Sunday, January 29, 2017
Tidak Ada
Duka
Saturday, January 14, 2017
Jendela Kesedihan-ku
Aku ingin memuisikanmu
Lewat semilir angin
Lewat jalan-jalan sunyi
Pun ramai di malam hari
Aku ingin memenjarakanmu
Dengan jeruji besi
Dengan baja yang begitu kuat
Aku ingin melipat segala sejarahmu
Membakar
Membuang
Menggantikannya dengan yang baru
Kau yang baru dengan puisi-puisiku
Melalui tinta yang ku teteskan di atas dedaunan kering
Basah
Menjadikannya cerita baru nan utuh
Kemudian aku berlari
Setelah mengintip dari balik jendela
Bahwa kau tlah berubah
Jendela yang menembus masa depan yang mulanya ku ciptakan sendiri
Dengan pena
Bait demi bait
Pagar dedaunan
Kau terdiam disitu
Menungguku di balik jendela kasat mata
Memohon kembaliku
Hanya aku memandangimu dari kejauhan masa depan
Tak dapat kau lihat
Pun menengok barang sepersekian detik
Kemudian,
aku pergi lagi menjalani pedih perih duka tiada ujung
Mendendangkan alunan kesepianku sendiri
Tanpa tanganmu yang jauh di balik jendela itu
Aku ingin kembali
Mencintaimu dengan utuh
Memeluk cintamu
Mendekap segala rindu
Lalu aku berlari lagi
Kembali pada jendela kasat mata
Pada tempat biasa melihatmu dari masa depan
Kau pun tak ada
Tidak di tempat biasa kau menungguku
Sambil menangis layaknya bayi baru keluar dari rahim ibu
Aku menangis sejadi-jadinya
Aku mengelu sepedih-pedihnya
Aku tak bisa kembali lagi
Sunday, December 18, 2016
Tak Apa, Sayang
Aku
Monday, December 5, 2016
Di Belantara
Air
Hujan
Hujan
Air
Di tanah
Layu
Rusuk
Berduri
Sisa
Hidup
dan
Mati
Berjalan
Jalan
Jalan
Di jalan
Meraung
Aung
Di hutan
Belantara
Tiada
Dusta
Lirih
Lirih
Pedihnya
Sepi
Koyak
Mengoyak
Meronta
Meminta
Ah!
Sudah biasa
Melapas
Cengkram
Di tangan
Sudah..
Sudah..
Pergi
Yusi,
05 Desember 2016
Sunday, November 27, 2016
Bagaimana Jadinya?
Kau pernah mengatakan, "apa jadinya hidupku tanpa kamu?". Aku tidak tahu. Aku benar-benar tidak tahu. Karena aku tidak tahu seberapa dalam kau menyelami perasaanmu sendiri. Tapi kalau pertanyaan itu ku suguhkan untuk diriku sendiri, maka jawaban yang paling tepat adalah Berat.
Kalau hidupku kemudian berubah menjadi sendiri lagi, aku masih tetap bisa bernafas, menjalani segalanya layaknya hari-hari biasanya. Namun Sayang, hidupku telah begitu berat. Denganmu segalanya terasa lebih ringan juga tepat. Karena aku tahu akan ada pelukan hangat untuk membuatku merasa lebih tenang. Akan ada pundak untukku bersandar tiap kali aku merasa lelah. Akan ada tangan yang siap mengusap segala tangis karena lemahnya diri ini dalam menjalani hidup. Tapi yang membuatnya menjadi lebih ringan ialah hanya kehadiran dirimu. Kalau kau pergi begitu saja, menghilangkan "kita" menjadi aku dan kamu, maka tidak akan ada kata bersama. Dan itu membuat segalanya akan menjadi lebih berat, dan berat lagi.
Bagaimana mungkin kau mampu melewati harimu yang tanpa aku? Tidak akan ada ucapan Selamat Pagi, pun Selamat Tidur. Tidak akan ada yang mengoceh tentang jam tidur atau pun pola makanmu yang selalu membuatku geleng-geleng kepala. Tidak akan ada yang mendengarkan segala cerita-ceritamu, pun mimpimu di malam hari yang sering kali membuatku merasa takjub. Tidak akan ada lagi yang mengusap keringatmu dengan tisu ataupun handuk karena kelelahan menempuh perjalanan. Tidak akan ada yang menemanimu berdebat mengenai teori-teorimu yang terkadang begitu tajam, atau perdebatan kecil yang begitu panjang. Tidak akan ada yang menemanimu pada acara-acara pentingmu lagi. Tidak akan ada yang mencubit tubuhmu yang gempal karena lemak yang berlebih, padahal sebetulnya aku hanya gemas saja. Tidak akan ada lagi acara makan-makan yang selalu rutin kita lakukan tiap minggunya, atau acara jalan-jalan yang biasa kita lakukan untuk melepas rindu. Tidak akan ada senja sore hari yang kita lihat di bibir pantai. Tidak akan ada lagi tangisku karena kesal akibat tingkahmu yang kadang membuatku tidak tahan. Tidak ada lagi pembicaraan ringan pun berat mengenai langkah apa yang selanjutnya kita lakukan untuk hidup ke depannya, mengenai visi juga misi hidup yang kan kau maupun aku tempuh. Tidak akan ada lagi "kita" dalam hari-hari yang kan terlewati.
Menunggumu datang ialah kesukaanku. Dengan begitu akan ada cerita-cerita baru yang akan menambah daftar kenangan kita nantinya. Hidupku yang tanpa kamu ialah hidup tanpa kita, kau pun mungkin tahu bagaimana rasanya pun jadinya. Lalu bagaimana hidupmu yang tanpa aku, Sayang?
Saturday, October 15, 2016
Apa Lagi?
Your Twinflame
Mungkin, pada saatnya nanti ketika kau mengetahui bahwa jalanku bukan lagi ke arahmu, kau akan menangis dengan kencang. Memaki jalan hidupmu...
-
Hujan rintik-rintik Deras kemudian Angin kencang di luar Aku gigil Lampu rumah mati Sembunyi aku dibalik selimut hangat Samar-samar ku deng...
-
Aku menulis ini setelah melewati hari dengan bertemu dengan sahabat-sahabatku. Kami berdiskusi -lebih tepatnya diberikan nasihat, dan konsul...
-
Mungkin, pada saatnya nanti ketika kau mengetahui bahwa jalanku bukan lagi ke arahmu, kau akan menangis dengan kencang. Memaki jalan hidupmu...