Tuesday, June 12, 2018

Secuil Mimpi

Diantara mimpi mimpi itu, ada mimpi dimana aku bisa bersandar dibahumu sambil bercerita tentang gaduhnya pasar yang kudatangi sebelum setibanya kau dirumah. Sambil menggenggam tangan juga mendengarkan detak jantungmu.

Diantara mimpi mimpi itu, ada mimpi dimana aku bisa bernyanyi setiap waktu untuk sekedar menghiburmu dari hari yang sulit. Sambil mengajakmu bernyanyi dan berdansa bersama.

Sambil menyesap teh hangat, ku siap mendengarkan celotehmu, melihat kedalam bola matamu tentang sejuta perasaanmu saat itu.

Aku sudah tidak lagi menjadi warga kahyangan. Telah diusirnya aku dari sana. Maka dari itu begitu banyak mimpi yang tiba-tiba muncul ketika memikirkanmu.

Ironi, kataku.
Tiap kali memikirkan mimpi kecil yang diam-diam mulai memenuhi pikiran. Tidak bisa ku bilang tidak, sebab hati mudah terluka.

Sembari bermipi aku berdoa pada semesta, mengabulkan segala harap, mengabulkan segala doa, agar bisa terus bersamamu dalam suka dan dukaku.

Friday, June 1, 2018

Waktu Pertama Dan Hari Ini

Kamu tahu saat pertemuan pertama kita setelah sekian lamanya itu?
Aku tahu, bahwa kau ingin menarikku masuk ke dalam hidupmu.
Aku tahu, kau begitu penuh ragu waktu pertama kau rengkuh tubuhku.
Aku tahu, kau hanya butuh disembuhkan dari luka yang masih mengaga begitu lebarnya, dari duka berkepanjangan, dari hasrat yang masih terpendam dalam dadamu.
Aku tahu.
Siapa bilang aku tidak tahu?

Tapi, aku adalah manusia yang penuh maaf.
Begitu penuhnya aku lupa luka apa saja yang telah tertinggal pada diriku.
Aku hanya ingat sakitnya saja, aku hanya ingat bekasnya saja.

Buatku, tidak apa-apa.
Tidak apa-apa karena aku pasti akan sembuh.
Lukaku hanya luka kecil yang tidak kentara, bahkan dari raut wajah maupun sorot mataku.
Mana mungkin kau dapat melihatnya sedang kau sibuk menata hatimu sendiri?

Tapi, apa kau tidak lelah dengan kepura-puraan kita selama ini?
Apa karena kau juga sulit melepas egomu itu?
Kita tidak bisa merubah sesal yang sudah terjadi.
Aku juga tidak ingin menyesal, tidak sayang.
Mencintai dengan duka berkepanjangan apa tidak membuatmu jengah? Sedang kau dengan terusnya membohongi diri.
Mengiyakan segala ingin, demi memenuhi hasrat ego pada diri.

Bolehkah aku jujur?
Aku lelah..
Benarkah aku yang dibutuhkan? Untuk apa? Untuk mencintaimu? Atau menerima semua egomu?

Saturday, May 19, 2018

Semesta

Biarkan rindu kutitipkan pada hujan
Biarkan syahdu kasihku, kutitipkan pada nada-nada lagu ditiap musik yang kau alunkan

Agar sampai padamu segala rasa yang membuncah di dada
Agar dapat kau dengar bisikanku disana

Berharap semesta memberikan kesempatan pada dua anak manusia yang sedang jatuh cinta pun menrindu, untuk saling mencintai lagi dan lagi

Bahwasanya yang aku tahu,
Semesta hanya mengabulkan doa dari hati yang tulus, maka dari itu, sudah tuluskah engkau dalam memintaku?

Yang aku juga tahu,
Semesta akan mengembalikan hati pada kepunyaan sesungguhnya, maka dari itu, benarkah aku kepunyaan sesungguhnya?

Sunday, May 6, 2018

Lara.

