Tuesday, November 5, 2019

Ijinkan

Aku tau, kau ialah sesuatu yang hanya dapat dibayangkan dalam benak, cenderung mustahil, bahkan. Tidak akan ada yang mengucapkan selamat karena jatuh hati padamu.
Hanya bencana, katanya.
Tapi ijinkan aku mencintaimu dengan caraku, yang dengan heningnya mendoakan hal-hal baik terjadi dalam hidupmu, mengisyaratkan pagi sebagai awal mula rindu itu berasal. Sebab karenanya usaha yang kau jalani jadi terasa menyenangkan.
Ijinkan aku mencintaimu dengan caraku, yang dengan bisingnya deru kendaraan juga debu yang berterbangan ke sana kemari, menjadi pertandaku bahwa siang memulai usahaku tuk memenuhi kata temu yang hampir semu.
yang di tengah teriknya siang menyengat, dengan bisingnya orang-orang silih berganti berdatangan dengan macam-macam permintaan sebagai pertanda usahamu dalam mensejahterakan hidup yang fana.
Ijinkan aku mencintaimu dengan caraku, yang dengan datangnya purnama aku berdoa menitipkan salam kerinduan dari lubuk hati terdalam, membisikan segala doa, segala mantra berharap malam menentramkan hati yang gundah gulana. Sebab hidup selalu mengejar sampai ke gorong-gorong tergelap hati. Mantra yang dapat menenangkan hati dari pahitnya kenyataan, segala yang indah fana, segala yang indah nyata.

Thursday, October 24, 2019

Pada Suatu Hari

Katanya pada suatu hari perasaan akan tumbuh begitu saja

Berkembang seperti adonan kue yang awalnya hanya seonggok adonan, namun lama-lama mengembang menjadi makanan manis, enak ketika dimakan

Katanya pada suatu hari rindu akan mekar setelah bunganya menguncup

Mekar indah seperti mawar mengeluarkan wangi dan warna sangat cantik, namun ketika disentuh terasa perih karena durinya menusuk jari jemari

Padahal rindu harusnya bertemu, padahal cinta harusnya berbalas

Lalu mengapa Laila-Majnun mati dengan perasaan begitu menyayat, mengapa Sinta harus mati ditelan bumi sedang Rahwana juga mati kalah dilawan oleh Rama, mengapa Tunggul Ametung harus ditusuk oleh pengawal pribadinya sendiri dan Ken Dedes beserta Tumapel direbut oleh titisan Dewa, mengapa Dewa saja begitu keji seperti Rama dan Arok, mengapa pula takdir membawa engkau dalam hidupku?

Tidak ada jawaban yang bisa diberikan selain mencarinya, bukan?

