Thursday, September 20, 2018
Monday, July 9, 2018
Temu
Aku hanya manusia bumi,
Baiknya, masuklah dulu sebentar
Sebab bumi hanya
Aku tidak ingin kau merasakan penderitaan ini
Sebab bumi akan kemarau.
Sunday, June 17, 2018
Waktu
Baru saja ku rapihkan buku-buku yang tergeletak di atas meja kamarku. Ada satu buku yang sangat mencolok, ia buku jurnal yang pernah diberikan teman SMAku sebagai hadian diulang tahun ke 17 tahun.
Ku buka lembar demi lembar, bait demi bait dalam tulisan yang sudah sangat usang itu. Ku lihat pula tanggal dan tahun yang selalu ku bubuhkan ketika menulis isi jurnal itu.
Kau..
Meski sejauh waktu ku berjalan, terus menjadi diksi dalam tiap bait tulisanku. Seperti nafas yang terhembus tiap hari dalam hidupku. Sudah berapa lama?
Bertahun-tahun lamanya..
Ku tutup buku jurnal itu. Ku temukan ponselku berdering. Ah.. ada pesan rupanya. Iya. Pesan darimu.
Aku baru saja menyudahi hubungan yang begitu pelik. Lalu kau tiba-tiba masuk kembali dalam hidupku menawarkan sebuah jalan bernama masa depan. Masa depan yang didalamnya ada kau dan aku. Memulai kembali sesuatu yang baru, katamu. Padahal dulu, jauh sebelum hari ini kau dan aku pernah berbagi rasa, cerita yang kemudian berakhir begitu saja.
Ya.. baik dulu maupun sekarang kau mampu membuatku goyah. Berkali ku katakan, masa depan itu begitu mustahil. Kau bilang doa yang tulus bisa begitu manjur terkabul. Katamu kau memintaku dalam doamu.
Lantas.. sambil berdoa kau membuat komitmen pula dengan seorang wanita yang entah siapa aku pun tidak mengenalnya. Katamu, selama aku belum yakin kau akan bermain memanjakan diri dengan yang lain. Menurutmu bagaimana aku bisa yakin?
Sudahlah..
Menyerah saja, kau dan aku selalu berada di atas benang tipis yang selalu bisa membuat kita berdua terjatuh kapan saja. Sudah ku katakan, berhenti saja. Jangan memintaku, jangan berdoa untukku dalam hidupmu. Aku benar-benar ingin mengakhirinya.. Dari tahun ke tahun doaku selalu sama, untuk kebahagiaanmu yang tanpaku. Berbahagia dengan yang lebih baik dibanding aku.
Aku tidak ingin, kau berlari tunggang langgang begitu tau aku bukan milikmu. Jadi, bisakah berhenti saja?
Tuesday, June 12, 2018
Secuil Mimpi
Diantara mimpi mimpi itu, ada mimpi dimana aku bisa bersandar dibahumu sambil bercerita tentang gaduhnya pasar yang kudatangi sebelum setibanya kau dirumah. Sambil menggenggam tangan juga mendengarkan detak jantungmu.
Diantara mimpi mimpi itu, ada mimpi dimana aku bisa bernyanyi setiap waktu untuk sekedar menghiburmu dari hari yang sulit. Sambil mengajakmu bernyanyi dan berdansa bersama.
Sambil menyesap teh hangat, ku siap mendengarkan celotehmu, melihat kedalam bola matamu tentang sejuta perasaanmu saat itu.
Aku sudah tidak lagi menjadi warga kahyangan. Telah diusirnya aku dari sana. Maka dari itu begitu banyak mimpi yang tiba-tiba muncul ketika memikirkanmu.
Ironi, kataku.
Tiap kali memikirkan mimpi kecil yang diam-diam mulai memenuhi pikiran. Tidak bisa ku bilang tidak, sebab hati mudah terluka.
Sembari bermipi aku berdoa pada semesta, mengabulkan segala harap, mengabulkan segala doa, agar bisa terus bersamamu dalam suka dan dukaku.
Friday, June 1, 2018
Waktu Pertama Dan Hari Ini
Kamu tahu saat pertemuan pertama kita setelah sekian lamanya itu?
