Sunday, April 16, 2017

Rentang Waktu


Dua Belas Tahun Lalu

Tidak sedikit anak menghilangkan kesedihan daripada bermain
Begitu juga kau
Terpaku pada seorang gadis cilik,
aku namanya
Jalan berliku-liku, dan kau tersenyum
Namun tak kutemukan benang itu 


Sembilan Tahun Lalu

Layaknya seorang anak muda yang dimabuk cinta
kau memberanikan diri untuk menyapa
Aku tak mengapa,
sebab aku bicara juga pada dedaunan, kucing liar
Mencoba memahami setiap percakapan yang terlontar
Namun kau malah membawaku hanyut pada labirin yang tak terpecahkan
Kau pasti tidak tahu kalau aku mengamuk
Lalu pergi begitu saja

 

Enam Tahun Lalu

Patah hati ialah duka paling nestapa bagi seorang pecinta sepertiku
Kehilangan seperuh jiwa seperti dihujam begitu banyak tombak
tak tertahankan perihnya
Kemudian kau masuk kembali mencoba berbagai macam peruntungan
Kalau saja aku bisa menjadi bagian dari hidup panjangmu
Kalau saja aku bisa menggenapkanmu
Kau pasti tidak tahu,
Racun hanya membutuhkan penawar
Aku bisa melihatnya hanya dari binar matamu
Bahwa tidak ada satupun penawar yang kau punya
Penawar itu ialah cinta



Empat Tahun Lalu

Ilmu Pengetahuan telah memenuhi dirimu
Aku bisa melihatnya
Lantas kau ceritakan misteri-misteri mengenai organisasi dunia yang begitu keren-menurutmu
Namun buatku hal itu bukan sesuatu yang patut dibanggakan
Karena teori tersebut, bisa menghancurkan kehidupan yang Tuhan Ciptakan
Akhirnya kita berselisih paham,
Untuk pertama kalinya aku bertengkar soal pandangan yang berbeda

 

Dua Tahun Lalu

Setelah kekacauan terakhir, aku tidak lagi mendapat kabar
Tidak juga berpikir mengenai kabar baik atau burukmu
Masih kutemukan pesan-pesan di salah satu akun sosial mediaku bahwa kau meminta maaf dan ingin memulai lagi pertemanan
Saking lelahnya, akhirnya kau hanya menawarkan untuk datang ke acara yang kau adakan bersama teman organisasimu
Lagi-lagi, aku tidak menggubris

 

Satu Tahun Lalu

Bunga yang mekar pada akhirnya akan layu juga
Begitu juga amarah
Muncul pesan lagi di salah satu akun sosal mediaku
Kau rupanya
Aku pun menyerah untuk marah
Untuk apa pula aku marah?
Awalnya kau hanya ingin kembali menyapa dan menyambung kembali pertemanan
Aku mendengarkan segala apa yang ingin kau ceritakan
Meski aku tahu pertemanan yang kau maksud bukan hanya sekedar pertemanan
Kau bilang aku berada dipuncak tertinggi di suatu gedung kosong. Tidak ada lift
Kau bilang aku berada pada level tertinggi dari suatu game, yang sama sekali tidak bisa kau taktulakan
Baik dulu maupun sekarang
Aku melihat luka
Jauh di lubuk hatimu, ada lubang yang mengaga begitu lebar
Aku bisa merasakannya
karena hidupku ditahun-tahun sebelumnya ialah hidup penuh luka, penuh dengan rasa bersalah, penuh dengan darah ditangan kanan maupun kiri
Aku tambah yakin ketika melihat kedua bola matamu secara langsung
Kau pasti tidak tahu
Aku merasa lega, pada akhirnya kau mengerti bagaimana rasanya mencintai kemudian patah hati
Ini waktu yang tepat untuk menyembuhkan luka, baik kau maupun aku
Dan kau  menemukan penawarmu,
Ialah aku
Ialah kau

Tuesday, April 11, 2017

Musafir Durjana

selangkah lagi kau kan memasuki ruang penuh tahta
di sebagiannya ialah karangan, mawarmu
perlahan kau kan lihat taman perasingan paling durjana
dipenuhi rangkaian bunga penuh balutan duri berisi racun yang kan membunuhmu

katanya kau musafir yang berasal dari gurun Sahara
maka ku perkenalkan, aku

bola matamu sejernih lautan lepas
maka lantas ku tak percaya kau ialah musafir paling kejam seantero jagad raya
baiknya duduklah dahulu dan lihatlah ruang yang baru itu
adakah mungkin ingin kau rampas cantiknya
atau kau rawatlah dengan peluhmu

"Bunuhlah aku." Ucapmu dengan tenang sembari duduk di balik pintu
"Aku hanya pergi untuk berhenti mencintainya, Nona."

malam menjadi amat panjang
kemudian ku tatap lekat-lekat matanya, sekali lagi
lalu adakah lelaki durjana dengan tatapan mata sehangat sekaligus sesendu bidakara langit malam?