Thursday, July 18, 2019

Kangen

Jauh dari kamu itu ngga enak. Aku harus nahan kangen terus. Padahal aku mau langsung liat mata kamu yang berbinar kesenengan liat aku. Terus abis itu jadi senyum cerah banget. Atau senyum malu-malu kayak bocah yang lagi ketemu sama orang baru.
Aku kangen ngobrol sama kamu. Aku kangen ngebahas banyak hal sama kamu. Ngobrolin hal-hal yang sebenernya aku ngga paham tapi aku seneng denger kamu antusias banget ceritanya. 
Aku kangen makan bareng sama kamu. Karena setiap makan bareng pasti kamu selalu selesai duluan sedang aku masih harus berjuang ngunyah makanan. Kamu pasti ngeliatin cara aku makan sambil senyum-senyum. Aku bilang kalau aku capek ngunyah, terus kamu godain aku dengan bilang mau ngunyahin makanan aku. 
Aku kangen dengerin lagu sama kamu yang udah pasti dengerinnya lagu-lagu genre kesukaan kamu. Meskipun begitu aku pasti ikut nyanyi bareng kamu walaupun selalu berawal dari ngobrol dulu. Kamu pasti tau kan aku seneng nyanyi apapun genre lagunya. Eh tapi kita udah sepakat deng kalau genre dangdut dan koplo bukan selera kita berdua. 
Aku kangen bangun pagi karena udah repot banget mikirin masak menu apa buat bikin bekel makan siang kita berdua. Sibuk menimang-nimang rasa supaya rasa di makanan yang aku buat untuk makan siang kita bisa pas. Karena jelas selera lidah kita berdua beda. Aku lebih suka masakan asin gurih sedang kamu lebih suka makanan yang ada unsur rasa manisnya. Dan kamu pasti hapal deh, menu favorit yang sering aku masak itu tumis buncis pakai telur dadar atau tahu goreng atau ikan asin. Menu paling sederhana tapi yang paling mewah yang pernah aku buat, buat kamu. 
Beberapa di atas. Cuma menjadi beberapa hal yang aku kangenin dari kehadiran kamu. Kehadiran yang selalu aku bilang, sehangat cahaya matahari pagi atau cahaya matahari senja. Rasanya aku pengen menyandarakan kepalaku di bahumu itu. Sambil bersenandung atau bercerita mengenai cerita-cerita receh yang pasti cuma kamu tanggepin dengan bercandaan. Dan akhirnya kita berdua berakhir tertawa bersama. Menertawakan kebodohan masing-masing layaknya bocah berusia kanak-kanak. Masih ada banyak hal yang ngebuat aku jadi kangen banget sama kamu. Misal kayak aku lagi nyeduh kopi, liat langit dari lantai dua atau tiga tempatku bekerja, denger lagu Scorpion atau Mr. Big, dan masih banyak hal-hal remeh yang pada akhirnya ketika dilakuin malah ingetnya sama kamu. Bayangin, harus sekeras apa aku buat lupain kamu kalau ternyata hal-hal remeh pun penting semuanya ngingetin aku sama kamu?
Makanya, kalau ada orang yang nyuruh aku buat lupain kamu dan aku bilang iya tuh semuanya cuma Bullshit aja. Kenapa? Yaa gimana bisa ngelupain orang sebaik, seganteng dan sereceh kamu coba.
Hhhhh.. 
Kalau dipikir-pikir, kayaknya aku cuma mendramatisir keadaan aja deh. Padahal mungkin ngga semanis diatas. Padahal mungkin itu cuma pemikiran aku aja. Sedangkan kamu ngga berpikir sama kayak yang aku pikirin diatas. Yah.. kamu tau kan. Aku sayang sama kamu. Dan kayaknya sangat klise banget buat bilang sayang sama kamu. Ngga ada yang bisa aku lakuin selain berusaha ikut bahagia atas semua pilihan-pilihan kamu. Apapun pilihannya. Kamu harus tahu. Kalau melihat orang yang kita sayang bahagia, meskipun bukan dengan kita itu rasanya juga membahagiakan. Meskipun bukan dengan aku. Meskipun bukan dengan tangan-tangan aku air mata kamu terbasuh ketika malam-malam tiba. Bukan tangan-tangan aku yang menyeka keringet kamu ketika kamu lelah. Meskipun bukan aku.. Ngga apa-apa. Aku akan terus berdoa buat kebahagian kamu. Selalu. Selalu. Selalu. 

Titip rindu dari sini yah Blog. Salam dari Yusi. 
Tangerang, 18 Juli 2019  
 

Thursday, July 11, 2019

Kotaku, hari ini


Pada purnama kesekian aku menjatuhkan hati, 
berkejar-kejaran dengan waktu yang hampir habis
Sebagian pelupuk mataku masih tersisa bayang-bayang
Kerinduan, kepekatan
Aku tidak membutuhkan apa-apa
Aku hanya membutuhkan dekapan
Hangat seperti senja yang kemuning, keemasan.
Dikotaku masih dirundung pilu
Bagaimana denganmu?

