Wednesday, March 8, 2017
BFF
Sahabat paling baik sedunia.
Aku ingin sekali membalas tulisan-tulisanmu untukku. Hanya saja waktu tidak pernah berpihak padaku. Hiks. Baru kali ini lagi aku memiliki kesempatan, jadi silahkan dibaca yah :')
Aku senang sekaligus bahagia, karena kukira selama ini kamu tidak pernah menganggapku se-spesial itu. Tiap kali membaca, aku selalu merasa terharu. Terima kasih. Sudah menganggapku sahabat baikmu bek. Iya, memang tidak ada yang kekal di dunia ini. Begitu juga dengan kita. Tapi harapku ialah kita selalu memiliki benang untuk tetap tersambung. Setipis apapun benang itu. Tidak apa, asal aku bisa tetap mendengar, membaca semua cerita-ceritamu yang seringkali membuatku takjub.
Aku senang sekaligus bahagia, kalau kecintaanku pada sastra dan juga seni membuatmu berkembang jauh lebih baik melebihi aku. Setidaknya aku merasa diriku berguna. Terima kasih telah mengingatkanku pernah melakukan hal baik. Jujur, aku sedang kehilangan arah. Ingin sekali berbagi cerita lagi, cerita-cerita yang sering ku pendam sendiri karena entah harus berbagi dengan siapa. Aku juga tidak ingin cerita kita hanya tentang itu-itu saja. Mengenai firasat buruk, mengenai hal-hal yang sering kita bahas.
Aku senang sekaligus bahagia, kalau aku selalu menjadi segala yang baik untukmu. Harapku selalu sama, semoga harapmu dan harapku akan terus menjadikan kita tetap tersambung, seperti yang kau bilang dulu. Terima kasih, berkat dirimu aku merasa berguna :)
Tertanda,
Perempuan yang banyak khayal.
Sunday, February 19, 2017
Rindu
Sudah lama aku memenjarakanmu
Dalam puisi-puisiku
Dalam bahasa paling kalbu
Menyiratkan duka paling lara untukmu
Ah..
Rasanya kau dan aku tak pernah memiliki jalan yang searah
Kau selalu ke barat
Sedang aku selalu ke selatan
Berjalan, sambil menunggu
Ilalag hilang di pinggir jalan
Kau tak tau seberapa lama aku berdiam di persimpangan jalan
Dengan harap kalau saja ada pertemuan
Kalau saja benang merah itu masih tersisa
Tiap kali ku kembali
Pada keramaian
Pun kesepian
Harapku ialah temu, meski hanya bayangmu
Meski hanya punggungmu
Katakan padaku
Betapa kau rindu binar mata
Juga hangat peluk di tengah hiruk pikuk dunia
Dengan begitu aku akan berlari
Pergi mendekap
Tubuhmu
Maka kau akan tau betapa ku kekalkan rindu begitu dalam di relung hati
Menyemayamkan segala pedih
Maka janganlah kau sambut kicauan burung-burung pantai
Sebab cinta ialah tempatmu pulang
Friday, February 17, 2017
Inang Sahara
Saturday, February 4, 2017
Hilang-mu
Sunday, January 29, 2017
Tidak Ada
Duka
Saturday, January 14, 2017
Jendela Kesedihan-ku
Aku ingin memuisikanmu
Lewat semilir angin
Lewat jalan-jalan sunyi
Pun ramai di malam hari
Aku ingin memenjarakanmu
Dengan jeruji besi
Dengan baja yang begitu kuat
Aku ingin melipat segala sejarahmu
Membakar
Membuang
Menggantikannya dengan yang baru
Kau yang baru dengan puisi-puisiku
Melalui tinta yang ku teteskan di atas dedaunan kering
Basah
Menjadikannya cerita baru nan utuh
Kemudian aku berlari
Setelah mengintip dari balik jendela
Bahwa kau tlah berubah
Jendela yang menembus masa depan yang mulanya ku ciptakan sendiri
Dengan pena
Bait demi bait
Pagar dedaunan
Kau terdiam disitu
Menungguku di balik jendela kasat mata
Memohon kembaliku
Hanya aku memandangimu dari kejauhan masa depan
Tak dapat kau lihat
Pun menengok barang sepersekian detik
Kemudian,
aku pergi lagi menjalani pedih perih duka tiada ujung
Mendendangkan alunan kesepianku sendiri
Tanpa tanganmu yang jauh di balik jendela itu
Aku ingin kembali
Mencintaimu dengan utuh
Memeluk cintamu
Mendekap segala rindu
Lalu aku berlari lagi
Kembali pada jendela kasat mata
Pada tempat biasa melihatmu dari masa depan
Kau pun tak ada
Tidak di tempat biasa kau menungguku
Sambil menangis layaknya bayi baru keluar dari rahim ibu
Aku menangis sejadi-jadinya
Aku mengelu sepedih-pedihnya
Aku tak bisa kembali lagi
Your Twinflame
Mungkin, pada saatnya nanti ketika kau mengetahui bahwa jalanku bukan lagi ke arahmu, kau akan menangis dengan kencang. Memaki jalan hidupmu...
-
Hujan rintik-rintik Deras kemudian Angin kencang di luar Aku gigil Lampu rumah mati Sembunyi aku dibalik selimut hangat Samar-samar ku deng...
-
Aku menulis ini setelah melewati hari dengan bertemu dengan sahabat-sahabatku. Kami berdiskusi -lebih tepatnya diberikan nasihat, dan konsul...
-
Mungkin, pada saatnya nanti ketika kau mengetahui bahwa jalanku bukan lagi ke arahmu, kau akan menangis dengan kencang. Memaki jalan hidupmu...
