Thursday, January 3, 2019

Sajak Kerinduan

Angin.. angin selatan menuju samudera
Tolong sampaikan salam kerinduanku 
Betapa rintih hari yang terlewat 
Basah oleh mata air kerinduan 

Malam.. malam panjang menuju kekekalan
Terangkan malamnya dengan berjuta-juta cahaya bintang di angkasa 
Semesta kan menuntunnya ke jalan yang terang 
Penuh kedamaian 

*

Bagaimana caranya aku membahasakan kerinduanku, duhai kekasih?
Jalan menuju kebencian hanyalah jalan buntu untukku 
Sedang hati terus saja melihat segala kebaikan 
Kebaikan matamu, 
Kebaikan hatimu 
Bagaimana bisa aku menaburkan racun-racun kebencian?

Lantas orang-orang mencaciku 
Katanya aku telah membawamu pada lubang kehancuran 
Katanya aku jahanam 
Katanya 
dan katanya 

Mengapa hal yang mencoreng namaku itu, 
tidak lantas membuatku membencimu?
Mengapa rindu terus saja bersemayam?
Mengapa temu adalah hal yang begitu diagungkan?
Sedang tidak ada lagi jalan menuju kita, wahai engkau 

*

Angin.. angin selatan menuju samudera 
Sampaikan salam kerinduanku 
Tidak ada lagi hari-hari bahagia 
Hanya ada sepenggal harap bahwa diri kembali pada diri 

Malam.. malam menuju kekekalan 
Bertabur bintang di angkasa luas dengan sejuta cahayanya 
Bawalah terang disetiap malam tiap kali ia merasa bimbang 
Cahayanya yang membawa kedamaian 
Kedamaian dalam pelukan semesta


Friday, December 21, 2018

Cerita Senja


"Aku ingin berduka. Kemudian dukaku kan bersemayam dibalik cahaya Semesta, berdasar pada senja kejinggaan, pada langit kemerah-merahan hampir keunguan. Bertekuk lutut dihadapan bumi pertiwi bak anak yang hampir mati, sekarat. Jiwaku tumbang. Ya. Menumpuk segala lara dalam benak.
'Ah, dasar jalang. Baru segitu kau sudah merengek! Dasar brengsek!'. Sahut seorang tua keladi dibalik pintu bar. Ditangan kanannya sebatang rokok kretek, ditangan kirinya dipegang whisky bekas ia pungut dari tong sampah.

Benar katanya. Baru segini saja aku sudah sekarat ingin mati saja. Lupa kalau dibawah naungan cahaya Semesta kejinggan itu ada gang-gang kehidupan penuh dengan kepolosan hidup. Hidup yang tidak hanya berwarna jingga. Sejauh waktu berlalu, aku terus saja bersimpuh tanpa menoleh ke atas juga ke bawah. Aku berada pada pusaraku saja. Lupa kalau aku bukan hidup pada diriku saja. Kalau-kalau, manusia dibumi tak hanya aku. 

Jejak-jejak dalam sisa perjalanan panjang terus bergeming, dan senja menjadi persinggahan paling syahdu. Kedamaian muskil untuk didapat tanpa menenggelamkan diri pada diri. Membiarkannya menguap saja ke angakasa luas. Sakit yang bertubi-tubi mungkin hanya sejengkal cara Tuhan menyiapkan diri pada bingkisan indah, diberikan pada waktu yang tepat. Kata si Pak Tua itu aku jalang, yang brengsek pula sebab mudah mengeluh dengan sayatan yang Tuhan gariskan. Jalang yang tak tahu arah jalan pulang selain bersimpuh pada kaki bumi pertiwi, mengais-ais meminta belas kasihan. Pantas atau tidak bukanlah manusia bumi yang sepatutnya menentukan. Barangkali jalang juga mendapatkan tempat yang rindang meski bukan di Sorga. Barangkali duka hanya sebatas duka saja. Dan bahagia akan seluas jagat raya."

