Thursday, October 18, 2018

Kamu

Dalam satu masa perjalananku, aku bertemu dengan seseorang. Kamu namanya. Kamu datang dengan senyuman paling indah yang pernah ku temui di seluruh dunia ini. Kamu datang, dengan tawa paling renyah dari yang pernah ku dengar dari semua manusia di bumi. Kamu.. datang dengan segala kepasrahan kepada Semesta yang akhirnya membuat diri ini bersimpuh kemudian luluh lantak.

Tidak ada satu hal pun yang aku sesali bertatap mata dengan tatapan sedalam lautan. Aku bisa menemukan diriku tenggelam di sana. Tenggelam dalam begitu banyak cinta seindah samudera. Kamu pasti tidak tahu bahwa aku kepayahan karenanya kan? Tidak apa, kamu tidak perlu khawatirkan hal itu. Seandainya pun Semesta berkehendak lain, tidak ada yang bisa ku lakukan selain berserah pasrah. Kepada nasib yang telah tergaris sebelum kamu dan aku beranjak ke dunia yang fana ini.

Dari satu masa ke masa yang lainnya, menjelajah ruang dan waktu yang fana hingga jiwa saling bertemu dan menyatu dalam kedalaman rasa yang begitu dingin, juga hangat diwaktu bersamaan. Menumpuk rindu yang terus saja bergelayutan ditiap waktu. Memaksa diri untuk mengingat tiap jengkal hal yang telah terlewat.
Kamu.. dengan dekapan yang hangat, merengkuh tubuhku dengan segenap rasa memberiku segala ketenangan. Membelaiku sambil berkata, "Semua akan baik-baik saja."

Aku menggantungkan percayaku pada kalimat yang kamu ucapkan itu. Aku tidak percaya kalimat lainnya selain kalimat itu. Sebab, tiada muara paling teduh, selain tatapan mata juga dekap hangat tubuhmu. Yang tidak sekalipun berdusta..

Friday, October 12, 2018

Permata dan Senja

Katakan aku gila
Katakan aku tidak tahu diri
Kau boleh mengutukku seperti itu
Kau juga boleh mencaciku sepuasmu seperti itu

Tapi..
Apakah ada cinta yang salah?
Aku rasa tidak
Tidak ada yang salah dari cinta

Ia bisa saja menjerumuskanmu memperalatmu semakin candu
Tapi..
Apa ada perasaan cinta yang salah?
Tidak
Aku sangat yakin tidak

Mengapa begitu?
Karena aku pernah membaca buku, kalau seorang pencundang pada akhirnya juga bisa merasa bahagia. Dan ia merasakan bahagia hanya karena menemukan senyum yang hangat dibalik kemuning senja. Ia merasa bahagia menghadiahkan senja itu untuk kekasihnya.

Tentu saja itu hanya sepenggal cerita kebahagiaan yang kubaca dari sebuah buku tua di sebuah perpustakaan mini sekolahku dulu.

Pada ceritaku, kau boleh mengutukku sepuasmu. Tidak apa. Sebab, cinta dalam gambaran hidupku kini ialah seperti permata yang kutemukan dalam tumpukkan jerami. Kau pasti tahu bahwa permata memiliki kilauan yang indah. Kilauannya bisa membuatmu candu. Ia begitu berharga dan bermakna. Dalam tumpukkan jemari itulah aku memungutnya, mengambilnya, membawa pulang ke rumahku. Ku rawat segenap hati, menaruhnya ditempat paling suci. Ia kubawa kemana pun aku pergi dengan kilauannya begitu terpancar dengan indahnya. Aku seperti membawa sebuah keindahan tiada dua.
Namun.. permata yang ku temukan ditumpukkan jerami itu tentulah memiliki pemiliknya. Tidak mungkin ia begitu saja jatuh ke dalam tumpukkan jerami yang lusuh. Aku rasa pemiliknya pasti tidak sengaja menjatuhkannya. Kemudian ia lupa mengambilnya kembali sehingga permata itu ditemukan olehku.
Permata yang pada akhirnya ku bawa dan ku miliki sepenuh hati. Ada masanya nanti ia kan ku kembalikan, biar aku bilang pada Semesta untuk mengijinkanku memilikinya barang sewaktu saja. Dengan setulus hati.

Seibarat itu.

