinta tidaklah salah

Begitupun mencintaimu
Bagiku, mencintaimu ialah hal terhebat
Mengapa pula harus ku sembunyikan?
Mengapa pula harus ku abaikan?
Mengapa pula harus ku diam-diamkan?
Tidak ada yang pilu dari mencintaimu
Selain engkau mencintai selain aku
Ya.. itu hakikatmu
Semesta hanya mengijinkan aku pada batas mencintaimu saja

Bagiku tak mengapa
Sebab
Benar pertanyaan Rahwana, "Tuhan, jika cintaku kepada Sinta terlarang, mengapa Kau bangun megah perasaanku dalam sukma?"
Telah begitu megah rasanya
Telah begitu indah rasanya

Thursday, January 3, 2019

Sajak Kerinduan

Angin.. angin selatan menuju samudera
Tolong sampaikan salam kerinduanku 
Betapa rintih hari yang terlewat 
Basah oleh mata air kerinduan 

Malam.. malam panjang menuju kekekalan
Terangkan malamnya dengan berjuta-juta cahaya bintang di angkasa 
Semesta kan menuntunnya ke jalan yang terang 
Penuh kedamaian 

*

Bagaimana caranya aku membahasakan kerinduanku, duhai kekasih?
Jalan menuju kebencian hanyalah jalan buntu untukku 
Sedang hati terus saja melihat segala kebaikan 
Kebaikan matamu, 
Kebaikan hatimu 
Bagaimana bisa aku menaburkan racun-racun kebencian?

Lantas orang-orang mencaciku 
Katanya aku telah membawamu pada lubang kehancuran 
Katanya aku jahanam 
Katanya 
dan katanya 

Mengapa hal yang mencoreng namaku itu, 
tidak lantas membuatku membencimu?
Mengapa rindu terus saja bersemayam?
Mengapa temu adalah hal yang begitu diagungkan?
Sedang tidak ada lagi jalan menuju kita, wahai engkau 

*

Angin.. angin selatan menuju samudera 
Sampaikan salam kerinduanku 
Tidak ada lagi hari-hari bahagia 
Hanya ada sepenggal harap bahwa diri kembali pada diri 

Malam.. malam menuju kekekalan 
Bertabur bintang di angkasa luas dengan sejuta cahayanya 
Bawalah terang disetiap malam tiap kali ia merasa bimbang 
Cahayanya yang membawa kedamaian 
Kedamaian dalam pelukan semesta


Friday, December 21, 2018

Cerita Senja


"Aku ingin berduka. Kemudian dukaku kan bersemayam dibalik cahaya Semesta, berdasar pada senja kejinggaan, pada langit kemerah-merahan hampir keunguan. Bertekuk lutut dihadapan bumi pertiwi bak anak yang hampir mati, sekarat. Jiwaku tumbang. Ya. Menumpuk segala lara dalam benak.
'Ah, dasar jalang. Baru segitu kau sudah merengek! Dasar brengsek!'. Sahut seorang tua keladi dibalik pintu bar. Ditangan kanannya sebatang rokok kretek, ditangan kirinya dipegang whisky bekas ia pungut dari tong sampah.

Benar katanya. Baru segini saja aku sudah sekarat ingin mati saja. Lupa kalau dibawah naungan cahaya Semesta kejinggan itu ada gang-gang kehidupan penuh dengan kepolosan hidup. Hidup yang tidak hanya berwarna jingga. Sejauh waktu berlalu, aku terus saja bersimpuh tanpa menoleh ke atas juga ke bawah. Aku berada pada pusaraku saja. Lupa kalau aku bukan hidup pada diriku saja. Kalau-kalau, manusia dibumi tak hanya aku. 

Jejak-jejak dalam sisa perjalanan panjang terus bergeming, dan senja menjadi persinggahan paling syahdu. Kedamaian muskil untuk didapat tanpa menenggelamkan diri pada diri. Membiarkannya menguap saja ke angakasa luas. Sakit yang bertubi-tubi mungkin hanya sejengkal cara Tuhan menyiapkan diri pada bingkisan indah, diberikan pada waktu yang tepat. Kata si Pak Tua itu aku jalang, yang brengsek pula sebab mudah mengeluh dengan sayatan yang Tuhan gariskan. Jalang yang tak tahu arah jalan pulang selain bersimpuh pada kaki bumi pertiwi, mengais-ais meminta belas kasihan. Pantas atau tidak bukanlah manusia bumi yang sepatutnya menentukan. Barangkali jalang juga mendapatkan tempat yang rindang meski bukan di Sorga. Barangkali duka hanya sebatas duka saja. Dan bahagia akan seluas jagat raya."

Monday, November 19, 2018

Sepenggal Cerita

Aku ingin bercerita sedikit. Dengan harap tidak akan melupakannya suaru hari nanti. Sebab dengan ini aku bisa membacanya berartus-ratus kali dan kau pun bisa mengingatnya suatu hari nanti. Entah sebagai kenangan baik, atau kenangan pahit. Buatku ini adalah kenangan baik. Karenanya aku merasa begitu dicintai..