Friday, December 14, 2018

Jeda

Kalau suatu hari kau tenggelam dalam tumpukkan rasa gundah yang melenyapkan kehidupanmu, baiknya berhenti dulu sejenak. Kau tidak perlu lari atau menghilang. Cukup berhenti dulu. Perjalanan ini begitu panjang dan melelahkan. Panas terik terus menyengat diri tiap kali melangkahkan kaki satu persatu. Hujan badai mampu memporak-porandakan ditengah kekalutan tiada akhir. Juga rintik-rintik sisa hujan membasahi langkah kecil pun besar yang kan kau ambil. 

Hidup penuh dengan pilihan. Baik buruk benar salah. Jatuh bangun. 

Tidak ada satu hal pun yang tidak membuat hati menjadi goyah. Kemudian sesekali patah menjadi teman baik disetiap perjalan. Menjadikannya pelajaran-pelajaran berharga. Pelajaran yang mampu mendewasakan segala pikir juga tindakan. Tidak perlu lari. Diam saja dulu sejenak. Kalau persimpangan jalan itu masih ada, aku akan datang untuk sekedar mendekapmu hangat. Memberikan ketenangan yang katanya selalu kau rindukan. Menimang-nimang gundah, menjadikannya lebur bersamaan dengan jingga kemerah-merahan diujung senja. 

Jiwa terus saja tumbuh seiring dengan perjalanan waktu. Kalau kau terjerambab, kau akan tumbuh menjadi hal-hal baik. Iya. Baik kalau kau berpegang pada hal-hal baik. Selain pilihan, Tuhan memberikan garisnya sendiri. Sebelum kau menjadi kau yang terlahir di Bumi. Teruslah menjadi baik. Teruslah bertumbuh menjadi kebaikan. Kalau suatu hari kau disalahkan sebab pilihan yang mungkin juga sudah digariskan Tuhan dalam kehidupanmu, tutuplah mata dan telingamu. Cukup diam resapi tiap jengkal kehidupan. Cukup berhenti sejenak. Mengambil nafas untuk menangkan segala pikir. Semua ini bukan salahmu. Teruslah berbuat baik. Menjadi terang diantara gelap jalanmu. Menjadi pelipur lara bagi hidupnu sendiri. Sebab.. tiada kalimat tanpa titik, tiada tujuan tanpa akhir. Sebab.. hidup tetaplah hidup.

Monday, November 19, 2018

Sepenggal Cerita

Aku ingin bercerita sedikit. Dengan harap tidak akan melupakannya suaru hari nanti. Sebab dengan ini aku bisa membacanya berartus-ratus kali dan kau pun bisa mengingatnya suatu hari nanti. Entah sebagai kenangan baik, atau kenangan pahit. Buatku ini adalah kenangan baik. Karenanya aku merasa begitu dicintai..