Katakan aku gila,
Katakan aku biadab
Jalang yang tak tahu arah pulang

Waktu terus menyiksa batin dikedalaman saat semua terasa salah
Bahkan teriak hanya membawaku pada kehampaan

Secarik kertas itu tak berisi apapun jua
Secangkir kopi terlalu sedikit untuk kuseruput pada dinginnya malam
Tuk sejenak menyingkirkan lara

Pun pada akhirnya,
Orang-orang kan meneriaki, mencaci, mendengki

Katakan aku gila,
Katakan aku biadab
Jalang yang tak tahu arah pulang

Aku akan pulang kehadapan Bunda, sambil menangis mengais-ais
Minta dikasihani
Minta diampuni
Agar jiwaku tenang di dunia
Agar kehampaan berisi kecintaan
Pada fana
Juga nyata

Saturday, April 28, 2018

Pernah

Aku pernah menunggu
Sambil berharap-harap cemas
Sambil berucap-ucap doa
Semoga ia baik-baik saja disana

Kemudian pada suatu hari badai datang
Memporak-porandakan
Hatiku
Menjadi berkeping-keping

Nelangsa aku
Betapa kosong dan hampa rasanya hati
Dan aku membenci saat-saat itu
Saat-saat aku menunggu, begitu lama
Sampai hancur menjadi pecahan kenangan yang biasa disebut masa lalu

*

Setiap kali malam datang,
Ku panjatkan doa-doa
Agar semesta membiarkanku bahagia
Tanpa sesal
Tanpa menoleh kembali pada masa yang menjadikan aku bukan aku yang biasa

Setiap kali malam datang,
Ku panjatkan pula syair-syair
Untuk mengenang duka, menghapus lara
Bahwasanya semesta telah membiarkanku bahagia
Dengan keberadaan yang entah sampai kapan,
Entah sampai dipersimpangan, atau rumah ditepian

Sunday, April 1, 2018

Aroma Malam

Tiba disuatu malam
Jiwaku melangkah menuju bintang-bintang bertaburan
Meresapi harum aroma malam yang begitu khas
Aroma kenangan

Ku pejamkan mata, dan mengenang kembali
Masa-masa dimana cinta begitu menggairahkan
Juga begitu menyakitkan

Ku buka kedua bola mataku, dan duduk diperaduan dekat dengan cahaya rembulan

Aku bernyanyi
Menyanyikan nada-nada sendu
Kembali menghirup aroma khas malam

Suka
Duka
Bahagia
Luka
Rindu

Melebur pada irama yang ku senandungkan

Kemudian ada seseorang datang menghampiriku sambil berkata,

"Jangan bersedih, aku ada disini."

Monday, December 25, 2017

Kisah di Malam Hari

Pernah pada suatu hari aku duduk termenung dibalik jendela.
Mengenang kembali detik tiap detik yang telah terlewat.
Ada sekelebat perasaan yang mengikis ruang sendu dalam dada.
Ia memintaku menyudahi saja acara yang kulakukan sendiri itu. 

Kemudian dari padanya aku melangkah.
Melangkah tanpa pernah menoleh.
Melangkah tanpa pernah duduk lagi dibalik jendela sambil menyesap kopi beraroma masa lalu.
Aku terus berjalan. 

Kemudian aku bertemu padanya dipersimpangan jalan.
Ia bersimbah darah,
penuh luka. 

Aku membiarkannya masuk ke rumahku, dengannya kubasuh lukanya satu persatu hingga kering.
Membasuh dukanya hingga yang tersisa hanya senyum yang merekah di wajah. 

Aku tidak ingat lagi bagaimana caraku melangkah pada mulanya.
Setahuku, itu bermula pada saat aku mendengar bisikan kecil dari hati yang menyuruhku menyudahi saja duka berkepanjangan itu.

Kemudian ku bagikan secuil kisahku padanya untuk menghapus segala lara. Bahwa yang telah pergi, tidak akan kembali lagi.
Bahwa,
Kesepian adalah jalan pulang menuju rumah di tepian. 

Maka sambutlah dekap tangan penuh harapan, semoga senyum itu terus merekah di wajah. Kelak akan ku setubuhi segala rindu dalam malam-malam syahdu, bermandikan aroma kisah duka lara pun bahagia yang telah terjalin, hingga kini..

Your Twinflame

Mungkin, pada saatnya nanti ketika kau mengetahui bahwa jalanku bukan lagi ke arahmu, kau akan menangis dengan kencang. Memaki jalan hidupmu...