Friday, March 24, 2017

Sebait Kau

Ialah kau 
Segelas duka juga nestapa yang telah tersedia di meja makan
Mengunyah perlahan-lahan 
Menjadi gumpalan-gumpalan di dalam rahim ibu 

Cinta ialah nyanyian buih-buih embun
Di situ kau letakkan seluruhnya 
Memisahkan duka dan bahagia 
Menjadi bait-bait rindu 

Ialah kau 
Secarik kertas dengan tinta merah 
Berisi darah dari kisah malam panjang kumbara 

Cinta ialah desau angin berangin malam hari 
Memuncak pada bibir pantai 
Dengan segala luruh hujan

Tengoklah ke belakang 
Atau tataplah mata yang sebening lautan 
Masuklah ke dalamnya 
Kelak ada aku 
yang mencintaimu

Wednesday, March 8, 2017

BFF

Teruntuk, 

Sahabat paling baik sedunia. 

Aku ingin sekali membalas tulisan-tulisanmu untukku. Hanya saja waktu tidak pernah berpihak padaku. Hiks. Baru kali ini lagi aku memiliki kesempatan, jadi silahkan dibaca yah :')

Aku senang sekaligus bahagia, karena kukira selama ini kamu tidak pernah menganggapku se-spesial itu. Tiap kali membaca, aku selalu merasa terharu. Terima kasih. Sudah menganggapku sahabat baikmu bek. Iya, memang tidak ada yang kekal di dunia ini. Begitu juga dengan kita. Tapi harapku ialah kita selalu memiliki benang untuk tetap tersambung. Setipis apapun benang itu. Tidak apa, asal aku bisa tetap mendengar, membaca semua cerita-ceritamu yang seringkali membuatku takjub. 

Aku senang sekaligus bahagia, kalau kecintaanku pada sastra dan juga seni membuatmu berkembang jauh lebih baik melebihi aku. Setidaknya aku merasa diriku berguna. Terima kasih telah mengingatkanku pernah melakukan hal baik. Jujur, aku sedang kehilangan arah. Ingin sekali berbagi cerita lagi, cerita-cerita yang sering ku pendam sendiri karena entah harus berbagi dengan siapa. Aku juga tidak ingin cerita kita hanya tentang itu-itu saja. Mengenai firasat buruk, mengenai hal-hal yang sering kita bahas. 

Aku senang sekaligus bahagia, kalau aku selalu menjadi segala yang baik untukmu. Harapku selalu sama, semoga harapmu dan harapku akan terus menjadikan kita tetap tersambung, seperti yang kau bilang dulu. Terima kasih, berkat dirimu aku merasa berguna :)

Tertanda, 

Perempuan yang banyak khayal.



Sunday, February 19, 2017

Rindu

Sudah lama aku memenjarakanmu
Dalam puisi-puisiku
Dalam bahasa paling kalbu
Menyiratkan duka paling lara untukmu

Ah..
Rasanya kau dan aku tak pernah memiliki jalan yang searah
Kau selalu ke barat
Sedang aku selalu ke selatan
Berjalan, sambil menunggu
Ilalag hilang di pinggir jalan

Kau tak tau seberapa lama aku berdiam di persimpangan jalan
Dengan harap kalau saja ada pertemuan
Kalau saja benang merah itu masih tersisa

Tiap kali ku kembali
Pada keramaian
Pun kesepian
Harapku ialah temu, meski hanya bayangmu
Meski hanya punggungmu

Katakan padaku
Betapa kau rindu binar mata
Juga hangat peluk di tengah hiruk pikuk dunia
Dengan begitu aku akan berlari
Pergi mendekap
Tubuhmu