Jadi ceritanya pada suatu hari, aku sedang  merindukan seseorang. Lantaran tidak bisa bertemu dan juga sulit berkomunikasi, aku pun merajuk. Bertingkah kekanak-kanankan. Lalu ketika aku sedang ngambek-ngambeknya, rindu-rindunya, chat malah tidak dibaca, tidak dibalas, kemudian tidak ada kabar sama sekali. Kesalnya bukan main. Akhirnya setelah berkeluh kesah dichat yang tak kunjung dibaca juga, aku memutuskan untuk tidur. Pukul 01:08, aku terbangun hanya sekedar mengecek apakah sudah ada kabar setidaknya pesanku dibaca olehnya. Namun masih tidak ada tanggapan. Kesal bukan main. Mungkin gawainya rusak. Mungkin kuotanya habis. Sabar saja. Batinku.
Pukul 05:30, aku terbangun untuk memulai aktivitas. Ku buka gawaiku untuk sekedar mengecek kembali, namun nihil. Sama sekali tidak ada kabar. Aku masih berbaik sangka. Mungkin tidak ada kuota juga tidak ada pulsa untuk sekedar mengabari kalau tidak bisa menghubungi barang sedikit waktu.
Hal yang kulakukan setelahnya adalah membersihkan badan; mandi. Ketika sedang mandi, tiba-tiba ada telpon masuk. Dia rupanya. Kesalku memuncak. Ternyata dia punya cukup pulsa untuk menelfon tapi tidak punya cukup pulsa atau kuota hanya sekedar memberi kabar. Tidak niat untuk menjawab. Hhh, penasaranku memuncak dan kuangkat lah dering itu.
"Aku didepan." Katanya. "Hah? Didepan?" Kataku. Auto panik. Langsung ku basuhlah seluruh badanku kemudian berpakaian. Setelahnya lari ke depan rumahku. Tahunya betul! Jam masih menunjukkan pukul 6:30 pagi dan dia sudah berdiri depan rumahku dengan tatapan nanar. Wah. Aku kehabisan kata-kata.
Ku buka pintu rumah sambil berkata, "Kok bisa sampai sini? Kenapa?"
"Kamu kan marah sama aku, kesel sama aku. Makanya aku ke sini." Katanya
"Aku bingung." Perasaanku saat itu campur aduk. Kesal. Marah. Bingung. Senang. Bercampur menjadi satu kesatuan. Ku persilahkan ia masuk dan duduk dibangku ruang tamu rumahku.
Ia masih melihatku nanar dengan tatapan tersedih dari yang pernah aku lihat sebelumnya. Kemudian ia melanjutkan.
"Iya kamu kesel kan sama aku? Kamu marah kan sama aku?" Masih melanjutkan pertanyaan yang sama. Dengan berat aku menggelengkan kepalaku, berusaha memberikan senyuman paling lirih. "Aku ngga kesel sama kamu. Aku cuma kangen." Kemudian kami berdua terdiam. Larut dalam keheningan masing-masing. Menyesapi segala perasaan yang kian menyembul satu persatu.
"Aku tahu kamu kesel. Udah dari hari sabtu aku merasa kamu kesel sama aku. Hari minggu aku coba Vcall kamu memastikan kamu baik-baik aja apa pura-pura baik-baik aja. Taunya, dari mata kamu aja keliatan. Ditambah kamu bales cuma singkat-singkat aja. Kemarin setelah chat terakhir karena aku ngga mau kesel sama kami, ngga mau marah sama kamu, akhirnya aku matiin handphone. Baru setelah jam 11 malam aku berusaha tidur ngga bisa tidur. Coba cek kamu ngechat tapi aku ngga mau bales. Ngga mau baca. Aku ngga mau lebih nyesek melanjutkan obrolan chat yang cuma kamu bales singkat-singkat dan sekenanya kamu aja. Rasanya ngga enak banget kalau kamu kesel, kalau kamu marah. Nyesek banget. Makanya aku kesini pagi-pagi sebelum kamu berangkat kerja. Aku ngga mau ini berlarut-larut. Aku ngga mau jadi semakin lama kamu marah sama aku. Aku juga ngga mau kesel dan marah sama kamu kalau aku lanjutin balesin chat kamu semalam. Aku ngga mau kesel sama kamu atau marah sama kamu. Ngga enak.. bener-bener ngga enak." Suaranya lirih namun tenang. Aku tahu betul ia menekan segala emosinya. Yang ku dengar hanya perasaan sedih yang begitu dalam. Seketika itu juga aku meneteskan air mataku satu demi satu. Bahkan sebelum ia selesai melanjutkan apa yang diutarakan. Aku hanya mendengar sambil terisak-isak. Hatiku rasanya mencelos mendengarkan penjelasannya. Jarak antara rumahnya dengan rumahku ialah 40km yang apabila ditempuh dengan kendaraan roda dua memakan waktu 1 jam 30 menit untuk waktu paling cepat. Ia berangkat sehabis subuh meninggalkan rumahnya dengan perjalanan yang jauh udara yang dingin hanya untuk mengatakan, "Aku kangen sama kamu. Maaf kalau aku ngga punya banyak waktu untuk balesin chat kamu dengan cepat. Maaf kalau aku ngga bisa sering ketemu kamu. Sekarang aku ketemu karena aku kangen sama kamu. Aku ngga mau kamu marah lagi sama aku. Jangan marah lagi yaa. Sekarang nangis aja, lepasin semua yang kamu rasain." Ia mengatakan dengan berusaha untuk tenang, dengan menekan semua emosi juga ego dalam dirinya. Mengusap air mataku yang terus jatuh tak tertahankan. Aku merasa jadi orang paling jahat sedunia. Mengabaikan orang dengan hati selembut dia.. Sangat teriris.
Setengah jam hanya ku habiskan untuk menangis, menyesali apa yang ku lakukan sebelum hari itu aku bertemu dengannya.
"Maaf.. maafin aku. Aku cuma kangen sama kamu. Maaf kalau aku banyak tingkah. Aku kangen, saking kangennya aku jadi kesel sama kamu. Maaf. Maafin aku." Meskipun terbata-bata, hanya itu yang dapat aku katakan.
Ia hanya tersenyum sambil berkata lagi, "Ngga apa-apa, selama itu buat kamu tenang. Asal jangan berlarut-larut ya, aku ngga mau. Sekarang mungkin bisa. Kalau nanti aku udah pindah aku ngga akan bisa dateng nemuin kamu setiap kamu lagi kayak gini. Aku ngga apa-apa kamu mau merajuk kayak gini, asalkan cepet sembuhnya cepet baliknya lagi yaa. Kalau jauh nemuinnya kan susah."
Mendengarnya aku langsung tertawa. Benar katanya. Aku harus kuat. Aku harus bisa mengontrol semua perasaan termasuk rindu.