Kemudian, tiba pada suatu sore hari. Angin terus berserir-dersir, mengibaskan rambut yang terhelai sebatas perut. Ku pejamkan mata sambil mengulang kembali ingatan-ingatan yang segar dalam kepala. Aku merasakan sebuah dekapan dari belakang tubuhku menghangatkan seluruh hati yang tadinya sedingin kutub utara. Hangatnya menjalari seluruh tubuh membuat suatu perasaan ganjil yang belum pernah kutemui, kedamaian. Ketika ku buka mataku, hamparan laut luas begitu elok menyegarkan mata. Langit memancarkan senja yang keemas-emasan. Kicauan burung pantai bersaut-sautan bersamaan dengan deru angin bagai lantunan sebuah lagu alam semesta.  Ketengok kanan dan kiriku. Dan ternyata,  kedamaian itu hanya dalam kenanganku saja.

Thursday, September 20, 2018

Manusia Bumi

Tangerang, 20 September 2018


Kau dan aku hanya manusia-manusia bumi, yang dengannya ingin menikmati satu rasa yang utuh; bahagia namanya

Entah berwujud dan berwajah seperti apa

Dalam hidup kita diberikan pilihan-pilihan, termasuk dengan bahagia itu sendiri

Kau lebih bahagia mana, terjatuh atau bangkit, atau keduanya

Pilih saja satu jalan dimana kau tidak akan menemui sesal

Sebab, air mata lebih mudah jatuh karenanya

Jadi.. pejamkan mata dulu, renungkan

Apa diri menjadi manusia seutuhnya, dengan pilihan-pilihan yang Semesta berikan.

Monday, July 9, 2018

Temu

Bibir ini mengelu, diam terpaku 
Sementara jantung terus saja berdegup kencang 
Menatap kedua bola mata yang menatapku tajam
Tatap matamu masih sama 
Menyiratkan kerinduan yang teramat dalam 
Aku bisa apa?

Aku hanya manusia bumi,
sedangkan kau ialah penduduk Kahyangan
Aku hanya aku, 
tidak lebih dari seorang gadis kecil yang kau temui dipersimpangan jalan 
menuju Kahyangan

Baiknya, masuklah dulu sebentar 
Lepaskan segala rindumu 
Aku akan membiarkanmu malam ini

Namun, 
Dengarkan aku
Janganlah kau menetap esok,
pun seterusnya 
Jangan kau pergi ke bumi, lagi
Meninggalkan tempat bidadarimu tinggal 
Sebab bumi hanya 
membawa kenestapaan
Aku tidak ingin kau merasakan penderitaan ini

Bagaimana mungkin kau bisa mengalami penderitaan tiada akhir ini,
sedang kau mendaptkan kenikmatan dan kecukupan tiada tara dari asalmu tinggal?
Di Kahyangan

Maka dari itu, 
Untuk malam ini saja,
masuklah dulu. 
Pulanglah lagi setelah melepas rindumu 

Sebab bumi akan kemarau.


Sunday, June 17, 2018

Waktu

Baru saja ku rapihkan buku-buku yang tergeletak di atas meja kamarku. Ada satu buku yang sangat mencolok, ia buku jurnal yang pernah diberikan teman SMAku sebagai hadian diulang tahun ke 17 tahun.

Ku buka lembar demi lembar, bait demi bait dalam tulisan yang sudah sangat usang itu. Ku lihat pula tanggal dan tahun yang selalu ku bubuhkan ketika menulis isi jurnal itu.

Kau..
Meski sejauh waktu ku berjalan, terus menjadi diksi dalam tiap bait tulisanku. Seperti nafas yang terhembus tiap hari dalam hidupku. Sudah berapa lama?
Bertahun-tahun lamanya..

Ku tutup buku jurnal itu. Ku temukan ponselku berdering. Ah.. ada pesan rupanya. Iya. Pesan darimu.
Aku baru saja menyudahi hubungan yang begitu pelik. Lalu kau tiba-tiba masuk kembali dalam hidupku menawarkan sebuah jalan bernama masa depan. Masa depan yang didalamnya ada kau dan aku. Memulai kembali sesuatu yang baru, katamu. Padahal dulu, jauh sebelum hari ini kau dan aku pernah berbagi rasa, cerita yang kemudian berakhir begitu saja.