Maka kau akan tau betapa ku kekalkan rindu begitu dalam di relung hati
Menyemayamkan segala pedih
Maka janganlah kau sambut kicauan burung-burung pantai
Sebab cinta ialah tempatmu pulang

Friday, February 17, 2017

Inang Sahara

Dari banyaknya tetesan hujan 
Ada setetes rindu 
Menyelinap dalam aliran syahdu mata 
Deras tiap malamnya 

Bagaimana mungkin bait demi baitnya selalu saja sama?
Sedang Tuannya sudah pergi menjauhi dunia 
Mengekalkan gundah gulana 
Menjadikan warna mata si Inang kelabu 

Tidak percaya 
Pada cincin di jari manisnya
Sebab aku ingat cumbuan panas di tengah gurun sahara 
Sebab aku ingat betapa lembut suara, juga sentuhan demi sentuhan
Memabukkan 
Hingga hanyut pada kahyangan 
Pada malam-malam berbintang 

Jangan tanyakan mengapa 
Karena si Ratu hendak memenggal kepalaku 
Meguliti daging ku untuk di santapnya 

Di araknya ke tengah lapangan luas 
Rakyatnya memenuhi panggilan
Untuk menyaksikan
Kematianku 
Sebab Tuannya sudah pergi lebih dulu 
Di rebus dalam panci panas mengekalkan segala rindu 

Katanya, Tuan bisa memeristri lebih dari Ratu 
Nyatanya kepunyaannya di renggut pula
Kecintaannya, 
hingga bisa membawa Tuan pada kenikmatan dunia 
lebih dari Ratu 
Lebih dari Ratu yang hanya memberikan isi dunia pada Tuan 

"Aku mencintaimu" bisiknya di tengah desahan tiada henti 
Nyatanya kau mati juga, Tuan.

Lalu pada terik matahaari pagi 
Juga pada rinai hujan malam tadi 
Aku bersumpah akan mengutuk segala rindu
yang bermula dari Sungai Nil 
hingga gurun sahara 

Sudah

Ratumu telah bersiap memangsa se-ekor ular macam diriku 
Tunggulah di neraka 
Aku tidak sabar ingin mengadu 

Bahwa aku juga mencintaimu, Tuan
Bahwa aku akan menghancurkanmu sekali lagi, Tuan. 

Dalam kepedihan paling lara
Dunia Nyata 
maupun nerakamu

Saturday, February 4, 2017

Hilang-mu


1
Suara deburan ombak
Semilir angin
Aroma laut
Kamu
Menghilang di gulung ombak dan tak kembali
Dinginnya air laut yang menyentuh kakiku
Tak bisa membawaku padamu
yang hilang

2
Awan begitu gelap
Juga perasaan yang tak dapat ku bendung
Tetetsan mata air
Air mataku
Juga jatuh bersama dengan luka pedih perih
Genggammu tlah tiada 
Aku sendiri
Lagi

3
Kemana harus ku lari, kekasih?
Sedang jingga yang biasa kita lukis berganti jadi pekatnya gelap awan
Sedang tiada lagi burung-burung laut
yang kita lihat sore hari di bibir pantai
Menunggu jingga
Menunggu terbenamnya pencahayaan dunia

4
Sudah berminggu-minggu
Sudah berbulan-bulan
Aku masih menunggumu
Kembali
Dari balik ombak
Berharap kau hanya tersesat di dunia kahyangan
Lalu kembali lagi dengan cintamu yang selalu menghangatkan

5
Aku tak pernah bisa tidur
Kau terus saja muncul
Dengan senyum terbaik
Dengan suara termerdu
Ketika bangun aku selalu berlari
Ingin menenggelamkan diri untuk bertemu denganmu lagi
Lalu Bapak menamparku
Katanya kau tlah tiada

6
Dusta paling keji ialah kehilanganmu
Lukanya begitu menusuk sampai remuk
Tulang
Padahal ilusi
Padahal imaji
Yang di nyata-kan
Kemudian meronta-ronta
Meringis
Padahal sakitnya di hati-ku

7
Rindu pun terus membelai malamku
Siangku
Pagiku
Senjaku
Hingga ku balik lagi ke bibir pantai
Dengan payung untuk menutupi dukaku
Sebab
Kematianmu
Juga cintaku



Your Twinflame

Mungkin, pada saatnya nanti ketika kau mengetahui bahwa jalanku bukan lagi ke arahmu, kau akan menangis dengan kencang. Memaki jalan hidupmu...