Kami berdua hanya sama-sama pejuang. Pejuang rindu. Dia yang dengan sabar menghadapi aku yang banyak tingkah. Dan aku yang dengan gusar menanti temu. Kami merindu namun dengan cara yang berbeda. Rindu diracik, ditumpuk dengan harap supaya cepat bertemu. Semoga, setelah hari ini, bisa tenang menghadapi rindu. Tidak gusar kemudian jadi bar-bar, sampai membuat pejuang menempuh ruang dan waktu yang panjang..

Begitulah.. beberapa bagian ada yang terlewati seperti percakapan setelah mencoba berhenti menangis, karena hidungku dan pundaknya penuh dengan ingus sebab tangisanku. Juga tentang apabila kejadian ini terulang saat ia sudah tidak lagi di kota ini ia tidak bisa mengatakan lagi "aku didepan, tapi 'aku udah dibandara nih'." Dan bagian-bagian lain yang mungkin hanya tersimpan dalam memori kau dan aku.

Sepenggal cerita ini semoga dapat mengingatkanmu, kalau kau dan aku pernah bahagia. Bahagia sebab pertengkaran dan kesalahpahaman kecil kita mampu membawa diri kita pada dekapan yang hangat. Pada pagi yang dingin itu terasa hangat dan haru, karena temu sebab rindu ialah yang paling candu.

Tuesday, November 13, 2018

Mengenai Waktu

Pertemuanku kini bermuara pada perpisahaan. Perpisahan yang membuat rindu sering kali datang menggelitik sekaligus terdengar begitu lirih. Merindukanmu menjadi suatu kebiasaan baru yang akan ku jalani pada hari-hari berikutnya. Hari-hari dimana tidak ada lagi senyuman hangat pada setiap pertemuan. Setelah puas memandangi mata cokelatmu yang terus berbinar tiap kali melihatku, setelah lelah menggenggam erat tangan higga diri kepayahan. 

Musim dingin telah datang, sedang kau perlahan menjauh. Langkah kaki kita tidak lagi beriringan seperti musim panas lalu. Melangkah dengan santainya, sesekali diselipi candaan yang kadang tidak memiliki makna. Hanya memiliki artinya sendiri. Aku selalu menganggap itu lucu namun kau tak lupa untuk menertawakan aku yang menertawakanmu. Kita berdua tertawa, menertawakan diri kita masing-masing. Kau dengan ketidaklucuanmu, dan aku dengan menertawakan ketidaklucuanmu. Kau pasti ingat kalau aku sering kali tertipu dengan trik-trik jahilmu. Tapi kau juga pasti ingat kalau aku tidak pernah bosan untuk menertawakannya. Hal-hal sederhana itu begitu mahal. Aku baru menyadarinya setelah kau melangkah pergi.