Jadi ceritanya pada suatu hari, aku sedang  merindukan seseorang. Lantaran tidak bisa bertemu dan juga sulit berkomunikasi, aku pun merajuk. Bertingkah kekanak-kanankan. Lalu ketika aku sedang ngambek-ngambeknya, rindu-rindunya, chat malah tidak dibaca, tidak dibalas, kemudian tidak ada kabar sama sekali. Kesalnya bukan main. Akhirnya setelah berkeluh kesah dichat yang tak kunjung dibaca juga, aku memutuskan untuk tidur. Pukul 01:08, aku terbangun hanya sekedar mengecek apakah sudah ada kabar setidaknya pesanku dibaca olehnya. Namun masih tidak ada tanggapan. Kesal bukan main. Mungkin gawainya rusak. Mungkin kuotanya habis. Sabar saja. Batinku.
Pukul 05:30, aku terbangun untuk memulai aktivitas. Ku buka gawaiku untuk sekedar mengecek kembali, namun nihil. Sama sekali tidak ada kabar. Aku masih berbaik sangka. Mungkin tidak ada kuota juga tidak ada pulsa untuk sekedar mengabari kalau tidak bisa menghubungi barang sedikit waktu.
Hal yang kulakukan setelahnya adalah membersihkan badan; mandi. Ketika sedang mandi, tiba-tiba ada telpon masuk. Dia rupanya. Kesalku memuncak. Ternyata dia punya cukup pulsa untuk menelfon tapi tidak punya cukup pulsa atau kuota hanya sekedar memberi kabar. Tidak niat untuk menjawab. Hhh, penasaranku memuncak dan kuangkat lah dering itu.
"Aku didepan." Katanya. "Hah? Didepan?" Kataku. Auto panik. Langsung ku basuhlah seluruh badanku kemudian berpakaian. Setelahnya lari ke depan rumahku. Tahunya betul! Jam masih menunjukkan pukul 6:30 pagi dan dia sudah berdiri depan rumahku dengan tatapan nanar. Wah. Aku kehabisan kata-kata.
Ku buka pintu rumah sambil berkata, "Kok bisa sampai sini? Kenapa?"
"Kamu kan marah sama aku, kesel sama aku. Makanya aku ke sini." Katanya
"Aku bingung." Perasaanku saat itu campur aduk. Kesal. Marah. Bingung. Senang. Bercampur menjadi satu kesatuan. Ku persilahkan ia masuk dan duduk dibangku ruang tamu rumahku.
Ia masih melihatku nanar dengan tatapan tersedih dari yang pernah aku lihat sebelumnya. Kemudian ia melanjutkan.
"Iya kamu kesel kan sama aku? Kamu marah kan sama aku?" Masih melanjutkan pertanyaan yang sama. Dengan berat aku menggelengkan kepalaku, berusaha memberikan senyuman paling lirih. "Aku ngga kesel sama kamu. Aku cuma kangen." Kemudian kami berdua terdiam. Larut dalam keheningan masing-masing. Menyesapi segala perasaan yang kian menyembul satu persatu.
"Aku tahu kamu kesel. Udah dari hari sabtu aku merasa kamu kesel sama aku. Hari minggu aku coba Vcall kamu memastikan kamu baik-baik aja apa pura-pura baik-baik aja. Taunya, dari mata kamu aja keliatan. Ditambah kamu bales cuma singkat-singkat aja. Kemarin setelah chat terakhir karena aku ngga mau kesel sama kami, ngga mau marah sama kamu, akhirnya aku matiin handphone. Baru setelah jam 11 malam aku berusaha tidur ngga bisa tidur. Coba cek kamu ngechat tapi aku ngga mau bales. Ngga mau baca. Aku ngga mau lebih nyesek melanjutkan obrolan chat yang cuma kamu bales singkat-singkat dan sekenanya kamu aja. Rasanya ngga enak banget kalau kamu kesel, kalau kamu marah. Nyesek banget. Makanya aku kesini pagi-pagi sebelum kamu berangkat kerja. Aku ngga mau ini berlarut-larut. Aku ngga mau jadi semakin lama kamu marah sama aku. Aku juga ngga mau kesel dan marah sama kamu kalau aku lanjutin balesin chat kamu semalam. Aku ngga mau kesel sama kamu atau marah sama kamu. Ngga enak.. bener-bener ngga enak." Suaranya lirih namun tenang. Aku tahu betul ia menekan segala emosinya. Yang ku dengar hanya perasaan sedih yang begitu dalam. Seketika itu juga aku meneteskan air mataku satu demi satu. Bahkan sebelum ia selesai melanjutkan apa yang diutarakan. Aku hanya mendengar sambil terisak-isak. Hatiku rasanya mencelos mendengarkan penjelasannya. Jarak antara rumahnya dengan rumahku ialah 40km yang apabila ditempuh dengan kendaraan roda dua memakan waktu 1 jam 30 menit untuk waktu paling cepat. Ia berangkat sehabis subuh meninggalkan rumahnya dengan perjalanan yang jauh udara yang dingin hanya untuk mengatakan, "Aku kangen sama kamu. Maaf kalau aku ngga punya banyak waktu untuk balesin chat kamu dengan cepat. Maaf kalau aku ngga bisa sering ketemu kamu. Sekarang aku ketemu karena aku kangen sama kamu. Aku ngga mau kamu marah lagi sama aku. Jangan marah lagi yaa. Sekarang nangis aja, lepasin semua yang kamu rasain." Ia mengatakan dengan berusaha untuk tenang, dengan menekan semua emosi juga ego dalam dirinya. Mengusap air mataku yang terus jatuh tak tertahankan. Aku merasa jadi orang paling jahat sedunia. Mengabaikan orang dengan hati selembut dia.. Sangat teriris.
Setengah jam hanya ku habiskan untuk menangis, menyesali apa yang ku lakukan sebelum hari itu aku bertemu dengannya.
"Maaf.. maafin aku. Aku cuma kangen sama kamu. Maaf kalau aku banyak tingkah. Aku kangen, saking kangennya aku jadi kesel sama kamu. Maaf. Maafin aku." Meskipun terbata-bata, hanya itu yang dapat aku katakan.
Ia hanya tersenyum sambil berkata lagi, "Ngga apa-apa, selama itu buat kamu tenang. Asal jangan berlarut-larut ya, aku ngga mau. Sekarang mungkin bisa. Kalau nanti aku udah pindah aku ngga akan bisa dateng nemuin kamu setiap kamu lagi kayak gini. Aku ngga apa-apa kamu mau merajuk kayak gini, asalkan cepet sembuhnya cepet baliknya lagi yaa. Kalau jauh nemuinnya kan susah."
Mendengarnya aku langsung tertawa. Benar katanya. Aku harus kuat. Aku harus bisa mengontrol semua perasaan termasuk rindu.