Ya.. baik dulu maupun sekarang kau mampu membuatku goyah. Berkali ku katakan, masa depan itu begitu mustahil. Kau bilang doa yang tulus bisa begitu manjur terkabul. Katamu kau memintaku dalam doamu.

Lantas.. sambil berdoa kau membuat komitmen pula dengan seorang wanita yang entah siapa aku pun tidak mengenalnya. Katamu, selama aku belum yakin kau akan bermain memanjakan diri dengan yang lain. Menurutmu bagaimana aku bisa yakin?

Sudahlah..
Menyerah saja, kau dan aku selalu berada di atas benang tipis yang selalu bisa membuat kita berdua terjatuh kapan saja. Sudah ku katakan, berhenti saja. Jangan memintaku, jangan berdoa untukku dalam hidupmu. Aku benar-benar ingin mengakhirinya.. Dari tahun ke tahun doaku selalu sama, untuk kebahagiaanmu yang tanpaku. Berbahagia dengan yang lebih baik dibanding aku.

Aku tidak ingin, kau berlari tunggang langgang begitu tau aku bukan milikmu. Jadi, bisakah berhenti saja?

Tuesday, June 12, 2018

Secuil Mimpi

Diantara mimpi mimpi itu, ada mimpi dimana aku bisa bersandar dibahumu sambil bercerita tentang gaduhnya pasar yang kudatangi sebelum setibanya kau dirumah. Sambil menggenggam tangan juga mendengarkan detak jantungmu.

Diantara mimpi mimpi itu, ada mimpi dimana aku bisa bernyanyi setiap waktu untuk sekedar menghiburmu dari hari yang sulit. Sambil mengajakmu bernyanyi dan berdansa bersama.

Sambil menyesap teh hangat, ku siap mendengarkan celotehmu, melihat kedalam bola matamu tentang sejuta perasaanmu saat itu.

Aku sudah tidak lagi menjadi warga kahyangan. Telah diusirnya aku dari sana. Maka dari itu begitu banyak mimpi yang tiba-tiba muncul ketika memikirkanmu.

Ironi, kataku.
Tiap kali memikirkan mimpi kecil yang diam-diam mulai memenuhi pikiran. Tidak bisa ku bilang tidak, sebab hati mudah terluka.

Sembari bermipi aku berdoa pada semesta, mengabulkan segala harap, mengabulkan segala doa, agar bisa terus bersamamu dalam suka dan dukaku.

Friday, June 1, 2018

Waktu Pertama Dan Hari Ini

Kamu tahu saat pertemuan pertama kita setelah sekian lamanya itu?
Aku tahu, bahwa kau ingin menarikku masuk ke dalam hidupmu.
Aku tahu, kau begitu penuh ragu waktu pertama kau rengkuh tubuhku.
Aku tahu, kau hanya butuh disembuhkan dari luka yang masih mengaga begitu lebarnya, dari duka berkepanjangan, dari hasrat yang masih terpendam dalam dadamu.
Aku tahu.
Siapa bilang aku tidak tahu?

Tapi, aku adalah manusia yang penuh maaf.
Begitu penuhnya aku lupa luka apa saja yang telah tertinggal pada diriku.
Aku hanya ingat sakitnya saja, aku hanya ingat bekasnya saja.

Buatku, tidak apa-apa.
Tidak apa-apa karena aku pasti akan sembuh.
Lukaku hanya luka kecil yang tidak kentara, bahkan dari raut wajah maupun sorot mataku.
Mana mungkin kau dapat melihatnya sedang kau sibuk menata hatimu sendiri?

Tapi, apa kau tidak lelah dengan kepura-puraan kita selama ini?
Apa karena kau juga sulit melepas egomu itu?
Kita tidak bisa merubah sesal yang sudah terjadi.
Aku juga tidak ingin menyesal, tidak sayang.
Mencintai dengan duka berkepanjangan apa tidak membuatmu jengah? Sedang kau dengan terusnya membohongi diri.
Mengiyakan segala ingin, demi memenuhi hasrat ego pada diri.

Bolehkah aku jujur?
Aku lelah..
Benarkah aku yang dibutuhkan? Untuk apa? Untuk mencintaimu? Atau menerima semua egomu?

Your Twinflame

Mungkin, pada saatnya nanti ketika kau mengetahui bahwa jalanku bukan lagi ke arahmu, kau akan menangis dengan kencang. Memaki jalan hidupmu...