Kini tidak lagi ku gantung tiap rindu yang datang menggerayangi malamku. Ku biarkan menguap bersama dengan doa-doa baik agar menyertai tiap langkah yang kau ambil. Langkah yang menguatkan kakimu dan juga dirimu sendiri. Setiap malam disepertiga malam atau setiap pagi tiap kali fajar datang. Cinta dan rinduku kan melebur bersamanya. Semoga kau tenang disana, semoga sampai segala harap, doa dan keinginan pada hati yang kau sembunyikan itu. Meskipun kau berlari, meskipun suatu hari nanti kau tersesat. Semoga setitik cahaya pengharapanku selalu sampai menuntunmu ke jalan yang membawamu pada kebahagiaan, ketenangan juga kedamaian. 

Meski kau mengatakan bahwa aku sama seperti kota kelahiranmu. Sama-sama membuatmu rindu. Aku bukanlah rumahmu. Panggil aku hanya sesekali setiap kau merasa rindu saja. Pundakku selalu siap menjadi sandaran, telingaku selalu sedia mendegarkan kalimat-kalimatmu mengenai hari-hari berlalu atau sekedar mendengarkan detak jantungmu dan tanganku tak pernah lekang untuk merengkuh hangatnya tubuhmu. Menularkan ketenangan yang selalu kau rindukan. Bukan lagi sekedar pengembara malam. Kau dan aku akan menjadi pengembara rindu. Mendamba-damba setiap pertemuan yang mungkin setiap ratusan purnama sekali atau bahkan ribuan purnama sekali. 

"Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja.". 
Sepenggal kalimat itu selalu mampu menjadi penenang tiap kali gundah datang. Melebihi narkotika-narkotika yang Jamal tawarkan. Melebihi obat tidur yang Mawar suguhkan. Dan aku percaya bahwa kalimat tersebut mampu membawa kita pada doa terbaik. Doa yang mampu menyegerakan diri untuk menjadi lebih baik, membawamu pada binar mata sejernih lautan. 

"Bukan kau yang salah. Bukan pula waktu. Ini adalah waktunya. Waktu yang tepat untuk membiarkan semua ini terjadi. Tidak ada kata terlambat dan juga tidak ada mengapa tidak dulu, mengapa baru sekarang. Garis ini yang seharusnya kita lewati. Waktu kita kan terus berpendar sampai detik ini dan juga detik selanjutnya."

Wednesday, November 7, 2018

Percakapan-percakapan Kecil

Percakapan-percakapan kecil yang tidak ingin dilukapan. 

A : Aku
D : Dia 

Suatu pagi hari
D : "Rambutmu udah panjangan lagi."
A : "Iya niatnya mau aku potong lagi."
D : "Jangan dipotong, biar panjang lagi aja. Soalnya bagus kalau rambutmu panjang."
A : "Kenapa gitu?"
D : "Karena bisa aku elus-elus, dan kamu kelihatan lebih cantik." 

Suatu siang hari
D : "Aku ngga peduli orang lain mau ngomong apa, aku tetep sayang kamu. Aku ngga peduli orang lain mau mandang dan mikir gimana, aku tetep sayang sama kamu."
A : "Iya, aku juga merasakan hal yang sama." 
D : "Aku sayang kamu." 

Suatu sore hari
A : "Mata kamu cokelat yaa. Eh iya kalo misal aku pake kontak lensa gimana?" 
D : "Jangan. Ngga boleh. Bukannya apa, bahayanya itu. Kalo misal kena debu dan lain-lain gimana?"
A : "Iya juga sih apalagi aku pelupa." 
D : "Nah itu.. kamu juga kan kadang ceroboh suka lupa. Kalau mandi lupa lepas lensanya gimana? Nanti malah ngga bisa dipake lagi." 
A : "Iya juga sih.." 
D : "Iya pake kacamata aja, kamu bagus kok pake kacamata. Allah kasih kamu mata minus biar kamu kelihatan lebih cantik juga pake kacamata." 
A : "Ahh kamu mah." 
D : "Haha beneran." 
A : "Yaudah aku beli kacamata aja deh." 
D : "Iya jadi ngga boleh ya. Beli kacamata aja ngga usah pake kontak lens." 