Kami berdua hanya sama-sama pejuang. Pejuang rindu. Dia yang dengan sabar menghadapi aku yang banyak tingkah. Dan aku yang dengan gusar menanti temu. Kami merindu namun dengan cara yang berbeda. Rindu diracik, ditumpuk dengan harap supaya cepat bertemu. Semoga, setelah hari ini, bisa tenang menghadapi rindu. Tidak gusar kemudian jadi bar-bar, sampai membuat pejuang menempuh ruang dan waktu yang panjang..

Begitulah.. beberapa bagian ada yang terlewati seperti percakapan setelah mencoba berhenti menangis, karena hidungku dan pundaknya penuh dengan ingus sebab tangisanku. Juga tentang apabila kejadian ini terulang saat ia sudah tidak lagi di kota ini ia tidak bisa mengatakan lagi "aku didepan, tapi 'aku udah dibandara nih'." Dan bagian-bagian lain yang mungkin hanya tersimpan dalam memori kau dan aku.

Sepenggal cerita ini semoga dapat mengingatkanmu, kalau kau dan aku pernah bahagia. Bahagia sebab pertengkaran dan kesalahpahaman kecil kita mampu membawa diri kita pada dekapan yang hangat. Pada pagi yang dingin itu terasa hangat dan haru, karena temu sebab rindu ialah yang paling candu.

Tuesday, November 13, 2018

Mengenai Waktu

Pertemuanku kini bermuara pada perpisahaan. Perpisahan yang membuat rindu sering kali datang menggelitik sekaligus terdengar begitu lirih. Merindukanmu menjadi suatu kebiasaan baru yang akan ku jalani pada hari-hari berikutnya. Hari-hari dimana tidak ada lagi senyuman hangat pada setiap pertemuan. Setelah puas memandangi mata cokelatmu yang terus berbinar tiap kali melihatku, setelah lelah menggenggam erat tangan higga diri kepayahan. 

Musim dingin telah datang, sedang kau perlahan menjauh. Langkah kaki kita tidak lagi beriringan seperti musim panas lalu. Melangkah dengan santainya, sesekali diselipi candaan yang kadang tidak memiliki makna. Hanya memiliki artinya sendiri. Aku selalu menganggap itu lucu namun kau tak lupa untuk menertawakan aku yang menertawakanmu. Kita berdua tertawa, menertawakan diri kita masing-masing. Kau dengan ketidaklucuanmu, dan aku dengan menertawakan ketidaklucuanmu. Kau pasti ingat kalau aku sering kali tertipu dengan trik-trik jahilmu. Tapi kau juga pasti ingat kalau aku tidak pernah bosan untuk menertawakannya. Hal-hal sederhana itu begitu mahal. Aku baru menyadarinya setelah kau melangkah pergi.

Kini tidak lagi ku gantung tiap rindu yang datang menggerayangi malamku. Ku biarkan menguap bersama dengan doa-doa baik agar menyertai tiap langkah yang kau ambil. Langkah yang menguatkan kakimu dan juga dirimu sendiri. Setiap malam disepertiga malam atau setiap pagi tiap kali fajar datang. Cinta dan rinduku kan melebur bersamanya. Semoga kau tenang disana, semoga sampai segala harap, doa dan keinginan pada hati yang kau sembunyikan itu. Meskipun kau berlari, meskipun suatu hari nanti kau tersesat. Semoga setitik cahaya pengharapanku selalu sampai menuntunmu ke jalan yang membawamu pada kebahagiaan, ketenangan juga kedamaian. 