Tuesday, April 23, 2019

Pulang

Hari ini aku kembali menjejakkan kaki ke tanah kelahiranku
Memulai hari seperti biasa 
Menghirup udara dan menyapa dunia layaknya hari-hari lalu 

Saat dalam perjalanan dari Yogyakarta ke Tangerang, aku melihat dunia dari atas sana untuk pertama kalinya. Ketika pesawat ingin mendarat ke bandara udara, aku bergeming sambil bertanya, "Aku pulang? Benarkah?"

Aku kembali berjalan menyusuri ruang dan waktu tanpa adanya gairah hidup. Aku kembali dengan semangat yang menghilang.
Pagi ini, aku berjalan sambil mendengarkan lagu-lagu kesukaanku. Menyapa orang-orang yang sudah menjadi tetangga baikku. Merasakan hangatnya mentari yang menyengat sekali seperti biasanya. Lagi-lagi, rasanya begitu hampa.

Aku jadi ragu. Sebenarnya dimana rumah bagiku untuk pulang. Rasanya sangat hampa. Tidak ada gairah seperti biasanya.Tidak ada debar yang menggembirakan seperti saat pertama kali aku menjejakkan kaki di tanah Yogya. Tidak ada tawa yang begitu lepas seperti saat aku berbincang ringan dan bercanda ria dengan kawan-kawan. Tidak ada pagi yang menyegarkan sesegar ketika aku membuka mataku di pagi hari pun di malam hari. 

Jadi, dimana sebenarnya rumah untukku pulang?

Friday, March 22, 2019

Purnama

Pada Purnama kesekian, aku merapalkan mantra-mantra
untuk mengetuk hatimu 
Lingkarannya yang penuh dan utuh ialah cerminan rinduku, sedang cahayanya menuntunku menujumu 
Mantra-mantra itu akan sampai, pada menit kesekian kau memejamkan mata
Bertemu dengan jiwa, yang sedang berkelana memeluk bayang-bayang 
Bayang-bayang kerinduan

Friday, March 8, 2019

Saat Jiwa Kita Bertemu

Kita bertemu saat malam
Saat gemintang terbentang luas diangkasa
Saat gemerlapnya lampu-lampu kota memancar 
Saat raga terlelap sedang jiwa berkelana 

Jejak kita menghilang 
Hanya desau bisikan kita terus terngiang-ngiang
Mengingatkan bahwa telah lama jarak menjauh 
telah lama terperangkap dalam rindu 

Seberapa jauh engkau melangkahkan kaki 
Kau terus hidup 
Terus hidup dalam memori, sanubari
Perasaan ini sudah begitu megahnya dalam sukmaku 
Hingga tak dapat ku bendung lagi

Semakin dalam ia.. 
Semakin dalam pula lukanya.. 

Kita bertemu saat malam 
Saat orang-orang sedang nyenyaknya 
Saat kau sedang memejamkan mata 

Jiwa kita bertemu di pelataran rumah kayu 
Kau mengenakan baju putih 
Begitu pun aku 
Kau berbisik padaku mengenai senja ditempatmu yang begitu syahdu 
Mengenai hujan yang terus luruh bersamaan dengan rasamu 
Sedang aku sibuk mendengarkan sambil menenggelamkan diri dalam matamu 
Aku merindukanmu 
Bisikku kala itu
Kau tersenyum, hangat seperti biasanya 
Tidak ada kalimat lain yang terlontar kecuali hembus nafas, angin, dan suara dedaunan kering 
Mata kita bertemu.. bibirmu yang ranum masih saja bungkam 
Sedang kau maupun aku masih saja terperangkap dalam tatapan yang saling meghujam 
Saling membahasakan kerinduan 
Saling membahasakan tentang cinta 

Your Twinflame

Mungkin, pada saatnya nanti ketika kau mengetahui bahwa jalanku bukan lagi ke arahmu, kau akan menangis dengan kencang. Memaki jalan hidupmu...