Masih disuatu sore hari 
A : "Ih, kumis kamu ada yang putih." 
D : Hening ngeliatin sambil pegangin kumis..
A : "Hihi kumis kamu aja udah ada ubannya berarti kamu udah tua." (Bicara sambil tertawa) 
D : "Ck iya emang udah tua." (Bicara dengan bibir manyun dan mukanya yang merengut)
A : "Hahahah engga kok kamu tetep ganteng, mau ada ubannya atau bertambah usia juga kamu tetep ganteng." 
D : "Emang aku ganteng kali." 
Kemudian kita berdua tertawa bersama-sama 

Suatu malam hari 
Air mata tiba-tiba mengalir deras dari pelupuk mataku 
D : "Nangis aja kalau kamu mau nangis. Nangis sepuas kamu sampai kamu merasa tenang." 
A : Masih sesengukan..
D : "Asal besok-besok jangan nangis lagi, kalau kamu mau nangis boleh, tapi didepan aku aja." 
A : "Iyaa.." 
D : "Udah udah." 
A : Masih mengusap air mata.
D : "Lagian kamu ngapain nangisin aku sih." 
A : "Kamu mah.." 
D : "Hahahaha udah yah.. besok-besok ngga boleh nangis lagi loh. Sekarang dipuasin dulu deh nangisnya yang penting setelahnya kamu merasa tenang."


Monday, November 5, 2018

Sebab Jarak

Mencintaimu, berat sekali. 
Ada banyak sekali ekspektasi-ekspektasi muncul dalam kepalaku. Padahal jarak antara rindu dan dekapan ialah sejauh telapak kakiku dengan awan dilangit. Secuil harapan-harapan muncul menggelembung menjadi doa yang selalu ku panjatkan sehabis sujudku. Bahwasanya tidak ada yang bisa kulakukan selain berserah pasrah. 

Lawan dari bertemu bukanlah berpisah, melainkan kehilangan. Langkahmu yang kian menjauh membuatku semakin hari semakin tersudut. Membesarkan segala khawatir yang tidak memiliki muaranya. Setiap kali datang, kalimat 'aku baik-baik saja' selalu berhasil menjadi penyelamatnya. Sebab, aku hanya perempuan yang mudah sekali rapuh.
 
Maafkan aku yang mudah untuk mengeluh, sebab jauh darimu ialah hal paling menakutkan untukku. Mencintaimu sudah berat sekali, ditambah harus menanggung rindu yang kian bertumpuk ditiap-tiap waktu. Harus berkejar-kejaran dengan segenap perasahaan ikhlas untuk menghela tiap perasaan yang terus berkecamuk dalam dada.

Katamu, kau pencemburu. Lalu, bagaimana denganku yang harus berebut dirimu dengan jarak, waktu dan ruang yang fana? Bukan hanya itu pula. Aku juga harus berebut dengan segala apa yang kau punya, yang bukan termasuk aku didalamnya. Aku hanya perempuan yang mudah patah. Kehilangan arah karena terus merindu. Menimang-nimang denyut nadiku yang terus berdenyut mendetakkan namamu. Dikeheningan pun keramaian.

Aku akan diam. Diam dan terus diam menunggu.. Sebab katamu, aku harus perlahan menunggu, bukan? Aku akan menunggu ditempatku. Sambil sesekali menengok ke dalam isi kepalaku. Apakah masih selalu ada kenangan antara kau dan aku?

Your Twinflame

Mungkin, pada saatnya nanti ketika kau mengetahui bahwa jalanku bukan lagi ke arahmu, kau akan menangis dengan kencang. Memaki jalan hidupmu...