Meski kau mengatakan bahwa aku sama seperti kota kelahiranmu. Sama-sama membuatmu rindu. Aku bukanlah rumahmu. Panggil aku hanya sesekali setiap kau merasa rindu saja. Pundakku selalu siap menjadi sandaran, telingaku selalu sedia mendegarkan kalimat-kalimatmu mengenai hari-hari berlalu atau sekedar mendengarkan detak jantungmu dan tanganku tak pernah lekang untuk merengkuh hangatnya tubuhmu. Menularkan ketenangan yang selalu kau rindukan. Bukan lagi sekedar pengembara malam. Kau dan aku akan menjadi pengembara rindu. Mendamba-damba setiap pertemuan yang mungkin setiap ratusan purnama sekali atau bahkan ribuan purnama sekali. 

"Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja.". 
Sepenggal kalimat itu selalu mampu menjadi penenang tiap kali gundah datang. Melebihi narkotika-narkotika yang Jamal tawarkan. Melebihi obat tidur yang Mawar suguhkan. Dan aku percaya bahwa kalimat tersebut mampu membawa kita pada doa terbaik. Doa yang mampu menyegerakan diri untuk menjadi lebih baik, membawamu pada binar mata sejernih lautan. 

"Bukan kau yang salah. Bukan pula waktu. Ini adalah waktunya. Waktu yang tepat untuk membiarkan semua ini terjadi. Tidak ada kata terlambat dan juga tidak ada mengapa tidak dulu, mengapa baru sekarang. Garis ini yang seharusnya kita lewati. Waktu kita kan terus berpendar sampai detik ini dan juga detik selanjutnya."

Wednesday, November 7, 2018

Percakapan-percakapan Kecil

Percakapan-percakapan kecil yang tidak ingin dilukapan. 

A : Aku
D : Dia 

Suatu pagi hari
D : "Rambutmu udah panjangan lagi."
A : "Iya niatnya mau aku potong lagi."
D : "Jangan dipotong, biar panjang lagi aja. Soalnya bagus kalau rambutmu panjang."
A : "Kenapa gitu?"
D : "Karena bisa aku elus-elus, dan kamu kelihatan lebih cantik." 

Suatu siang hari
D : "Aku ngga peduli orang lain mau ngomong apa, aku tetep sayang kamu. Aku ngga peduli orang lain mau mandang dan mikir gimana, aku tetep sayang sama kamu."
A : "Iya, aku juga merasakan hal yang sama." 
D : "Aku sayang kamu." 

Suatu sore hari
A : "Mata kamu cokelat yaa. Eh iya kalo misal aku pake kontak lensa gimana?" 
D : "Jangan. Ngga boleh. Bukannya apa, bahayanya itu. Kalo misal kena debu dan lain-lain gimana?"
A : "Iya juga sih apalagi aku pelupa." 
D : "Nah itu.. kamu juga kan kadang ceroboh suka lupa. Kalau mandi lupa lepas lensanya gimana? Nanti malah ngga bisa dipake lagi." 
A : "Iya juga sih.." 
D : "Iya pake kacamata aja, kamu bagus kok pake kacamata. Allah kasih kamu mata minus biar kamu kelihatan lebih cantik juga pake kacamata." 
A : "Ahh kamu mah." 
D : "Haha beneran." 
A : "Yaudah aku beli kacamata aja deh." 
D : "Iya jadi ngga boleh ya. Beli kacamata aja ngga usah pake kontak lens." 

Masih disuatu sore hari 
A : "Ih, kumis kamu ada yang putih." 
D : Hening ngeliatin sambil pegangin kumis..
A : "Hihi kumis kamu aja udah ada ubannya berarti kamu udah tua." (Bicara sambil tertawa) 
D : "Ck iya emang udah tua." (Bicara dengan bibir manyun dan mukanya yang merengut)
A : "Hahahah engga kok kamu tetep ganteng, mau ada ubannya atau bertambah usia juga kamu tetep ganteng." 
D : "Emang aku ganteng kali." 
Kemudian kita berdua tertawa bersama-sama 

Suatu malam hari 
Air mata tiba-tiba mengalir deras dari pelupuk mataku 
D : "Nangis aja kalau kamu mau nangis. Nangis sepuas kamu sampai kamu merasa tenang." 
A : Masih sesengukan..
D : "Asal besok-besok jangan nangis lagi, kalau kamu mau nangis boleh, tapi didepan aku aja." 
A : "Iyaa.." 
D : "Udah udah." 
A : Masih mengusap air mata.
D : "Lagian kamu ngapain nangisin aku sih." 
A : "Kamu mah.." 
D : "Hahahaha udah yah.. besok-besok ngga boleh nangis lagi loh. Sekarang dipuasin dulu deh nangisnya yang penting setelahnya kamu merasa tenang."


Monday, November 5, 2018

Sebab Jarak

Mencintaimu, berat sekali. 
Ada banyak sekali ekspektasi-ekspektasi muncul dalam kepalaku. Padahal jarak antara rindu dan dekapan ialah sejauh telapak kakiku dengan awan dilangit. Secuil harapan-harapan muncul menggelembung menjadi doa yang selalu ku panjatkan sehabis sujudku. Bahwasanya tidak ada yang bisa kulakukan selain berserah pasrah. 