Aku tahu, bahwa kau ingin menarikku masuk ke dalam hidupmu.
Aku tahu, kau begitu penuh ragu waktu pertama kau rengkuh tubuhku.
Aku tahu, kau hanya butuh disembuhkan dari luka yang masih mengaga begitu lebarnya, dari duka berkepanjangan, dari hasrat yang masih terpendam dalam dadamu.
Aku tahu.
Siapa bilang aku tidak tahu?
Tapi, aku adalah manusia yang penuh maaf.
Begitu penuhnya aku lupa luka apa saja yang telah tertinggal pada diriku.
Aku hanya ingat sakitnya saja, aku hanya ingat bekasnya saja.
Buatku, tidak apa-apa.
Tidak apa-apa karena aku pasti akan sembuh.
Lukaku hanya luka kecil yang tidak kentara, bahkan dari raut wajah maupun sorot mataku.
Mana mungkin kau dapat melihatnya sedang kau sibuk menata hatimu sendiri?
Tapi, apa kau tidak lelah dengan kepura-puraan kita selama ini?
Apa karena kau juga sulit melepas egomu itu?
Kita tidak bisa merubah sesal yang sudah terjadi.
Aku juga tidak ingin menyesal, tidak sayang.
Mencintai dengan duka berkepanjangan apa tidak membuatmu jengah? Sedang kau dengan terusnya membohongi diri.
Mengiyakan segala ingin, demi memenuhi hasrat ego pada diri.
Bolehkah aku jujur?
Aku lelah..
Benarkah aku yang dibutuhkan? Untuk apa? Untuk mencintaimu? Atau menerima semua egomu?
Saturday, May 19, 2018
Semesta
Biarkan rindu kutitipkan pada hujan
Biarkan syahdu kasihku, kutitipkan pada nada-nada lagu ditiap musik yang kau alunkan
Agar sampai padamu segala rasa yang membuncah di dada
Agar dapat kau dengar bisikanku disana
Berharap semesta memberikan kesempatan pada dua anak manusia yang sedang jatuh cinta pun menrindu, untuk saling mencintai lagi dan lagi
Bahwasanya yang aku tahu,
Semesta hanya mengabulkan doa dari hati yang tulus, maka dari itu, sudah tuluskah engkau dalam memintaku?
Yang aku juga tahu,
Semesta akan mengembalikan hati pada kepunyaan sesungguhnya, maka dari itu, benarkah aku kepunyaan sesungguhnya?
Sunday, May 6, 2018
Lara.
Katakan aku gila,
Katakan aku biadab
Jalang yang tak tahu arah pulang
Waktu terus menyiksa batin dikedalaman saat semua terasa salah
Bahkan teriak hanya membawaku pada kehampaan
Secarik kertas itu tak berisi apapun jua
Secangkir kopi terlalu sedikit untuk kuseruput pada dinginnya malam
Tuk sejenak menyingkirkan lara
Pun pada akhirnya,
Orang-orang kan meneriaki, mencaci, mendengki
Katakan aku gila,
Katakan aku biadab
Jalang yang tak tahu arah pulang
Aku akan pulang kehadapan Bunda, sambil menangis mengais-ais
Minta dikasihani
Minta diampuni
Agar jiwaku tenang di dunia
Agar kehampaan berisi kecintaan
Pada fana
Juga nyata
Your Twinflame
Mungkin, pada saatnya nanti ketika kau mengetahui bahwa jalanku bukan lagi ke arahmu, kau akan menangis dengan kencang. Memaki jalan hidupmu...
-
Hujan rintik-rintik Deras kemudian Angin kencang di luar Aku gigil Lampu rumah mati Sembunyi aku dibalik selimut hangat Samar-samar ku deng...
-
Aku menulis ini setelah melewati hari dengan bertemu dengan sahabat-sahabatku. Kami berdiskusi -lebih tepatnya diberikan nasihat, dan konsul...
-
Mungkin, pada saatnya nanti ketika kau mengetahui bahwa jalanku bukan lagi ke arahmu, kau akan menangis dengan kencang. Memaki jalan hidupmu...