Sunday, May 28, 2017
Dimana
Sunday, April 16, 2017
Rentang Waktu
Terpaku pada seorang gadis cilik,
aku namanya
Jalan berliku-liku, dan kau tersenyum
Namun tak kutemukan benang itu
Aku tak mengapa,
sebab aku bicara juga pada dedaunan, kucing liar
Mencoba memahami setiap percakapan yang terlontar
Namun kau malah membawaku hanyut pada labirin yang tak terpecahkan
Kau pasti tidak tahu kalau aku mengamuk
Lalu pergi begitu saja
Patah hati ialah duka paling nestapa bagi seorang pecinta sepertiku
Kehilangan seperuh jiwa seperti dihujam begitu banyak tombak
tak tertahankan perihnya
Kemudian kau masuk kembali mencoba berbagai macam peruntungan
Kalau saja aku bisa menjadi bagian dari hidup panjangmu
Kalau saja aku bisa menggenapkanmu
Kau pasti tidak tahu,
Racun hanya membutuhkan penawar
Aku bisa melihatnya hanya dari binar matamu
Bahwa tidak ada satupun penawar yang kau punya
Penawar itu ialah cinta
Ilmu Pengetahuan telah memenuhi dirimu
Aku bisa melihatnya
Lantas kau ceritakan misteri-misteri mengenai organisasi dunia yang begitu keren-menurutmu
Namun buatku hal itu bukan sesuatu yang patut dibanggakan
Karena teori tersebut, bisa menghancurkan kehidupan yang Tuhan Ciptakan
Akhirnya kita berselisih paham,
Untuk pertama kalinya aku bertengkar soal pandangan yang berbeda
Setelah kekacauan terakhir, aku tidak lagi mendapat kabar
Tidak juga berpikir mengenai kabar baik atau burukmu
Masih kutemukan pesan-pesan di salah satu akun sosial mediaku bahwa kau meminta maaf dan ingin memulai lagi pertemanan
Saking lelahnya, akhirnya kau hanya menawarkan untuk datang ke acara yang kau adakan bersama teman organisasimu
Lagi-lagi, aku tidak menggubris
Bunga yang mekar pada akhirnya akan layu juga
Begitu juga amarah
Muncul pesan lagi di salah satu akun sosal mediaku
Kau rupanya
Aku pun menyerah untuk marah
Untuk apa pula aku marah?
Awalnya kau hanya ingin kembali menyapa dan menyambung kembali pertemanan
Aku mendengarkan segala apa yang ingin kau ceritakan
Meski aku tahu pertemanan yang kau maksud bukan hanya sekedar pertemanan
Kau bilang aku berada dipuncak tertinggi di suatu gedung kosong. Tidak ada lift
Kau bilang aku berada pada level tertinggi dari suatu game, yang sama sekali tidak bisa kau taktulakan
Baik dulu maupun sekarang
Aku melihat luka
Jauh di lubuk hatimu, ada lubang yang mengaga begitu lebar
Aku bisa merasakannya
karena hidupku ditahun-tahun sebelumnya ialah hidup penuh luka, penuh dengan rasa bersalah, penuh dengan darah ditangan kanan maupun kiri
Aku tambah yakin ketika melihat kedua bola matamu secara langsung
Kau pasti tidak tahu
Aku merasa lega, pada akhirnya kau mengerti bagaimana rasanya mencintai kemudian patah hati
Ini waktu yang tepat untuk menyembuhkan luka, baik kau maupun aku
Dan kau menemukan penawarmu,
Ialah aku
Ialah kau
Tuesday, April 11, 2017
Musafir Durjana
selangkah lagi kau kan memasuki ruang penuh tahta
di sebagiannya ialah karangan, mawarmu
perlahan kau kan lihat taman perasingan paling durjana
dipenuhi rangkaian bunga penuh balutan duri berisi racun yang kan membunuhmu
katanya kau musafir yang berasal dari gurun Sahara
maka ku perkenalkan, aku
bola matamu sejernih lautan lepas
maka lantas ku tak percaya kau ialah musafir paling kejam seantero jagad raya
baiknya duduklah dahulu dan lihatlah ruang yang baru itu
adakah mungkin ingin kau rampas cantiknya
atau kau rawatlah dengan peluhmu
"Bunuhlah aku." Ucapmu dengan tenang sembari duduk di balik pintu
"Aku hanya pergi untuk berhenti mencintainya, Nona."
malam menjadi amat panjang
kemudian ku tatap lekat-lekat matanya, sekali lagi
lalu adakah lelaki durjana dengan tatapan mata sehangat sekaligus sesendu bidakara langit malam?