Lawan dari bertemu bukanlah berpisah, melainkan kehilangan. Langkahmu yang kian menjauh membuatku semakin hari semakin tersudut. Membesarkan segala khawatir yang tidak memiliki muaranya. Setiap kali datang, kalimat 'aku baik-baik saja' selalu berhasil menjadi penyelamatnya. Sebab, aku hanya perempuan yang mudah sekali rapuh.
 
Maafkan aku yang mudah untuk mengeluh, sebab jauh darimu ialah hal paling menakutkan untukku. Mencintaimu sudah berat sekali, ditambah harus menanggung rindu yang kian bertumpuk ditiap-tiap waktu. Harus berkejar-kejaran dengan segenap perasahaan ikhlas untuk menghela tiap perasaan yang terus berkecamuk dalam dada.

Katamu, kau pencemburu. Lalu, bagaimana denganku yang harus berebut dirimu dengan jarak, waktu dan ruang yang fana? Bukan hanya itu pula. Aku juga harus berebut dengan segala apa yang kau punya, yang bukan termasuk aku didalamnya. Aku hanya perempuan yang mudah patah. Kehilangan arah karena terus merindu. Menimang-nimang denyut nadiku yang terus berdenyut mendetakkan namamu. Dikeheningan pun keramaian.

Aku akan diam. Diam dan terus diam menunggu.. Sebab katamu, aku harus perlahan menunggu, bukan? Aku akan menunggu ditempatku. Sambil sesekali menengok ke dalam isi kepalaku. Apakah masih selalu ada kenangan antara kau dan aku?

Thursday, October 18, 2018

Kamu

Dalam satu masa perjalananku, aku bertemu dengan seseorang. Kamu namanya. Kamu datang dengan senyuman paling indah yang pernah ku temui di seluruh dunia ini. Kamu datang, dengan tawa paling renyah dari yang pernah ku dengar dari semua manusia di bumi. Kamu.. datang dengan segala kepasrahan kepada Semesta yang akhirnya membuat diri ini bersimpuh kemudian luluh lantak.

Tidak ada satu hal pun yang aku sesali bertatap mata dengan tatapan sedalam lautan. Aku bisa menemukan diriku tenggelam di sana. Tenggelam dalam begitu banyak cinta seindah samudera. Kamu pasti tidak tahu bahwa aku kepayahan karenanya kan? Tidak apa, kamu tidak perlu khawatirkan hal itu. Seandainya pun Semesta berkehendak lain, tidak ada yang bisa ku lakukan selain berserah pasrah. Kepada nasib yang telah tergaris sebelum kamu dan aku beranjak ke dunia yang fana ini.

Dari satu masa ke masa yang lainnya, menjelajah ruang dan waktu yang fana hingga jiwa saling bertemu dan menyatu dalam kedalaman rasa yang begitu dingin, juga hangat diwaktu bersamaan. Menumpuk rindu yang terus saja bergelayutan ditiap waktu. Memaksa diri untuk mengingat tiap jengkal hal yang telah terlewat.
Kamu.. dengan dekapan yang hangat, merengkuh tubuhku dengan segenap rasa memberiku segala ketenangan. Membelaiku sambil berkata, "Semua akan baik-baik saja."

Aku menggantungkan percayaku pada kalimat yang kamu ucapkan itu. Aku tidak percaya kalimat lainnya selain kalimat itu. Sebab, tiada muara paling teduh, selain tatapan mata juga dekap hangat tubuhmu. Yang tidak sekalipun berdusta..

Friday, October 12, 2018

Permata dan Senja

Katakan aku gila
Katakan aku tidak tahu diri
Kau boleh mengutukku seperti itu
Kau juga boleh mencaciku sepuasmu seperti itu

Tapi..
Apakah ada cinta yang salah?
Aku rasa tidak
Tidak ada yang salah dari cinta

Ia bisa saja menjerumuskanmu memperalatmu semakin candu
Tapi..
Apa ada perasaan cinta yang salah?
Tidak
Aku sangat yakin tidak

Mengapa begitu?
Karena aku pernah membaca buku, kalau seorang pencundang pada akhirnya juga bisa merasa bahagia. Dan ia merasakan bahagia hanya karena menemukan senyum yang hangat dibalik kemuning senja. Ia merasa bahagia menghadiahkan senja itu untuk kekasihnya.

Tentu saja itu hanya sepenggal cerita kebahagiaan yang kubaca dari sebuah buku tua di sebuah perpustakaan mini sekolahku dulu.

Pada ceritaku, kau boleh mengutukku sepuasmu. Tidak apa. Sebab, cinta dalam gambaran hidupku kini ialah seperti permata yang kutemukan dalam tumpukkan jerami. Kau pasti tahu bahwa permata memiliki kilauan yang indah. Kilauannya bisa membuatmu candu. Ia begitu berharga dan bermakna. Dalam tumpukkan jemari itulah aku memungutnya, mengambilnya, membawa pulang ke rumahku. Ku rawat segenap hati, menaruhnya ditempat paling suci. Ia kubawa kemana pun aku pergi dengan kilauannya begitu terpancar dengan indahnya. Aku seperti membawa sebuah keindahan tiada dua.
Namun.. permata yang ku temukan ditumpukkan jerami itu tentulah memiliki pemiliknya. Tidak mungkin ia begitu saja jatuh ke dalam tumpukkan jerami yang lusuh. Aku rasa pemiliknya pasti tidak sengaja menjatuhkannya. Kemudian ia lupa mengambilnya kembali sehingga permata itu ditemukan olehku.
Permata yang pada akhirnya ku bawa dan ku miliki sepenuh hati. Ada masanya nanti ia kan ku kembalikan, biar aku bilang pada Semesta untuk mengijinkanku memilikinya barang sewaktu saja. Dengan setulus hati.

Seibarat itu.

Kemudian, tiba pada suatu sore hari. Angin terus berserir-dersir, mengibaskan rambut yang terhelai sebatas perut. Ku pejamkan mata sambil mengulang kembali ingatan-ingatan yang segar dalam kepala. Aku merasakan sebuah dekapan dari belakang tubuhku menghangatkan seluruh hati yang tadinya sedingin kutub utara. Hangatnya menjalari seluruh tubuh membuat suatu perasaan ganjil yang belum pernah kutemui, kedamaian. Ketika ku buka mataku, hamparan laut luas begitu elok menyegarkan mata. Langit memancarkan senja yang keemas-emasan. Kicauan burung pantai bersaut-sautan bersamaan dengan deru angin bagai lantunan sebuah lagu alam semesta.  Ketengok kanan dan kiriku. Dan ternyata,  kedamaian itu hanya dalam kenanganku saja.

Monday, July 9, 2018

Temu

Bibir ini mengelu, diam terpaku 
Sementara jantung terus saja berdegup kencang 
Menatap kedua bola mata yang menatapku tajam
Tatap matamu masih sama 
Menyiratkan kerinduan yang teramat dalam 
Aku bisa apa?

Aku hanya manusia bumi,
sedangkan kau ialah penduduk Kahyangan
Aku hanya aku, 
tidak lebih dari seorang gadis kecil yang kau temui dipersimpangan jalan 
menuju Kahyangan

Baiknya, masuklah dulu sebentar 
Lepaskan segala rindumu 
Aku akan membiarkanmu malam ini

Namun, 
Dengarkan aku
Janganlah kau menetap esok,
pun seterusnya 
Jangan kau pergi ke bumi, lagi
Meninggalkan tempat bidadarimu tinggal 
Sebab bumi hanya 
membawa kenestapaan
Aku tidak ingin kau merasakan penderitaan ini

Bagaimana mungkin kau bisa mengalami penderitaan tiada akhir ini,
sedang kau mendaptkan kenikmatan dan kecukupan tiada tara dari asalmu tinggal?
Di Kahyangan

Maka dari itu, 
Untuk malam ini saja,
masuklah dulu. 
Pulanglah lagi setelah melepas rindumu 

Sebab bumi akan kemarau.


Sunday, June 17, 2018

Waktu

Baru saja ku rapihkan buku-buku yang tergeletak di atas meja kamarku. Ada satu buku yang sangat mencolok, ia buku jurnal yang pernah diberikan teman SMAku sebagai hadian diulang tahun ke 17 tahun.

Ku buka lembar demi lembar, bait demi bait dalam tulisan yang sudah sangat usang itu. Ku lihat pula tanggal dan tahun yang selalu ku bubuhkan ketika menulis isi jurnal itu.

Kau..
Meski sejauh waktu ku berjalan, terus menjadi diksi dalam tiap bait tulisanku. Seperti nafas yang terhembus tiap hari dalam hidupku. Sudah berapa lama?
Bertahun-tahun lamanya..

Ku tutup buku jurnal itu. Ku temukan ponselku berdering. Ah.. ada pesan rupanya. Iya. Pesan darimu.
Aku baru saja menyudahi hubungan yang begitu pelik. Lalu kau tiba-tiba masuk kembali dalam hidupku menawarkan sebuah jalan bernama masa depan. Masa depan yang didalamnya ada kau dan aku. Memulai kembali sesuatu yang baru, katamu. Padahal dulu, jauh sebelum hari ini kau dan aku pernah berbagi rasa, cerita yang kemudian berakhir begitu saja.

Ya.. baik dulu maupun sekarang kau mampu membuatku goyah. Berkali ku katakan, masa depan itu begitu mustahil. Kau bilang doa yang tulus bisa begitu manjur terkabul. Katamu kau memintaku dalam doamu.

Lantas.. sambil berdoa kau membuat komitmen pula dengan seorang wanita yang entah siapa aku pun tidak mengenalnya. Katamu, selama aku belum yakin kau akan bermain memanjakan diri dengan yang lain. Menurutmu bagaimana aku bisa yakin?