Friday, March 24, 2017
Sebait Kau
yang mencintaimu
Wednesday, March 8, 2017
BFF
Sahabat paling baik sedunia.
Aku ingin sekali membalas tulisan-tulisanmu untukku. Hanya saja waktu tidak pernah berpihak padaku. Hiks. Baru kali ini lagi aku memiliki kesempatan, jadi silahkan dibaca yah :')
Aku senang sekaligus bahagia, karena kukira selama ini kamu tidak pernah menganggapku se-spesial itu. Tiap kali membaca, aku selalu merasa terharu. Terima kasih. Sudah menganggapku sahabat baikmu bek. Iya, memang tidak ada yang kekal di dunia ini. Begitu juga dengan kita. Tapi harapku ialah kita selalu memiliki benang untuk tetap tersambung. Setipis apapun benang itu. Tidak apa, asal aku bisa tetap mendengar, membaca semua cerita-ceritamu yang seringkali membuatku takjub.
Aku senang sekaligus bahagia, kalau kecintaanku pada sastra dan juga seni membuatmu berkembang jauh lebih baik melebihi aku. Setidaknya aku merasa diriku berguna. Terima kasih telah mengingatkanku pernah melakukan hal baik. Jujur, aku sedang kehilangan arah. Ingin sekali berbagi cerita lagi, cerita-cerita yang sering ku pendam sendiri karena entah harus berbagi dengan siapa. Aku juga tidak ingin cerita kita hanya tentang itu-itu saja. Mengenai firasat buruk, mengenai hal-hal yang sering kita bahas.
Aku senang sekaligus bahagia, kalau aku selalu menjadi segala yang baik untukmu. Harapku selalu sama, semoga harapmu dan harapku akan terus menjadikan kita tetap tersambung, seperti yang kau bilang dulu. Terima kasih, berkat dirimu aku merasa berguna :)
Tertanda,
Perempuan yang banyak khayal.
Sunday, February 19, 2017
Rindu
Sudah lama aku memenjarakanmu
Dalam puisi-puisiku
Dalam bahasa paling kalbu
Menyiratkan duka paling lara untukmu
Ah..
Rasanya kau dan aku tak pernah memiliki jalan yang searah
Kau selalu ke barat
Sedang aku selalu ke selatan
Berjalan, sambil menunggu
Ilalag hilang di pinggir jalan
Kau tak tau seberapa lama aku berdiam di persimpangan jalan
Dengan harap kalau saja ada pertemuan
Kalau saja benang merah itu masih tersisa
Tiap kali ku kembali
Pada keramaian
Pun kesepian
Harapku ialah temu, meski hanya bayangmu
Meski hanya punggungmu
Katakan padaku
Betapa kau rindu binar mata
Juga hangat peluk di tengah hiruk pikuk dunia
Dengan begitu aku akan berlari
Pergi mendekap
Tubuhmu
Maka kau akan tau betapa ku kekalkan rindu begitu dalam di relung hati
Menyemayamkan segala pedih
Maka janganlah kau sambut kicauan burung-burung pantai
Sebab cinta ialah tempatmu pulang
Friday, February 17, 2017
Inang Sahara
Your Twinflame
Mungkin, pada saatnya nanti ketika kau mengetahui bahwa jalanku bukan lagi ke arahmu, kau akan menangis dengan kencang. Memaki jalan hidupmu...
-
Hujan rintik-rintik Deras kemudian Angin kencang di luar Aku gigil Lampu rumah mati Sembunyi aku dibalik selimut hangat Samar-samar ku deng...
-
Aku menulis ini setelah melewati hari dengan bertemu dengan sahabat-sahabatku. Kami berdiskusi -lebih tepatnya diberikan nasihat, dan konsul...
-
Mungkin, pada saatnya nanti ketika kau mengetahui bahwa jalanku bukan lagi ke arahmu, kau akan menangis dengan kencang. Memaki jalan hidupmu...