Sudahlah..
Menyerah saja, kau dan aku selalu berada di atas benang tipis yang selalu bisa membuat kita berdua terjatuh kapan saja. Sudah ku katakan, berhenti saja. Jangan memintaku, jangan berdoa untukku dalam hidupmu. Aku benar-benar ingin mengakhirinya.. Dari tahun ke tahun doaku selalu sama, untuk kebahagiaanmu yang tanpaku. Berbahagia dengan yang lebih baik dibanding aku.

Aku tidak ingin, kau berlari tunggang langgang begitu tau aku bukan milikmu. Jadi, bisakah berhenti saja?

Tuesday, June 12, 2018

Secuil Mimpi

Diantara mimpi mimpi itu, ada mimpi dimana aku bisa bersandar dibahumu sambil bercerita tentang gaduhnya pasar yang kudatangi sebelum setibanya kau dirumah. Sambil menggenggam tangan juga mendengarkan detak jantungmu.

Diantara mimpi mimpi itu, ada mimpi dimana aku bisa bernyanyi setiap waktu untuk sekedar menghiburmu dari hari yang sulit. Sambil mengajakmu bernyanyi dan berdansa bersama.

Sambil menyesap teh hangat, ku siap mendengarkan celotehmu, melihat kedalam bola matamu tentang sejuta perasaanmu saat itu.

Aku sudah tidak lagi menjadi warga kahyangan. Telah diusirnya aku dari sana. Maka dari itu begitu banyak mimpi yang tiba-tiba muncul ketika memikirkanmu.

Ironi, kataku.
Tiap kali memikirkan mimpi kecil yang diam-diam mulai memenuhi pikiran. Tidak bisa ku bilang tidak, sebab hati mudah terluka.

Sembari bermipi aku berdoa pada semesta, mengabulkan segala harap, mengabulkan segala doa, agar bisa terus bersamamu dalam suka dan dukaku.

Friday, June 1, 2018

Waktu Pertama Dan Hari Ini

Kamu tahu saat pertemuan pertama kita setelah sekian lamanya itu?
Aku tahu, bahwa kau ingin menarikku masuk ke dalam hidupmu.
Aku tahu, kau begitu penuh ragu waktu pertama kau rengkuh tubuhku.
Aku tahu, kau hanya butuh disembuhkan dari luka yang masih mengaga begitu lebarnya, dari duka berkepanjangan, dari hasrat yang masih terpendam dalam dadamu.
Aku tahu.
Siapa bilang aku tidak tahu?

Tapi, aku adalah manusia yang penuh maaf.
Begitu penuhnya aku lupa luka apa saja yang telah tertinggal pada diriku.
Aku hanya ingat sakitnya saja, aku hanya ingat bekasnya saja.

Buatku, tidak apa-apa.
Tidak apa-apa karena aku pasti akan sembuh.
Lukaku hanya luka kecil yang tidak kentara, bahkan dari raut wajah maupun sorot mataku.
Mana mungkin kau dapat melihatnya sedang kau sibuk menata hatimu sendiri?

Tapi, apa kau tidak lelah dengan kepura-puraan kita selama ini?
Apa karena kau juga sulit melepas egomu itu?
Kita tidak bisa merubah sesal yang sudah terjadi.
Aku juga tidak ingin menyesal, tidak sayang.
Mencintai dengan duka berkepanjangan apa tidak membuatmu jengah? Sedang kau dengan terusnya membohongi diri.
Mengiyakan segala ingin, demi memenuhi hasrat ego pada diri.

Bolehkah aku jujur?
Aku lelah..
Benarkah aku yang dibutuhkan? Untuk apa? Untuk mencintaimu? Atau menerima semua egomu?

Sunday, October 8, 2017

Kerandoman Makan Seblak dan Inspeksi Bulan

Halo semua....
Waaa sudah lama sekali aku ndak ngisi blog ini. Sudah kering, lapuk dimakan waktu kayaknya ckck

Aku mau cerita sedikit ah, iseng-iseng ngisi waktu yang setengah malam ini. (looh?) Hahaha

Kali ini nulisnya agak beda yah, bukan tentang puisi atau sajak. Nope. Lagi ngga pengin nulis yang sedih-sedih, karena emang lagi ngga sedih. Hehe.

Jadi ceritanya aku tuh punya sahabat, temen, musuh, pacar yang komplit jadi satu yaitu Kang J (Inisial aja yah, biar ngga terlalu terekspos 😅). Malam ini tuh aku random banget ngajakin makan seblak karena kebetulan lagi pengin banget makan seblak dari dua hari yang lalu. Akhirnya oke kita langsung cuss menuju lokasi.

Lagi-lagi aku ngerasa aneh sama malam itu karena biasanya kalau aku keluar malam pasti ngeliat bulan. Dan saat berangkat, aku sama dia sama-sama ngga ngeliat bulan. Btw, kita sama-sama suka yang namanya liat keindahan alam yang gratis tis tis, macem liat bulan purnama, bulan sabit yang dikelilingin sama bintang-bintang.

"Kok ngga ada bulan yah? Padahal seminggu ini setiap aku pulang pasti liat bulan, lagi penuh-penuhnya, lagi terang-terangnya, kok ini tumben yah ngga ada? " -Aku
"Lagi mendung sih ini kayaknya." -Kang J

Lalu kita berdua kembali jalan sambil membicarakan hal-hal remeh lainnya yang menurut kami berdua menarik.

Awalnya sempat salah tempat karena pemikiran tempat yang kami tuju itu beda. Tapi untungnya tempatnya ketemu juga berkat papan namanya yang lumayan besar dan cukup terlihat.
Dengan percaya dirinya, aku pesan satu porsi seblak kwetiau plus telur dan es teh manis beserta makanan pelengkapnya pancong original. Sedangkan si kang J pesan seblak makaroni plus telur dengan minum yang sama, es teh manis. Levelnya sama-sama level 3 dengan harapan pedasnya sama seperti makan ayam Richeese Factory 😅.
Setelah makanan datang, kami coba cicipi masing-masing makanan yang kami pesan dan akhirnya.. Haft, pedasnya bikin perut perih. Ternyata emang aku tuh cemen banget makan seblak level 3 aja ngga kuat. Hiks.. 
Kang J sama kepedesannya kayak aku tapi,  He was so cool.
Akhirnya aku ngga sanggup dan hanya sanggup makan setengah porsi. Selebihnya kami makan pancong yang kami pesan kembal pancong beserta es teh manisnya untuk meredakan kepedesan dan kepanasan perut ini..

Kami sama-sama ngobrol seperti biasa, membicarakan hal-hal yang memang terlintas dalam pikiran. Diskusi, debat dan lainnya. 

Setelah merasa waktu sudah mulai malam, kami berdua memutuskan untuk pulang. Dalam perjalan, kami masih dengan aktivitas yang sama yaitu mengobrol, berbicara, berkomentar, dan biasanya aku yang lebih banyak mendengarkan.
Sampai ketika kami melewati pertigaan jalan dekat rumahnya Kang J,  dengan histeris dan ragu aku berteriak, "Eh itu bulan bukan sih? Iya kan? Ih bulet gitu, kok warnanya kayak orange kemerahan gitu yah?"
"Hayoo itu apa? Bulan bukan?" -Kang J
"Iya itu bulan tau! Waw, so beautiful!" -Aku
"Iya itu bulan. Tapi emang bagus sih." -Kang J

Tidak lama setelah percakapan itu, kami berbelok ke kiri menuju arah rumahku. Dan bulannya tiba-tiba menghilang. Aku panik, karena ketika aku melihat ke sekeliling ternyata ngga ada! 
"Oh god, masa bulannya tiba-tiba hilang?" -Aku
"Hayo kemana, coba cari lagi." -Kang J
"Bener ngga ada. Kok bisa yah? Bukannya kalo kita jalan bulan tetep ngikutin dibelakang kita?" -Aku
"Yah engga, dia kan punya arahnya sendiri." -Kang J
"Kalo tadi dia ada di depan kita, berarti sekarang dia ada di samping kita atau engga di belakang kita." -Aku
Kemudian aku mencari-cari namun tetap saja ngga ketemu. 
Kami berdua terdiam sampai kami melewati jembatan, dengan pelan-pelan mengendarai motorya dia berkata, "Coba cari lagi ada atau engga."
"Hmmm, oh.. Itu!" -Aku
"Mana? Dimana?" -Kang J
"Itu disana." Aku sambil menunjukkan ke arah bulan.
"Oh iya." -Kang J
"Bulan yang misterius." -Aku
"Ternyata kita mencari ke arah yang salah.. Ckck." -Kang J

Ternyara diketahui kalau bulannya tidak terlihat karena tertutup dengan bangunan-bangunan di sekitar.
Sesampainya di komplek perumahan tempat aku tinggal, kami berdua melewati gang-gang dimana setiap gang-gang yang terlewat kami intipi apakah bulannya terlihat atau tidak. Kami menamakannya dengan inspeksi bulan.

Ternyata untuk gang kedua dan setelahnya bulannya terlihat sangat menawan dengan warna yang sebelumnya belum pernah aku lihat. Ya.. Berwarna orange yang cenderung kemerahan.

Aku tidak tahu yang lain, mengenai sebab warnanya, atau hal lainnya. Yang kutahu, bulan yang terlihat malam ini begitu cantik. Dan lagi, aku tidak sendiri untuk melihatnya..

Semoga malam-malam berikutnya akan ada keindahan-keindahan dan ke freakan seperti malam ini.

Sunday, August 6, 2017

Sebab Kau

Wangi aroma laut masih menjadi teman baikku

Berisikan segala kenangan akan jejak-jejak yang kian hilang dimakan waktu

Kamu..

Masih menjadi diksi terindah untuk tiap-tiap syair yang aku torehkan

Sayangnya, bagimu cinta ialah dusta paling nista. Sebab kau menghilang

Sebab kau kira cintaku bukan ku jatuhkan padamu

Aku tak akan lagi percaya jika suatu hari nanti kau datang sambil mengaku mencintaiku





Your Twinflame

Mungkin, pada saatnya nanti ketika kau mengetahui bahwa jalanku bukan lagi ke arahmu, kau akan menangis dengan kencang. Memaki jalan hidupmu...